Kamis, 14 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Selain Disadap, Jokowi Juga Dipantau Lewat Alat Pelacak Sinyal Suara

Selain Disadap, Jokowi Juga Dipantau Lewat Alat Pelacak Sinyal Suara

Sabtu, 22 Februari 2014 10:58 WIB
Jakarta (SIB)- Gubernur DKI Jakarta Jokowi tak hanya dipantau lewat alat sadap saja. Dia juga dilacak lewat alat pelacak sinyal suara. Siapa pelakunya?
"Ya pakai sinyal suara juga," jelas kata pelaksana tugas Kepala Biro Daerah dan Kerja Sama Luar Negeri Heru B Hartono, saat berbincang, Jumat (21/2/2014).

Heru tak menjelaskan siapa pelakunya pastinya pelaku ini mengendalikannya di Jakarta. "Dia mobile," jelas Heru.

Pemprov DKI dengan tim antisadap sudah mengetahui siapa yang melakukan penyadapan itu. Pastinya orang ini selalu bergerak, tak hanya memantau di Menteng saja.

"Sekarang sudah disterilisasi," imbuhnya.

"Mungkin ada persaingan intelijen," canda Heru dengan tawa.

Alat sadap ditemukan tim Pemprov DKI di kamar tidur, ruang tamu, dan ruang makan. Alat sadap itu sudah diamankan dan disimpan Pemprov DKI.

 Balaikota

Jokowi mulai mengungkap lebih dalam aksi penyadapan terhadap dirinya. Dia mengatakan bahwa di kantornya juga ditemukan alat sadap.

"Hmmm, sudah. Ada," jawab Jokowi pendek sambil tersenyum, saat ditanya wartawan apakah ditemukan alat sadap di kantornya. Hal ini disampaikan Jokowi di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (21/2).

Jokowi langsung berlari kecil menjauhi wartawan dan masuk ke ruang kerjanya.

Sebelumnya, pria Solo ini mengaku tiga buah alat sadap ditemukan di rumahnya. Ketiganya ditempatkan di ruang makan, ruang tamu pribadi dan kamar tidur.

Meski kaget, Jokowi menyikapi hal ini dengan santai. Dia bahkan tak berencana melaporkan kasus ini ke polisi.

Tudingan sejumlah pihak yang mengatakan bahwa penyadapan ini hanya rekayasa, Jokowi membantahnya.

"Disadap ya disadap," kata Jokowi.

 Nggak Canggih

3 Alat sadap ditemukan di rumah dinas Jokowi telah dilakukan sterilisasi pada Desember 2013 lalu.

"Alat sadap itu nggak canggih, masih canggihan alat antisadap punya kami," kata pelaksana tugas Kepala Biro Daerah dan Kerja Sama Luar Negeri Heru B Hartono.

Heru memperkirakan, alat sadap itu ditaruh sudah agak lama. Bisa jadi sebelum 2013. "Ya nggak tahu kapan ditaruhnya, tapi bisa jadi sebelumnya (2013),"

Heru melanjutkan tim sterilisasi memang diminta Jokowi melakukan pembersihan. Tapi Heru tak menyebut apakah ada indikasi Jokowi merasa disadap, sehingga meminta dilakukan sterilisasi.

"Sekarang pokoknya sudah disterilisasi," tuturnya.

Banyak Dijual

Politisi PDIP Arif Wibowo menyebutkan jenis alat yang ditemukan sudah kuno.

"Sudah kuno itu alat sadapnya. Mungkin kalian juga punya. Itu banyak itu dijual di Glodok (pusat perbelanjaan elektronik di Jakarta). Jadi bukan alat yang canggih begitu," kata Arif.

Menurut Arif alat sadap itu ada yang berbentuk menyerupai alat tulis dan dipasang di ruangan dalam rumah Jokowi. Tetapi Arif belum mengetahui mengenai detail penyadapan tersebut.

"Kalau untuk detailnya saya tidak bisa sebutkan karena saya memang kurang tahu. Takutnya nanti malah asbun (asal bunyi) terus interpretasinya jadi yang aneh-aneh," tutur Arif.

Penyadapan ilegal merupakan tindakan yang seharusnya bisa dipolisikan. Apakah PDIP akan ke tahap itu?

"Ini saya belum tahu, lebih baik saya tidak komentar," jawab Arif.

Teknologi Lama

Roy Suryo, Menpora yang sebelumnya dikenal sebagai pengamat telematika, punya pendapat soal kabar penyadapan di rumah dinas Jokowi. Menurutnya, jika memang benar Jokowi menemukan alat sadap di rumah dinasnya maka  itu adalah hal biasa.

Namun jika yang ditemukan adalah alat sadap seperti yang disebutkan Jokowi maka itu adalah alat yang sudah ketinggalan zaman. Apalagi jika sampai ketahuan maka pemasangnya harus belajar lagi.

"Sekarang banyak alat sadap yang tidak harus ditempatkan di ruangan itu. Ada yang bentuknya seperti boom mikrofon atau senapan, yang ditempatkan di seberang gedung dan bisa nembus kaca. Kalau ada di situ (di ruangan yang sama -red), ya sudah teknologi lama. Apalagi kalau bisa ditemukan oleh yang disadap, ya harus belajar lagi tuh pemasangnya," ujar Roy kepada wartawan di Solo, Jumat.

Roy menilai jika memang Jokowi mengaku menemukan alat sadap, hal tersebut adalah hal yang biasa. Sebagai seorang pejabat maka semua pembicaraan di mana pun memang pasti akan direkam sehingga tidak perlu khawatir menyikapi penyadapan selama orang tersebut pejabat yang lurus.

Perkembangan alat sadap sendiri, lanjutnya, sudah sedemikian canggih dan mudah didapatkan di toko-toko elektronik di mana pun. Alat sadap itu bisa ditemukan dalam berbagai bentuk dan sulit dideteksi. Harganya juga relatif murah karena ada yang bia dibeli dengan harga ratusan ribu rupiah saja.

"Persoalannya adalah pada kewenangan menyadap. Dalam UU No 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi disebutkan jelas bahwa penyadapan hanya boleh dilakukan oleh institusi resmi. Kalau kasus korupsi ya oleh KPK. Kalau memang itu dilakukan institusi resmi ya sah-sah saja. Jadi tidak perlu terlalu khawatir. Tapi toh saya lihat Pak Jokowi yang biasa saja menanggapinya," lanjutnya.

Namun Roy enggan menjawab tentang kemungkinan keterlibatan staf rumah dinas Gubernur DKI Jakarta, karena Jokowi mengaku satu alat sadap itu ditemukan di ruang tidur yang dipastikan tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan tersebut. "Saya tidak akan terlalu jauh masuk seperti itu. Tapi sebenarnya juga tidak perlu panik kalau memang tidak ada apa-apa yang dilakukan," ujarnya.

Belum Terima Laporan

Kendati belum menerima laporan, namun Polri mengatakan sudah melakukan penanganan. Proses penanganan bisa lebih cepat bila Jokowi melapor.

"Untuk kasus Jokowi, beredarnya info di kalangan masyarakat itu telah terjadi penyadapan terhadap Gubernur DKI Bapak Jokowi, saya sudah koordinasi dengan Polda Metro Jaya, bahwa sampai saat ini belum ada laporan terkait info tersebut," ujar Kabagpenum Kombes Agus Rianto.

Hal itu disampaikan Agus di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Agus mengatakan pihaknya sudah melakukan langkah penanganan.

"Namun demikian, teman-teman yang berkompeten menangani hal itu, sudah melakukan langkah-langkah untuk nanti apabila memang hal tersebut dapat ditindaklanjuti dengan proses lebih lanjut. Tentunya ini akan mepercepat dan mempermudah penanganan oleh kita. Tapi yang pasti kita belum terima laporan terkait dugaan penyadapan tersebut," kata Agus.

Jadi, ada 2 cara Polri menangani kasus, mendapat laporan dari korban atau saksi atau proaktif oleh Polri. Namun Agus enggan menjelaskan apa yang sekarang dilakukan Polri merespons penyadapan Jokowi.

"Langkah-langkah yang diambil itu, tentu karena ini bicara teknis kepolisian banyak langkah untuk saat ini belum dapat saya sampaikan karena ini terkait teknik maupu proses yang dilakukan internal kepolisian dan ini nanti apabila memang diperlukan langkah lebih lanjut tentunya akan mempercepat," imbuh dia.

Bila Jokowi melapor maka Polri dengan terbuka akan menerima. "Ada dua cara bisa melakukannya seperti itu (menindaklanjuti kasus penyadapan), tapi kalau beliau merasa perlu membuat laporan pasti akan kita terima. Kita sudah siap, beliau pasti sudah mempertimbangkan hal-hal yang perlu dipersiapkan," bebernya.

Tak Mau Lapor

PDIP Perjuangan menilai penyadapan terhadap Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) adalah pelanggaran berat. Namun PDIP pun tak menindaklanjuti dengan melapor ke penegak hukum, karena Jokowi sendiri tak mempermasalahkannya.

"PDIP menyampaikan warning ke publik bahwa kader PDIP yang Gubernur DKI juga pernah disadap, tapi Pak Jokowi tak ingin mempermasalahkan atau melapor ke pihak tertentu," kata Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo.

Tjahjo memahami penyadapan tersebut sebenarnya adalah pidana. Tapi tak bisa berbuat banyak karena Jokowi sudah meminta untuk tidak dibesar-besarkan.

"Walau penyadapan melanggar hak privacy warga negara dan tidak dibenarkan, di negara demokrasi penyadapan adalah pelanggaran berat," katanya.
Tjahjo kemudian mengungkap bahwa tak hanya Jokowi yang diteror. Tapi Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri juga pernah mengalami dikuntit orang tak dikenal.

"Ibu Megawati juga pernah dikuntit orang tidak dikenal dari Jakarta sampai masuk ke rangkaian mobil Ibu Mega. Ini bentuk-bentuk teror politik yang harus kita lawan," pungkasnya.

Jangan Lebay

Anggota Komisi III yang membidangi masalah hukum, Ruhut Sitompul, ikut bicara soal isu penyadapan terhadap Gubernur DKI Joko Widodo. Menurut Ruhut, jika tidak dilaporkan ke polisi, maka isu penyadapan itu bisa jadi hanya bentuk pencitraan.

"Jokowi jangan lebay, nggak usah lagi pencitraan. Kalau memang merasa disadap, kenapa nggak lapor?" kata Ruhut saat dihubungi.

Ruhut membandingkan isu penyadapan Jokowi dengan yang terjadi terhadap Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono. Dia menduga isu penyadapan ini bentuk pencitraan karena Jokowi dan PDIP yang mengungkap soal penyadapan. Berbeda dengan isu penyadapan terhadap SBY dan Ibu Ani yang tak diungkap oleh Istana, tapi oleh pihak asing.

"Kalau kasusnya Pak SBY malahan Snowden yang mengungkap. Pak SBY dan Ibu Ani nggak pernah tuh ngomong sendiri. Kalau ini kan ngomong sendiri, kan lucu," ujarnya.

"Kita kan negara hukum, lapor saja ke polisi," imbuh politikus Partai Demokrat ini.

Alasan Tak Lapor

Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) tak luput jadi sasaran penyadapan. Lalu, kenapa dia begitu santai dan tak melapor ke polisi?

"Ya saya enteng saja. Wong (pembicaraan) nggak ada isinya. Nggak pernah ngomong apa-apa. saya terus terang ini, nggak usah digede-gedein," kata Jokowi.

Saat ditanyai apakah dia merasa privasinya terganggu, Jokowi juga mengaku tak berpikir ke arah itu.

"Nggak mikir, paling yang nyadap sekarang kecewa kok omongannya begitu-begitu saja," ucap Jokowi.

Jokowi juga mengatakan bahwa dirinya bukan sengaja melapor ke teman-temannya di PDIP.

"Kita memang tidak bicara pada siapapun, bahwa sekarang diungkap, (oleh) sekjen," katanya.

"Nggak lapor (ke PDIP), hanya cerita-cerita saja kok," imbuhnya.

Pria Solo ini juga mengaku tak tahu dan tak mau menduga-duga siapa yang menyadapnya. Dia mengaku berusaha berpikir positif dalam menyikapi hal ini.
"Saya selalu positif thinking, tidak mencurigai," ujar Jokowi.

Kok Skenario Politik

Sejumlah pihak menilai kasus penyadapan Joko Widodo (Jokowi) merupakan skenario politik PDIP menjelang Pemilu 2014 karena tak dilaporkan polisi. Saat ditanyai tentang hal itu, Jokowi tak ambil pusing.

"Skenario politik gimana, disadap kok skenario politik," kata Jokowi.

Jokowi tak mau menanggapi banyak tentang tudingan tersebut. Dia berulang kali menyampaikan bahwa dirinya tak ingin kasus penyadapan ini dibesar-besarkan.

"Disadap ya disadap," imbuhnya.

Dia juga tak berniat melaporkan kasus ini kepada polisi. Suami Iriana ini mengaku dirinya lebih memilih untuk santai dan melupakannya.

Pun ketika ruang privasinya dilanggar, Jokowi tak juga merasa terancam. Sebab, dia yakin pembicaraan yang dilakukannya di rumah tak ada yang penting.
"Paling yang nyadap sekarang kecewa kok omongannya begitu-begitu saja," ujarnya sambil tersenyum lebar.

Ekspresi Kaget Jokowi

Jokowi mengaku terkejut saat pertama kali dirinya tahu menjadi sasaran penyadapan. Saat bercerita kepada wartawan, dia memperagakan ekspresi terkejutnya sambil bercanda.

"Kaget saya," kata Jokowi.

Jokowi berkata sambil melompat tinggi. Sang gubernur benar-benar melompat, dan tangannya diangkat ke atas sambil tertawa.

Sejumlah wartawan yang mewawancarainya sontak tertawa melihat tingkah kocak Jokowi yang mengenakan baju koko putih berkalungkan sarung kotak-kotak merah lengkap dengan kopiah hitam.

Sejak awal, Jokowi selalu menegaskan dirinya memilih untuk santai menanggapi penyadapannya. Tudingan beberapa pihak yang mengatakan bahwa kasus penyadapannya hanya rekayasa juga tak diambil pusing.

Dia yakin si penyadap tak mendapat informasi penting dari alat yang dipasang di 3 lokasi di rumahnya. Meski begitu, Jokowi mengaku bahwa sejak ditemukannya alat penyadap itu, dia kini lebih sering mengecek rumahnya dengan alat detektor.

Bahkan para pekerja di rumah dinasnya kemudian mendapat briefing. Terutama mereka yang memegang kunci dan akses rumahnya yang terletak di Jalan Taman Suropati No 7, Menteng, Jakarta Pusat ini. (detikcom/ r)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments