Kamis, 12 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • Anggota DPRDSU Anggap Tim URC Mubazir, Bukan Solusi Atasi Virus Kolera Babi

Anggota DPRDSU Anggap Tim URC Mubazir, Bukan Solusi Atasi Virus Kolera Babi

Dinas Terkait di Daerah Seharusnya Jadi Ujung Tombak
redaksi Selasa, 12 November 2019 10:38 WIB
Meristation.as.com
Ilustrasi

Medan (SIB)
Anggota DPRD Sumut menganggap Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Pencegahan dan Penanganan Peredaran Virus Hog Cholera Babi hasil bentukan Pemprov Sumut mubazir dan tidak akan bisa maksimal memutus mata rantai penyebaran virus babi tersebut di sejumlah kabupaten/kota di Sumut.


Hal itu ditegaskan Sekretaris FP Demokrat DPRD Sumut Parlaungan Simangunsong dan anggota Komisi B Franc Bernhard Tumanggor kepada wartawan, Senin (11/11) di DPRD Sumut menanggapi Tim Unit Reaksi Cepat Tangani Virus Kolera Babi yang dibentuk Pemprov Sumut.


"Bagaimana bisa Tim Unit Reaksi Cepat bekerja maksimal, karena mereka berada di Kota Medan, sementara virus terus mewabah di 11 daerah. Contohnya beberapa hari lalu dalam rapat dengar pendapat Komisi B DPRD Sumut dengan Dinas Ketapangnak (Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan) masih tercatat 4.047 ekor babi mati di 11 kabupaten," ujar Parlaungan Simangunsong.


Tapi beberapa hari kemudian, tandas Parlaungan, kematian binatang berkaki empat ini mengalami lonjakan yang signifikan, yakni mencapai 5.800 ekor. Hal ini termasuk kegagalan Tim Unit Reaksi Cepat untuk memutus mata rantai penyebaran virus kolera babi tersebut.


"Jika benar virus kolera babi ini tidak ada obatnya, seperti yang dipaparkan Tim Unit Reaksi Cepat, apa gunanya dibentuk tim kalau hanya bisa melakukan pencegahan virus dengan cara sanitasi terhadap kandang dan pemberian vitamin, serta vaksin kepada ternak yang sehat," ujar anggota Komisi D ini sembari menegaskan, tugas yang diemban tim tersebut bisa dilakukan dinas terkait di kabupaten/kota.


Ditambahkan Franc Bernhard, yang dibutuhkan masyarakat saat ini anti virus kolera babi atau semacam obat penangkal virus mematikan tersebut, agar ternak-ternak mereka bisa terselamatkan, bukan Tim Unit Reaksi Cepat.


"Saat ini para peternak babi merasa resah dan was-was, kuatir babi-babi mereka terjangkit virus kolera. Seharusnya Pemprov Sumut dan kabupaten bisa memberikan obat penyelamat ternak babi mereka," ujar Franc Bernhard sembari menambahkan, sebenarnya yang menjadi ujung tombak penyelamat ternak babi masyarakat, yakni dinas atau instansi terkait di daerah.


Dalam kesempatan itu, Parlaungan juga mengingatkan semua pihak agar tidak mengkait-kaitkan kematian ternak babi ini dengan tujuan politik tertentu. "Kasus virus kolera babi ini murni penyakit ternak berkaki empat dan tidak ada kaitannya dengan gerakan pemusnahan ternak babi secara massal. Sekali lagi saya tegaskan, ini murni virus babi," tandasnya.


Berkaitan dengan itu, anggota dewan Dapil Medan ini mengingatkan semua pihak, baik Pemprov Sumut dan Pemkab/Pemko untuk segera melakukan action di daerahnya masing-masing untuk mengakhiri penyebaran virus kolera babi ini.


"Teruslah sosialisasikan kepada masyarakat agar bangkai-bangkai babi yang mati dibakar atau dikubur, guna memutus mata rantai penyebaran virus kolera babi," tegas Parlaungan dan Franc Bernhard sembari mengingatkan, jangan sampai bangkai dihanyutkan ke sungai atau dibiarkan membusuk, karena akan menyebarkan virus melalui udara.


Seperti diberitakan SIB, Senin (11/11), Pemprov Sumut bentuk Tim Unit Reaksi Cepat Tangani Virus Kolera Babi yang di dalamnya terdiri dari Dinas Kesehatan, Dinas Ketapangnak, Dinas SDA Tata Ruang dan Cipta Karya Sumut, Badan Lingkungan Hidup, BPBD Sumut dan Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut. (M03/q)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments