Jumat, 05 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran
  • Home
  • Headlines
  • Bagaimana China Melewati Fase Puncak Wabah Corona ?

Juli, Kasus di RI Bisa Tembus 100 Ribu

Bagaimana China Melewati Fase Puncak Wabah Corona ?

* 10 Provinsi Kekurangan Faskes, Termasuk Sumut
redaksisib Sabtu, 04 April 2020 09:15 WIB
detiknews

Ilustrasi

Jakarta (SIB)
Fase puncak wabah Corona (Covid-19) di Indonesia diprediksi bisa menembus angka 100 ribu kasus. China, yang sudah melewati fase puncak, kasus Coronanya tak sampai menembus 100 ribu. Bagaimana caranya?

Badan Intelijen Negara (BIN) membuat permodelan terbaru mengenai penularan Covid-19. Hasil pemodelan ini diungkapkan langsung oleh Kepala BNPB Doni Monardo selaku Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC-19). Hasilnya cukup mencengangkan. Jumlah positif Corona di Indonesia pada Juli 2020 diperkirakan lebih dari 100 ribu kasus.

Permodelan tersebut diungkapkan Doni dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, yang digelar secara virtual, Kamis (2/4). Doni menayangkan data permodelan tersebut di layar.

“Estimasi jumlah kasus di Maret 1.577 masukan BIN. Ini relatif akurat. Estimasi akhir April 27.300, puncaknya pada akhir Juni dan akhir Juli,” kata Doni dalam rapat.

Dalam data itu disebutkan bahwa puncak kasus positif Corona terjadi pada Mei, dengan penambahan jumlah kasus dari April ke Mei sebanyak 68.144.

Berikut ini estimasi jumlah kasus positif virus Corona sebagaimana pemodelan BIN:
- Estimasi jumlah kasus di akhir Maret 1.577 (realitas 1.528, akurasi prediksi 99 persen)
- Estimasi jumlah kasus di akhir April 27.307
- Estimasi jumlah kasus di akhir Mei 95.451
- Estimasi jumlah kasus di akhir Juni 105.765
- Estimasi jumlah kasus di akhir Juli 106.287.

10 PROVINSI KEKURANGAN FASKES
Selain itu, juga terdapat 50 dari 100 kabupaten/kota memiliki resiko tertinggi dengan 49 persen penularan. Beberapa di antara 50 kabupaten/kota itu berada di Pulau Jawa.

Setidaknya 10 provinsi yang mengalami kekurangan fasilitas kesehatan (faskes) dalam penanggulangan COVID-19 termasuk Sumatera Utara. Selain itu Jawa Barat, DIY, Sulawesi Selatan, Bali, Kalimantan Timur, Papua, NAD, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. Kekurangan faskes ini termasuk SDM tenaga kesehatan, ruang isolasi tidak memadai, dan APD.

Namun Indonesia tidak sendirian. Negara-negara lain pun masih bergulat melawan virus Corona ini. Data yang dihimpun oleh situs CSEE Universitas John Hopkins per Jumat (3/4), menunjukkan saat ini posisi kasus Corona terbanyak diduduki Amerika Serikat dengan 245.213 kasus. Sedangkan Italia sebanyak 115.242 kasus, Spanyol 112.065 kasus, dan Jerman dengan 84.794 kasus.

Posisi keempat diduduki oleh China"negara pertama yang melaporkan kasus Corona pada Desember 2019"dengan 82.443 kasus.

Dengan kata lain, angkanya tidak menembus ratusan ribu, sedangkan di Indonesia justru angkanya diprediksi tembus ratusan ribu.
China telah melewati fase puncak Corona. Lantas, bagaimana cara China melewatinya?

Jika dilihat dari lonjakan jumlah kasus, puncak Corona di China bisa tampak pada sekitar Februari 2020.

Menurut media China, CGTN, Kamis (13/2), jumlah kasus terkonfirmasi virus Corona hingga Rabu (12/2) tengah malam waktu setempat mencapai 59.651 orang.

Provinsi Hubei, yang merupakan pusat wabah Corona, melaporkan adanya 14.840 pasien baru dalam satu hari, yakni pada Rabu (12/2) sehingga total kasus terkonfirmasi virus Corona di provinsi itu kini menjadi 48.206.

Komisi kesehatan Hubei melaporkan seperti dilansir CGTN, bahwa di provinsi tersebut tercatat 242 kematian pasien virus Corona hanya dalam satu hari, yakni pada Rabu (12/2). Ini merupakan angka penghitungan terbesar dalam sehari sejak wabah ini muncul.

Namun, sebelum kasus Corona terus melonjak, China lebih dulu melakukan lockdown. Dilansir Reuters, Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, menjadi kota pertama yang di-lockdown, yakni sejak 23 Januari. Penerbangan dari dan ke Wuhan ditutup. Di Wuhan, 58 juta orang hidup dalam karantina besar-besaran.

Pembatasan ketat dilakukan. Warga yang hendak melakukan perjalanan ke luar dan masuk wilayah yang di-lockdown harus menjalani pendataan. Jalur transportasi, termasuk tol, rel kereta api, dan transportasi umum, dinonaktifkan.

Kota lain di Hubei yang di-lockdown antara lain Huanggang dan Ezhou. Kemudian, lockdown secara parsial disusul oleh kota-kota lain di luar Provinsi Hubei, termasuk Liaoning, yang berpenduduk 41 juta jiwa, Anhui berpenduduk 62 juta jiwa, Jiangxi dihuni 46 juta jiwa, Beijing berpenduduk 22 juta jiwa, Shanghai berpenduduk 24 juta jiwa, dan Chongqing berpenduduk 30 juta jiwa.

Selain itu, sejak Januari pemerintah China telah menyiapkan sejumlah RS darurat untuk menangani para pasien Corona.

Hasilnya, jumlah pergerakan kasus baru Corona di China terus melandai pada Maret. Otoritas Provinsi Hubei untuk pertama kalinya melaporkan hanya satu digit kasus baru, yakni delapan kasus dalam sehari.

Seperti dilansir Reuters dan kantor berita Xinhua News Agency, Kamis (12/3), Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) dalam laporan terbaru menyebut total 15 kasus baru terkonfirmasi di wilayah China daratan sepanjang Rabu (11/3) waktu setempat. Angka itu menurun dari jumlah sehari sebelumnya, yang mencapai 24 kasus baru dalam sehari.

Dari 15 kasus baru yang dilaporkan NHC, sekitar delapan kasus di antaranya ada di Provinsi Hubei, yang menjadi pusat wabah virus Corona. Lebih spesifik lagi, delapan kasus baru di Provinsi Hubei itu semuanya ada di kota Wuhan, Ibu Kota provinsi, yang menjadi asal muasal virus Corona.

Melihat kondisi yang membaik ini, China pun mulai mengendurkan kebijakan lockdown-nya. Para staf medis yang bekerja di RS darurat pun mulai dipulangkan dan RS ditutup. China mulai kembali normal seperti sedia kala. (Detikcom/d)
T#gs 100 RibuBadan Intelijen Negara (BIN)COVID-19covid 19JakartaJuliKepala BNPB Doni MonardoProvinsiheadline
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments