Jumat, 22 Nov 2019
  • Home
  • Ekonomi
  • RI dan Malaysia Bersaing Ketat Rebut Pasar Sawit di Pakistan

RI dan Malaysia Bersaing Ketat Rebut Pasar Sawit di Pakistan

Kamis, 16 Januari 2014 20:25 WIB
SIB/ist
Ilustrasi
Jakarta (SIB)- Indonesia dan Malaysia bersaing ketat menguasai pasar ekspor minyak sawit mentah (CPO) di Pakistan. Meskipun India, Eropa, dan China merupakan pasar ekspor terbesar CPO Indonesia. Indonesia membidik pasar Pakistan karena ada pelambatan ekonomi di pasar utama.

"Pakistan kebutuhan sekitar 2 juta ton/tahun. Selama ini yang disampaikan Pak Joko (Sekjen Gapki) didominasi Malaysia dengan adanya PTA kedua negara," kata Ketua Kompartemen Urusan Perdagangan GAPKI Togar Sitanggang saat berdiskusi dengan media di Kantor Pusat GAPKI Jalan KH Mas Mansyur Jakarta, Rabu (15/01).

Perjanjian perdagangan bilateral antara Indonesia dan Pakistan (Preferential Trade Agreemant/PTA) oleh pemerintah kedua negara tahun 2013 lalu. Salah satu hasil yang disepakati adalah Pakistan boleh memasukkan jeruk kino via Pelabuhan Tanjung Priok. Sedangkan bea masuk CPO Indonesia dikurangi. Faktor inilah yang menggenjot ekspor CPO Indonesia ke Pakistan.

"Hanya setahun setelah ditandatangani PTA Indonesia bisa bersaing dengan Malaysia. Para produsen sawit Indonesia langsung bisa menembus pasar Pakistan dengan mengirim 900 ribu ton ke negara tersebut," imbuhnya.

Tahun 2014 ini, Togar Optimistis sawit Indonesia akan mendominasi pasar Pakistan. "Saya optimistis tahun ini bisa mengirim 1,5 juta ton atau paling tidak kita menguasai pasar ekspor di Pakistan dengan Malaysia dengan perbandingan 1,5:0,5," ujarnya.

Indonesia tetap mengandalkan pasar ekspor dibandingkan dalam negeri untuk menjual CPO. Dari total produksi sebesar 26 juta ton di tahun 2013, 21 juta ton diantaranya ditujukan untuk pasar ekspor.

Selama 2013 Harga CPO Turun 18%

Krisis ekonomi global tahun lalu berdampak terhadap kinerja perusahaan sawit di Indonesia. Harga rata-rata sawit di pasar internasional turun signifikan.
Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menyebut harga rata-rata sawit mentah atau crude palm oil (CPO) selama 2013 hanya US$ 841,67 per metrik ton atau turun 18% dibandingkan 2012 yang sempat capai US$ 1.028,40 per metrik ton.

"Tekanan penurunan harga disebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan di Uni Eropa. Dampaknya pelemahan daya beli sehingga permintaan berkurang. Pembeli utama Indonesia yaitu India mengalami perlambatan ekonomi disertai pelemahan nilai tukar mata uangnya. China juga mengalami perlambatan ekonomi," kata Joko.

Data ekspor GAPKI tahun lalu, tercatat ekspor produk sawit sebesar 21,2 juta ton (termasuk CPO). Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya (2012) yang hanya 19 juta ton atau naik 12%.

Nilai ekspor per November 2013 sebesar US$ 17,5 miliar, sedangkan sampai Desember 2013 mencapai US$ 19,1 miliar. Nilai ekspor ini menurun dibandingkan tahun 2012 yang mencapai US$ 21,2 miliar.

"Harga turun di tahun 2013 hanya US$ 841/ton tahun lalu US$ 1028/ton atau turun 18%," imbuhnya. (detikfinance/d)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments