Selasa, 10 Des 2019

Ratapan Ibu yang Puteranya Tewas Dituduh Begal

"Di mana Keadilan Ini,Anak Saya Tak Bersalah..."

redaksi Sabtu, 16 November 2019 11:42 WIB
Sib/Roy Surya Damanik
TUNJUKKAN FOTO: Mangasi Tua Sijabat dan Asni Situmorang menunjukkan foto anaknya semasa hidup di HP, usai diwawancarai wartawan di rumahnya Jalan Tirtosari Ujung Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Kamis (14/11).

Medan (SIB)
Awan gelap bergelayut di kawasan Jalan Tirtosari Ujung Kelurahan Bantan Kecamatan Medan Tembung.Rona kesedihan masih terpancar di raut wajah seorang ibu saat ditemui para wartawan di kediamannya, Kamis sore (14/11).


Di rumah kontrakannya yang sederhana itu ia duduk termangu beralaskan tikar bersama suaminya sembari memandang foto putranya.


Asni Situmorang (62) dan suaminya Mangasi Tua Sijabat (62) masih memendam duka lara setelah putra bungsunya Robinson Sijabat (16) yang dituduh pelaku begal tewas dianiaya sejumlah warga, Minggu (10/11).


"Kami tak memiliki apa-apa. Makan aja kami diberi tetangga dan keluarga. Saya mohon ada yang membantu mengungkap kasus ini," ujar Asni dengan suara bergetar, bola matanya berkaca-kaca seakan menggambarkan hatinya yang terluka.


Meskipun hanya sanggup bersedih mengenang kepergian anak kesayangannya itu, Asni dan Mangasi bersedia mengungkapkan kisah pilu hidupnya hingga maut menjemput puteranya.


Diungkapkan Mangasi, sebelum musibah menimpa anaknya, pada Minggu (10/11) sekira pukul 03.00 WIB Robinson mengambil uang mamanya sebesar Rp 10 ribu. Selanjutnya berjalan kaki menuju Jalan Bantan dengan membawa martil dan menumpangi becak motor (betor) dengan membayar ongkos Rp 10 ribu menuju Pasar 7/Simpang Jodoh, Kecamatan Percut Sei Tuan.


Robinson selama ini lanjutnya, tidak pernah mengambil uang ibunya. Jika tidak punya ongkos, anak bungsu dari 8 bersaudara itu justru datang ke kamar dan meminta kepada ayahnya.


Mangasi tidak terima dengan kepergian anaknya yang tewas akibat tuduhan yang tidak dilakukannya sama sekali. Diakuinya, anaknya tidak ada tamatan karena IQ rendah dan pendengaran kurang sehingga suaranya keras jika berbicara.


"Senin (11/11) siang saat anak saya hendak dimakamkan di Pulau Samosir, tiba-tiba dari mulutnya keluar buih warna putih.

Ini pertanda anak saya ingin kasus ini diungkapkan. Kami orang yang tidak mampu dan tidak mengerti soal hukum. Saya berharap kepada Bapak Kapolda Sumut, Irjen Agus Andrianto supaya mengetahui peristiwa naas yang menimpa almarhum. Kiranya kasus ini dapat terungkap," harapnya.


Sementara itu ibu korban, Asni Situmorang sebelumnya sudah menasehati anaknya agar tidak bekerja. Alasannya sepatu korban sudah rusak dan kakinya terluka.


"Sudah saya bilang ke almarhum agar tidak bekerja supaya besok membeli sepatunya. Namun anak saya tetap berangkat pergi bekerja. Biasanya saya bersama almarhum berangkat bersama untuk pergi ngecor. Di mana keadilan ini, anak saya tewas. Kami buntu soal hukum, makanya hanya bisa merenungi nasib anak kami," ratapnya.


Di sela-sela deraian airmatanya Asni tidak percaya anaknya pelaku begal. Diungkapkannya, jangankan membawa becak, bawa sepeda angin saja almarhum tidak bisa.


"Setelah jasad anak saya dibawa dari RS Bhayangkara Medan menuju rumah, saya melihat kepala belakang bengkak, dada depan sudah rata seperti patah/remuk, dagu berlubang, banyak luka-luka lebam dan sundutan api rokok di sekujur tubuh. Anak saya seolah-olah memang sengaja dibunuh," ujarnya sesenggukan. Beberapa jenak kemudian Asni duduk terpaku menatap foto buah hatinya. Matanya basah menerawangkan sinar kesedihan yang teramat dalam.


Asni yang merupakan tulang punggung di keluarganya setelah suaminya menderita sakit sangat berharap ada yang membantunya untuk mengungkap tabir kematian anaknya yang masih berusia muda tersebut.(M16/R8/d)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments