Sabtu, 06 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran
  • Home
  • Ekonomi
  • Sri Mulyani Prediksi Defisit APBN 2020 Meroket Jadi Rp 1.028

Sri Mulyani Prediksi Defisit APBN 2020 Meroket Jadi Rp 1.028

* BI Injeksi Likuiditas Rp 583,5 Triliun
redaksisib Sabtu, 23 Mei 2020 11:26 WIB
Tempo/Tony Hartawan

Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers terkait laporan APBN 2019 di Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. Menkeu menyatakan realisasi APBN 2019 masih terarah dan terkendali meskipun terjadi defisit sebesar Rp353 triliun atau sebesar 2,20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Jakarta (SIB)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memerkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN 2020 sebesar Rp 1.028 triliun tahun ini. Nilai tersebut setara dengan 6,27 persen terhadap Produk Domestik Bruto.

Angka itu juga lebih besar dari target defisit APBN yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2020 yang sebesar 5,07 persen atau Rp 852,9 triliun. "Outlook defisit APBN 2020 lebih besar disebabkan adanya kontraksi terhadap penerimaan negara, " kata Sri Mulyani dalam pertemuan virtual Senin (18/5).

Sebaliknya, kata dia, belanja negara justru meningkat karena ada pandemi Covid-19. Dia menuturkan, defisit itu dalam rangka mendorong ekonomi agar tetap bisa bertahan dalam menghadapi tekanan Covid-19. Menurut dia, pemulihan sektor perekonomian bisa terjadi dengan adanya defisit tersebut.

Adapun untuk bisa mendanai defisit sebesar Rp 1.028,5 triliun itu, dilakukan melalui pembiayaan dan pengadaan surat berharga.
"Hal itu sudah diatur di Perpu maupun di dalam SKB antara Kementerian Keuangan dengan Bank Indonesia," ujarnya.

Dia mengatakan, pendapatan negara diprediksi turun 13,6 persen dibanding realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 1.691,6 triliun.

Sedangkan target pendapatan negara pada Perpres 54 Tahun 2020 sebelumnya termaktub sebesar Rp 1.760,9 triliun.

Kendati begitu, belanja negara diperkirakan mencapai Rp 2.720,1 triliun atau bertambah Rp 106,3 triliun dari postur APBN yang diatur Perpres 54/2020. Menurut Sri Mulyani, tambahan belanja disebabkan adanya penambahan kompensasi Rp 76,08 triliun pada PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Injeksi Likuiditas
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa sejak awal 2020, bank sentral telah melakukan injeksi likuiditas ke pasar uang dan perbankan hingga mencapai Rp 583,5 triliun.

"Nilai itu antara lain melalui pembelian SBN dari pasar sekunder, penyediaan likuiditas perbankan melalui transaksi term-repo SBN, swap valas, serta penurunan GWM rupiah," kata Perry dalam siaran langsung pengumuman RDG BI di Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5).
Menurut Perry, saat ini kondisi likuiditas perbankan tetap memadai dan mendukung berlanjutnya penurunan suku bunga. Likuiditas perbankan yang memadai tercermin pada rerata harian volume PUAB April 2020 yang tetap tinggi yakni Rp 9,2 triliun serta rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tetap besar yakni 24,16 persen pada Maret 2020.

Perkembangan itu berdampak positif pada penurunan suku bunga. Pada April 2020, rata-rata suku bunga PUAB O/N dan suku bunga JIBOR tenor 1 minggu bergerak stabil di sekitar level BI7DRR yakni 4,31 persen dan 4,60 persen. Rerata tertimbang suku bunga deposito dan kredit masing-masing tercatat 5,92 persen dan 10,17 persen, menurun masing-masing 11 bps dan 19 bps dari level Maret 2020. "Perkembangan kondusif ini dipengaruhi strategi Bank Indonesia dalam menjaga kecukupan likuitas," ujar Gubernur BI.

Penurunan suku bunga tersebut, Perry melanjutkan, berdampak pada kenaikan pertumbuhan besaran moneter M1 dan M2 pada Maret 2020 yang masing-masing menjadi 15,6 persen (yoy) dan 12,1 persen (yoy). Bank Indonesia akan terus memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dalam mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional, khususnya dalam rangka restrukturisasi kredit perbankan. (T/d)
T#gs APBNDefisitSri Mulyaniekonomi
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments