Selasa, 20 Agu 2019

2019, Tahun Terpanas dalam Sejarah Manusia

* Peneliti Mengingatkan akan Terjadi El Nino
admin Minggu, 07 Juli 2019 12:18 WIB
Ilustrasi
Jakarta (SIB) -Bulan Juni telah habis. Hujan semakin jarang datang. Suhu udara pun terasa makin panas. Rupanya, peneliti telah memprediksi tahun 2019 menjadi tahun terpanas dalam sejarah manusia.

Para peneliti juga telah mengingatkan tahun 2019 akan terjadi El Nino. Catatan data dari Climate Predicition Center di National Oceanic and Atmospheric Administration hingga akhir Februari, 80% El Nino penuh telah dimulai.

Jurnal Geophysical Research Letters juga memperkuat fakta yang menyatakan bahwa dampak El Nino semakin memburuk di beberapa tahun terakhir akibat perubahan iklim. Dampaknya pun akan semakin parah apabila suhu Bumi terus meningkat.

"Dengan El Nino, sangat mungkin 2019 menjadi tahun terpanas," ujar Samantha Stevenson, ilmuwan iklim di University of California, Santa Barbara.

Tahun-tahun terpanas di Bumi telah terjadi dalam empat tahun terakhir, yaitu 2015-2018. Dipicu oleh peningkatan emisi karbon dioksida yang memerangkap panas dan telah melebihi rekor.

Iklim Bumi lebih hangat dari rata-rata abad ke-20 selama 406 bulan terakhir. Artinya, tidak ada orang di bawah usia 32 tahun yang pernah mengalami dingin seperti di masa tersebut.

"Pemanasan yang meningkat akan memengaruhi kesehatan manusia, serta akses ke makanan dan air tawar. Itu juga bisa menyebabkan kepunahan hewan dan tumbuhan, merusak kehidupan terumbu karang dan makhluk laut," kata Elena Manaenkova, Sekretaris Jenderal World Meteorological Organization (WMO).

BAHAYA PANAS
Dunia yang menghangat berarti akan ada kerusakan ekstrem dan cuaca berbahaya seperti gelombang panas, kebakaran, kekeringan, banjir dan badai ganas.

Pada 2018, ada lebih 70 badai tropis di Belahan Bumi Utara. Jumlah ini meningkat dari sebelumnya yang hanya berjumlah 53. Badai kuat dan merusak ini diketahui membawa kehancuran di Kepulauan Mariana, Filipina, Vietnam, Korea, dan Tonga.

Gelombang panas 2018 juga menurunkan produktivitas manusia secara signifikan. Sebab, orang-orang harus berada di rumah selama beberapa hari karena terlalu berisiko jika beraktivitas di luar ruangan. Sebanyak 153 jam kerja musnah akibat gelombang panas tahun ini.

La Nina, kebalikan dari El Nino, membentuk siklus alam yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga tiga tahun. Ketika itu terjadi, pola cuaca di seluruh dunia akan terpengaruh.

Menimbulkan berbagai dampak pada hasil panen, kelaparan, risiko kebakaran, pemutihan karang, dan cuaca ekstrem.

Peneliti mengatakan, dampak dari El Nino maupun La Nina saat ini, lebih parah dari 20 tahun sebelumnya akibat suhu yang menghangat.

Ketika El Nino membawa hujan dan suhu yang lebih dingin di selatan AS, itu akan membawa panas dan kekeringan di Australia, serta musim salju yang kering di tenggara Afrika dan utara Brasil.

Menurut Stevenson, peristiwa El Nino akan menyebabkan kondisi dingin dan basah di AS, berisiko banjir. Sementara itu, La Nina akan meningkatkan bahaya kebakaran dan kekeringan.

Meski dampak peristiwa El Nino dan La Nina diperkuat oleh suhu yang lebih hangat, tapi belum diketahui apakah perubahan iklim juga akan memengaruhi kejadian di masa depan.

Suhu Juni Terpanas
Sementara itu, menurut data dari European Union's Satellite Agency, suhu pada bulan Juni 2019 melebihi 2C (3.6F) dari batas rata-rata. Dengan begitu, ia menjadi bulan dengan cuaca terpanas dalam sejarah.

Fakta ini tidak mengejutkan penduduk Prancis yang pada 28 Juni suhu nasionalnya melebihi 1.8C dari temperatur normal. Hal yang sama juga dirasakan oleh negara-negara di Eropa Tengah.

Tidak hanya itu, pada awal bulan Juni, Greenland kehilangan dua miliar ton esnya dalam satu hari. Kota Delhi bahkan mencapai suhu tertingginya yang lebih dari 40C.

The European Center for Medium-Range Weather Forecasts (ECMRWF) menggunakan data dari Copernicus Climate Change Service, menyatakan bahwa suhu rata-rata tahun ini, 0.1C lebih tinggi dibanding Juni 2016. Sebelumnya, Juni 2016 memegang rekor sebagai bulan dengan suhu terpanas.

Banyak laporan menghubungkan fenomena ini dengan krisis iklim akibat ulah manusia yang akhirnya berkontribusi pada cuaca ekstrem.

World Weather Attribution, sebuah proyek yang melibatkan ahli meteorologi Eropa telah menghasilkan laporan setebal 32 halaman tentang gelombang panas di Prancis.

Di antara laporan-laporan tersebut, temuan utamanya menyatakan: "Gelombang panas lebih sering terjadi akibat pemanasan global yang disebabkan manusia".

Catatan satelit hanya mampu melacak dari 40 tahun lalu. Peneliti memiliki catatan komprehensif tentang suhu darat dan laut sejak awal abad ke-20.

Catatan proksi berdasarkan inti es, lingkaran pohon, dan stalagmit tidak cukup tepat, atau cukup luas, untuk memberi kita perkiraan tentang suhu global bulanan sebelum waktu tersebut.

Meski begitu, ia mampu menunjukkan bahwa suhu rata-rata pada masa itu jauh lebih dingin dibanding sekarang. (Nationalgeographic/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments