Rabu, 13 Nov 2019

Ojol Rusia Mulai Berkeliaran di Indonesia

admin Senin, 19 Agustus 2019 13:39 WIB
Ilustrasi
Jakarta (SIB) -Ojek online (ojol) asal Rusia, Maxim, mulai beroperasi di Indonesia. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengetahui hal tersebut baru-baru ini.

Kemenhub segera meminta penjelasan ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) selaku pemberi izin aplikator transportasi online tersebut.

1. Kemenhub Baru Tahu
Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setyadi mengaku belum lama ini mengetahui ojol dari Rusia sudah beroperasi di Kalimantan Timur. Dia pun tahu setelah adanya kericuhan antara ojol tersebut dengan ojek pangkalan yang terdengar sampai ke telinganya.

"Nah saya juga ingin tahu kalau ada pendaftaran (transportasi online) gitu gimana dari mereka (Kemenkominfo), apa langsung dibuka saja aplikasinya? karena saya nggak ngerti juga ujug-ujug ada ini," kata dia saat dihubungi, Jakarta, Jumat (16/8).

Budi sendiri belum mengetahui sejak kapan ojol asal Rusia resmi beroperasi di Indonesia. Untuk itu pihaknya meminta penjelasan ke Kemenkominfo.

"Karena mereka di Kalimantan Timur sih. Jadi kita nggak tahu juga. Saya juga baru tahunya setelah kemarin ada ribut-ribut di sana antara ojek Maxim, dengan ojek pangkalan," paparnya.

Perizinan ojol tersebut memang cukup ke Kemenkominfo dalam hal aplikasi transportasi online. Namun dari sisi pengawasan dan terkait operasional ojol, berada di Kemenhub.

"Saya undang rapat Kemenkominfo, Direktur dari Aptika (Aplikasi dan Informatika) di situ. Saya ingin tahu sudah berapa sih yang mengajukan," tambahnya.

2. Driver Tambah Banyak
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyoroti munculnya pesaing Gojek dan Grab di pasar transportasi online. Menurut Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setyadi hal itu bisa berdampak negatif.

"Kalau saya sih, kebanyakan yang daftar kan jadi nggak bagus kan suasana ini kan," kata dia, Jumat (16/8).

Kemenhub pun berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) selaku pemberi izin aplikator transportasi online terkait hal itu.

"Karena saya ingin tahu bisnis proses dari perusahaan-perusahaan startup yang baru yang agak ke transportasi ya, saya ingin tahu seperti apa," ujarnya.

Pihaknya perlu memastikan supply dan demand dari transportasi online ini seimbang. Jangan sampai pengemudinya terlalu banyak dan tak sebanding dengan jumlah orang yang butuh jasa mereka.

"Jangan sampai nanti begitu ada bukaan start-up baru katakan Maxim dan sebagainya, kemudian menerima kemitraan baru kan, nanti apa yang terjadi, banyaknya bukan main itu. Antara demand dan supply nggak sebanding. Ribut lagi nanti," terang Budi.

3. Tarif Bisa Turun?
Selain Maxim di Kalimantan Timur, daftar lainnya adalah Bitcar dari Malaysia, dan FastGo dari Vietnam yang siap berseliweran di Indonesia.

Lantas apakah masuknya pemain-pemain baru di sektor transportasi online ini bisa bikin tarif menjadi lebih murah?
Menurut Budi Setyadi, di satu sisi itu memang dapat memberi manfaat positif karena bisa menurunkan tarif ojol akibat ketatnya persaingan.

"Kalau dari sisi konsumennya mungkin begitu banyak pemain berarti kan mungkin dengan layanan berbeda kan, ya akhirnya kan mereka bersaing sendiri, (tarif) bisa mungkin lebih murah," kata dia, Jumat (16/8).

Tapi yang perlu diperhatikan adalah menjaga keseimbangan antara supply dan demand dari ojol di Indonesia. Dia berharap masuknya pemain baru tak menambah jumlah pengemudi secara drastis. Bisa saja nanti satu pengemudi punya dua aplikasi berbeda.

Menurutnya, bisa juga nanti mereka yang sudah berprofesi sebagai pengemudi ojol di aplikator eksisting, pindah ke aplikator baru sesuai minat mereka. Jadi secara jumlah pengemudi ojol tak bertambah signifikan. (dtf/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments