Jumat, 19 Jul 2019
  • Home
  • Ekonomi
  • Pendapatan RI Dari Sektor Energi Rp 446 T, Habis Buat Subsidi Rp 300 Triliun

Pendapatan RI Dari Sektor Energi Rp 446 T, Habis Buat Subsidi Rp 300 Triliun

*Pemerintah Hemat US$3,11 Miliar dari Aturan Solar Campur 10 % Nabati
Kamis, 30 Januari 2014 15:25 WIB
Jakarta (SIB)- Hampir sebagian besar pendapatan di sektor energi saat ini dihabiskan untuk subsidi. Salah satu yang paling banyak adalah untuk subsidi BBM yang dihabiskan di 2013 mencapai Rp 299,59 triliun.

"Kinerja sektor energi pada 2013, pendapatan dari sektor ESDM mencapai Rp 446 triliun, yang berasal dari produksi minyak dan gas bumi serta batubara dan mineral," kata Menteri ESDM Jero Wacik dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (29/1).

Namun dari pendapatan sektor energi tersebut, sebagian besar dihabiskan untuk subsidi energi, mulai dari subsidi BBM, subsidi listrik, dan subsidi elpiji, lalu juga subsidi Bahan Bakar Nabati (BBN).

"Tahun 2013 subsidi energi mencapai Rp 299,59 triliun atau melebihi dari target sebesar Rp 287,14 triliun, dengan rincian untuk subsidi BBM dan elpiji mencapai Rp 210 triliun, subsidi listrik 89,59 triliun, dan subsidi BBN sebesar Rp 250 miliar," ungkap Jero.

Jero menambahkan, akibat kenaikkan harga BBM subsidi di 2013, konsumsi BBM subsidi tidak melebihi kuota yang ditentukan APBN.

"Di 2013 itu kuota BBM subsidi sebesar 48 juta KL (kiloliter), namun akibat kenaikan harga BBM orang mau berhemat, sehingga kuota BBM subsidi masih tersisa 1,4 juta KL lebih atau hanya mencapai 46,83 juta KL," tutupnya.

Tahun lalu Presiden SBY mengeluarkan aturan mandatori atau wajib penggunaan bahan bakar nabati (BBN) atau biodiesel 10% dalam setiap liter solar guna mengurangi impor BBM. Tahun ini program tersebut ditargetkan menghemat devisa negara US$ 3,11 miliar.

"Program penggunaan BBN, artinya solar dicampur 10% dengan biodiesel, di mana biodieselnya berasal dari kepala sawit yang diproduksi dalam negeri sendiri tidak perlu impor. Jadi solar dicampur 10% biodiesel sehingga sedikit mengurangi impor solar," ujar Menteri ESDM Jero Wacik.

Jero mengungkapkan, pada 2013 lalu program BBN ini menghemat devisa negara sebesar US$ 779 juta. Dan pada tahun ini ditargetkan menghemat devisa sebesar US$ 3,11 miliar.

"Tahun program BBN ditarget dapat menghemat devisa negara US$ 3,11 miliar dan dapapt menghemat subsidi BBN sebesar Rp 4,9 triliun." ujar Jero.

Jero menambahkan, untuk dapat menghemat devisa negara sebesar US$ 3,11 miliar tersebut, campuran biodiesel ditargetkan mencapai 1,64 juta KL (kiloliter).
"Tahun 2013 targetnya sebesar 1,5 juta KL, tapi realisasinya baru 1,03 juta KL, tahun ini targetnya 1,64 juta KL. Sementara untuk bioethanol atau BBN dicampur ke premium/pertamax baru sebesar 0,16 juta KL," tutup Jero. (Dtf/w)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments