Kamis, 20 Jun 2019
  • Home
  • Headlines
  • 4 Ahli Jadi Saksi Memberatkan Emak-emak Kampanye Hitam 'Jokowi Legalkan LGBT'

4 Ahli Jadi Saksi Memberatkan Emak-emak Kampanye Hitam 'Jokowi Legalkan LGBT'

admin Sabtu, 18 Mei 2019 08:40 WIB
detikcom
Emak-emak kampanye hitam ke Jokowi
Karawang (SIB) -Citra Widianingsih, Engkay Sugiyanti, dan Ika Feranika kini duduk di kursi pesakitan. Mereka melakukan kampanye hitam dengan menyebut Jokowi akan melegalkan LGBT. Ketiganya tidak dikenakan UU Pemilu, tapi UU ITE.

Dalam berkas dakwaan yang dikutip, Jumat (17/5), jaksa memasukkan empat ahli untuk menguatkan dakwannya. Salah satunya ahli Bahasa Indonesia, Asisda Asri Putradi. Bahasa yang dianalisa yaitu pernyataan Citra-Engkay-Ika yang direkam dan diviralkan di medos, yaitu:

Tidak akan mendengar suara azan walau bagaimanapun juga abah. Itjima ulama pilihannya. Suara azan tentu ada. Tapi nanti tidak bakal ada. 2019 kalau dua periode nggak bakalan ada. Tidak akan ada suara azan, tidak akan ada anak-anak yang mengaji, tidak akan nada yang menggunakan kerudung. Perempuan dengan perempuan diperbolehkan menikah, laki-laki dengan laki-laki diperbolehkan menikah, begitu.

Setelah itu, Citra mem-posting video tersebut dengan caption di akun Twitter-nya:

Masuk di kawasan merah, sesulit apapun akan kita putihkan. Si abah ini, Dy tidak tahu berita terbaru dan nggak mengerti dengan kebijakan kebijakan apa yang bakal diresmikan 01 jika menang lagi, semoga tercerahkan ya bah.

"Hal yang dibicarakan oleh kelompok perempuan (para terdakwa) kepada seorang laki-laki (saksi Suparjo) itu dapat dikatakan mengandung ujaran kebencian. Hal ini dikarenakan dalam dialog di atas terdapat ajakan yang bersifat menyuruh bahkan cenderung memaksa. Argumen yang dipakai mengajak untuk tidak memilih Jokowi dalam kronologi di atas dibangun melalui hal-hal yang bersifat negatif dan tidak baik," kata Asisda yang tertuang dalam dakwaan.

Adapun menurut ahli ITE, Dr Bambang Pratama menyatakan tindakan yang dilakukan oleh pemilik akun Twitter bernama xena the warior princess/@citrawida5 bisa dikatakan telah melakukan transaksi elektronik. Akibat unggahanitu, setiap orang dapat melihatnya. Selain itu, orang yang terhubung dengan jaringan Internet juga bisa melihatnya.

"Hal ini juga bisa ditunjukkan dengan jumlah orang yang melihat video tersebut di atas sejumlah 13.1 views, yang mana artinya telah ada sebanyak 13.000 orang lebih yang telah menonton video tersebut di atas," ujar Bambang.

Sedangkan menurut sosiolog Dr Trubus Rahardiansyah, Citra-Engkay-Ika merupakan anggota kelompok PEPES yang bersifat in group. Mereka merasa menjadi anggotanya, bekerjasama dan saling berinteraksi sosial yang terbangun keterlibatan perasaan yang mengharapkan pengakuan, kesetiaan, dan pertolongan.

"Kelompok PEPES merupakan kelompok sekunder yang jumlah anggotanya banyak," ujar Trubus.

Lalu bagaimana menurut ahli agama Nurul Irfan? Menurutnya, pernyataan Citra-Engkay-Ika tidak pernah peduli dengan adanya fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Permuamalah Melalui Media Sosial. Yang di antaranya menyebutkan bahwa tidak boleh menyebarkan informasi yang berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis yang tidak layak sebar kepada khalayak.

"Kasus ini sebaiknya tetap dilanjutkan dan diberikan sanksi hukum dalam rangka menciptakan efek jera bagi masyarakat, agar tidak mudah merekam dan mengunggah video-video sejenis ini yang justru kontraproduktif bagi ketenangan dan kedamaian masyarakat," cetus Irfan. (detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments