Senin, 22 Jul 2019
  • Home
  • Ekonomi
  • RI Raja Kelapa Sawit, Tapi Masih Impor Minyak Goreng

RI Raja Kelapa Sawit, Tapi Masih Impor Minyak Goreng

* Kemendag Tak Yakin
admin Rabu, 26 Juni 2019 13:07 WIB
Ilustrasi
Jakarta (SIB) -Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Namun ironis, Indonesia masih impor minyak goreng.

Data Badan Pusat Statis (BPS) seperti dikutip, Selasa (25/6) menyatakan, impor minyak goreng pada Mei 2019 tercatat 28,53 juta kg dengan nilai US$ 16,15 juta. Angka ini naik dibanding bulan April 2019 sebesar 15,38 juta kg dengan nilai US$ 11,48 juta.
Secara tahun berjalan Januari-Mei 2019 totalnya 61,86 juta kg dengan nilai US$ 43,03 juta.

Jumlah tersebut melesat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, di mana Januari-Mei 2018 impor minyak goreng 24,51 juta kg dengan nilai US$ 27,92 juta.

Indonesia mengimpor minyak goreng dari beberapa negara yakni, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Papua Nugini dan lainnya.
Pada Mei 2019, impor minyak goreng terbesar berasal dari Malaysia. Jumlah yang diimpor sebanyak 16,27 juta kg dengan nilai US$ 8,63 juta.

Kemudian, disusul Papua Nugini dengan volume 5,56 juta kg dengan nilai US$ 2,44 juta dan Filipina dengan 3,72 juta kg dengan nilai US$ 2,30 juta.

Tak Yakin RI
Pemerintah masih ragu saat dikonfirmasi adanya impor minyak goreng. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, pada Mei 2019 impor minyak goreng sebesar 28,53 juta ton dengan nilai US$ 16,15 juta.

Angka ini naik dibanding April 2019 sebanyak 15,38 juta kg dengan nilai US$ 11,48 juta. Lalu, naik tinggi jika dibandingkan Mei 2018 yakni 4,21 juta kg dengan nominal US$ 4,62 juta.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, kemungkinan yang diimpor ialah minyak yang tidak bisa diproduksi di Tanah Air.

"Saya nggak yakin, mungkin bisa saja masuk melalui Malaysia yang memang tidak diproduksi di Indonesia, contohnya olive oil atau canola oil tapi saya yakin tidak signifikan. Karena kalau data BPS bisa saja produk tersebut tergantung dalam HS yang sama," katanya kepada detikFinance, Selasa (25/6).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution juga meragukan hal tersebut.
"Saya belum percaya saya itu. Artinya mesti ada yang penjelasan," katanya.

Darmin tak percaya sebab harga minyak goreng Indonesia lebih murah dari tetangga. Tapi, justru malah impor.
"Karena apa, harga minyak goreng kita lebih murah kok dari orang lain, bagaimana mau impor minyak goreng," jelasnya. (detikFinance/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments