Jumat, 06 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • ‘Dunia Luar’ Peduli Danau Toba, Kok Bangsa Sendiri Tak Serius?

Diskusi dan Bedah Buku ‘Toba Mengubah Dunia’ Seru, Pejabat Pemprovsu Dicecar

‘Dunia Luar’ Peduli Danau Toba, Kok Bangsa Sendiri Tak Serius?

Minggu, 25 Mei 2014 20:20 WIB
Medan (SIB)- Para elemen masyarakat Sumut yang peduli dan cinta Danau Toba sebagai objek wisata dan lingkungan hidup maupun sebagai pusat kebudayaan Batak, sangat mengecam dan menyesalkan sikap dan tindakan pemerintah Indonesia mulai dari tingkat pusat hingga provinsi maupun seluruh kabupaten di kawasan Danau Toba, yang terkesan setengah hati bahkan tak serius mengelola apalagi mengembangkan potensi serta promosinya.

Pengurus Forum Peduli Danau Toba (FPDT) Ir Parlin Manihuruk dari CV Crispy Pora-pora Danau Toba, dan Kordinator Harian Earth Society (ES—LSM lingkungan hidup Danau Toba), Mangaliat Simarmata SH, menyatakan Indonesia harusnya malu dan prihatin karena pihak dunia luar selama ini justru tampak lebih peduli terhadap potensi dan prospek Danau Toba dibanding kita di negeri sendiri.

“Banyak fakta tentang betapa pedulinya pihak dunia luar terhadap Danau Toba. Selain fakta ekspos Toba Super Volcano yang ditulis pakar geologi dunia dari Belanda Reinot Willem van Bammelen pada 1960-an silam, USGS dari Amerika (1970-1980-an) menetapkan Danau Toba sebagai situs dunia sampel gempa dahsyat dunia, lalu pemerintah Denmark pada 1990-an melalui lembaga WWF-nya memasukkan Danau Toba sebagai objek lingkungan hidup yang harus dilestarikan sebagai objek wisata dan konservasi, pada 1995-1996 Jerman atau Hans Sneidel Foundation bekerjasama dengan YPPDT juga menetapkan Danau Toba sebagai World Heritage, dsb. Sekarang, PBB melalui UNESCO atau Global Geopark Network (GGN) juga telah memproses Danau Toba sebagai nominasi objek geopark dunia walaupun sempat batal tahun lalu. Sementara, kita bangsa sendiri justru tampak setengah hati bahkan tak serius sehingga Danau Toba tampak begitu-begitu saja, malah tampak kian kumuh, kotor, gersang, dan sepi turis,” papar Parlin Manihuruk kepada pers di Medan, Rabu (22/5) kemarin.

Dia mengutarakan itu sehubungan kunjungan dan peninjauan Tim Jendela Toba ke sejumlah objek wisata dan peninggalan bekas letusan Toba di sejumlah lokasi Danau Toba yang dulunya berupa gunung api berkawah raksasa tersebut. Kunjungan itu merupakan sesi lanjut dari diskusi publik dan bedah buku ‘Toba Mengubah Dunia’ yang digelar di aula Fakultas Ilmu Budaya USU pada Sabtu (17/5) pekan lalu.

Forum bedah buku itu berlangsung seru dengan debat antara peserta dan pembicara yang nyaris tak terkendali sehingga ketua panitia (Mangaliat Simarmata) sempat mengambil alih sesi diskusi untuk menenangkan peserta yang ‘keras-vokal’ dari Samosir (Wilmar Simanjorang mantan Pjs Bupati Samosir, dan seorang marga Sitanggang). Pasalnya, paparan Asisten II Ekbang Pemprovsu Dra Sabrina dinilai terlalu normatif tentang Danau Toba, karena sejak dulu tak ada aksi nyata sebagai kebijakan Pemprovsu untuk pembangunan di kawasan Danau Toba, khususnya terkait pariwisata, budaya dan lingkungan hidup, sehingga dicecar dan dikecam riuh.

Sesi diskusi dalam Forum Bedah Buku ‘Toba Mengubah Dunia’ itu menampilkan pembicara pakar geologi Dr Ir Indiyo Pratomo, dari Badan Geologi Indonesia Kementerian ESDM, Asisten II Ekbang Pemprovsu Dra Sabrina, pakar kebudayaan Dr Alamsyah Harahap, dan Ahmad Arif sang penulis buku tersebut. Acara itu sempat diprotres sejumlah peserta karena peserta ternyata tak memperoleh buku tersebut selaku objek bahasan, melainkan harus dibeli masing-masing sehingga acara tersebut dicap jadi ajang jual buku karena juga menjual sejumlah buku berjudul lainnya terbitan percetakan tertentu dari Jakarta.

Hadir di acara yang dipandu budayawan Idris Pasaribu itu antara lain: anggota DPD RI Parlindungan Purba yang tak lama kemudian meninggalkan acara, Ketua DPD Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumut Ir Gagarin Sembiring, Sekretaris Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT) Horas Sitompul SE, pengurus Forum Sisingamangaraja XII (For-Sis) Dr Robert Siahaan, pejabat Distamben Sumut Ir Darma Purba, Klub Mahasiswa Geologi ITM, dan sejumlah LSM bidang budaya Batak, lingkungan hidup, pariwisata, serta  mahasiswa FIB USU.

Kecaman dan cecar dengan suara lantang itu, misalnya oleh Wilmar Simanjorang, terutama karena pihak Pemprov terkesan ‘pangku tangan’ dan ‘lepas tangan’ atas aksi perambahan hutan Toba di Samosir belakangan ini sehingga sejumlah lokasi hijau kini jadi tandus dan gersang. Pengurus LSM dari Samosir (Sitanggang) juga menyoroti pihak Pemprov yang terkesan tak serius dalam proses pengusulan Danau Toba sebagai nominator Geopark dunia, sehingga masih lebih banyak masyarakat yang tak tahu menahu soal Geopark, bahkan rencana untuk membangun halte geopark di salah satu kabupaten pun tak jelas hingga saat ini.

“Pemerintah, baik pusat maupun provinsi cuma ‘Omong Doang’ soal pembangunan Danau Toba. Dulu Danau Toba masuk 10 Besar Destinasi Utama di Indonesia, kini sudah hapus. Danau Toba sudah ditetapkan sebagai Kawasan Strategi Nasional (Kastanas) dengan Perpres 28 Tahun 2006, tapi tak jelas apa implementasinya. Kemenbudpar bilang Danau Toba akan dipromosi 5 tahun berturut-turut melalui acara Festival Danau Toba, tapi agenda bahkan jadwalnya terus berubah-ubah dan alokasi dananya tak transparan. Dikabarkan ada dana pengembangan kawasan Danau Toba Rp775 miliar, tapi tak jelas realisasinya. Lalu, untuk tingkat lokal, Perda No.1 Tahun 1990 tentang Danau Toba malah seperti tak berlaku tanpa ada tindak lanjut dari Pemprov sendiri, lalu mau jadi apa Danau Toba ini kalau diabaikan terus ?,” tandas Sahat Barita Toruan, peserta dari Humbang, di sela-sela skors acara. (A5/d)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments