Minggu, 09 Agu 2020
  • Home
  • Headlines
  • 170 Petani Deliserdang Sudah 8 Hari Berjalan Kaki 300 Km Tiba di Rantauprapat

170 Petani Deliserdang Sudah 8 Hari Berjalan Kaki 300 Km Tiba di Rantauprapat

Koordinator Aksi, Aris Wiyono: 17 Agustus Tiba di Istana Negara
Minggu, 05 Juli 2020 09:28 WIB
Foto: Dok/Aris Wiyono

TIBA: Seratus tujuh puluh petani dari Desa Simalingkar A dan Desa Sei Mencirim Kabupaten Deliserdang yang menggelar aksi jalan kaki menuju Istana Negara, Jakarta, tiba di Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Mereka sudah 8 hari berjalan kaki dan menempuh perjalanan 300 kilometer serta melalui 7 kabupaten/kota, mulai dari Medan-Labuhanbatu, Jumat (3/7) malam.

Rantauprapat (SIB)
Petani dari Desa Simalingkar A dan Desa Sei Mencirim Kabupaten Deliserdang yang menggelar aksi jalan kaki menuju Istana Negara, Jakarta, tiba di Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Mereka sudah 8 hari berjalan kaki dan menempuh perjalanan 300 kilometer, serta melalui 7 kabupaten/kota, mulai dari Medan-Labuhanbatu.

"Aksi jalan kaki menuju Istana Negara ini sudah 8 hari dan menempuh jarak 300 kilometer. Alhamdulilah, semua peserta masih sehat," sebut koordinator aksi, Aris Wiyono melalui WhatsApp saat dihubungi SIB, Sabtu (4/7) sore.

Peserta aksi yang hendak meminta presiden memberikan legalitas tanah mereka agar petani punya kepastian hukum dan tidak selalu tergusur. Sebanyak 170 orang petani itu terdiri dari pria dan wanita, usia 21 tahun sampai 70 tahun.

Aris memerkirakan mereka akan tiba di Istana Negara pada 17 Agustus 2020. Selama dalam perjalanan belum ada kendala. Mereka sangat serius memperjuangkan tuntutannya, sebab sebagai petani juga ingin menikmati kemerdekaan.

"(Diperkirakan) Agustus. Pas Indonesia memperingati kemerdekaan dan seharusnya petani juga ikut merdeka," sebutnya.
Mereka berencana bertemu Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan penderitaan yang sedang mereka alami, digusur paksa pihak PTPN II dari lahan dan pemukiman mereka.

"Sebenarnya konflik ini sudah terjadi sejak tahun 70-an. Penggusuran terakhir terjadi pada Maret tahun 2020. Semua diusir, yang sudah punya sertifikat hak milik (SHM) pun ikut digusur," katanya kepada wartawan.

Menurut Aris, penggusuran paksa itu merupakan tindakan semena-mena yang berdampak luas pada ribuan jiwa penduduk 2 desa tersebut.

"Itulah makanya kami rela berjalan kaki untuk mengadukan nasib kami ke Presiden Jokowi," ungkapnya.
Saat tiba di Rantauprapat, Jumat (3/7) malam, mereka disambut di GOR oleh petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Labuhanbatu, pihak kepolisian dan Puskesmas Janji untuk dilakukan rapid test, mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Setelah semua dinyatakan negatif, mereka dipersilakan istirahat di Gedung Olahraga tersebut. Mereka memasak ubi jalar di situ. Setelah istirahat 2 hari, mereka akan melanjutkan perjalanan pada Senin (6/7) pagi.

Sementara perwakilan dari LBH Agraria Labuhanbatu Yanto Ziliwu, memberikan bantuan makanan kepada peserta aksi.
"Kami menyediakan makan malam dan sarapan untuk mereka," katanya.

Bantuan juga datang dari seorang warga, berupa susu beruang 180 kaleng. Hendra Kobain Harahap mengaku tersentuh hatinya mendengar aksi jalan kaki menuntut keadilan oleh petani Deliserdang yang juga diikuti beberapa lansia.

"Walau berasal dari daerah lain, mereka ini kan juga saudara kita sebangsa yang sedang memperjuangkan haknya. Jadi, sepantasnyalah ditolong," ujarnya. (BR6/d)

T#gs 17 Agustus Tiba di Istana Negara170 Petani DeliserdangAris WiyonoKoordinator AksiRantauprapat
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments