Kamis, 24 Sep 2020
  • Home
  • Ekonomi
  • Tangkapan Nelayan Turun 50%, Harga Ikan Laut Melambung

Tangkapan Nelayan Turun 50%, Harga Ikan Laut Melambung

Rabu, 29 Januari 2014 18:50 WIB
Jakarta (SIB)- Cuaca ekstrem yang melanda perairan di Laut Indonesia selama satu bulan terakhir berdampak pada nasib nelayan kecil walaupun nelayan skala besar masih bisa melaut. Hasil tangkapan nelayan rata-rata turun 50% yang secara langsung berdampak pada kenaikan harga ikan.

"Saya nggak bisa menghitung berapa kerugiannya. Tapi untuk tangkapan tertentu bisa turun hingga 50%. Pada saat tertentu ya, misal pada biasanya bisa dapat 100 ton mungkin sekarang dapat 50 ton," kata Kepala Balitbang Kelautan dan Perikanan Achmad Poernomo di sela-sela Rakornas KKP di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (28/1).

Ia memastikan dengan menurunnya tangkapan ikan laut selama sebulan ini maka harga ikan laut naik. Namun ia tak merinci berapa kenaikan harganya, karena tergantung jenis ikannya.

"Ya biasa supply dan demand kan, kalau supply turun harga naik itu bukan hal yang aneh," katanya.

Meski tangkapan ikan laut turun, ia memastikan stok dan pasokan ikan nasional masih aman. "Stok kita itu ada 6,4 juta ton per tahun, yang bisa diambil 80% dari 6,4 juta ton. Itu supaya aman dan lestari jadi kalau kita ambil lebih dari itu nggak boleh," katanya.

Secara umum, kebutuhan konsumsi ikan nasional 35 kg per kapita per tahun. Dengan jumlah penduduk di atas 240 juta jiwa maka kebutuhan ikan nasional mencapai 18 juta ton per tahun.

Saat ini produksi ikan nasional untuk ikan budidaya mencapai 19 juta ton, sedangkan produksi dari perikanan tangkap itu maksimal 80% dari 6,4 juta ton per tahun.

Ia mengatakan secara umum apabila musim barat biasanya banyak nelayan yang tak melaut. Namun menurutnya musim barat kali ini berbeda, cuacanya lebih buruk dari biasanya alias ekstrem.

"Jadi mereka sebenarnya sudah bukan hal yang aneh. Mereka kalau musim barat memperbaiki jaring memperbaiki kapal. Kalau kapal besar masih bisa melaut. Kapal kecil yang nggak bisa melaut," katanya.

Achmad menjelaskan selama ini kategori kapal kecil ukurannya 5-10 gross tonnage (GT). Untuk berlayar mereka biasanya mengandalkan informasi dari pelabuhan sehingga masih terbatas.

Sedangkan untuk kapal besar masih bisa melaut dan memiliki kelebihan mendapatkan informasi cuaca terkini karena terkoneksi dengan KKP dan BMKG.
"Untuk sekarang ini dengan bulan-bulan ini cuaca lebih ektrem dibandingkan yang tahun lalu. Semoga sepanjang tahun nanti tidak," katanya. (detikfinance/d)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments