Kamis, 21 Feb 2019
  • Home
  • Ekonomi
  • Limbah Elektronik 'Disulap' Jadi Aneka Produk, Dijual Tembus Eropa

Limbah Elektronik 'Disulap' Jadi Aneka Produk, Dijual Tembus Eropa

admin Senin, 11 Februari 2019 14:28 WIB
Ilustrasi.
Salatiga (SIB) -Berawal dari menjadi anggota komunitas peduli lingkungan, Sindhu terinspirasi untuk membangun usaha daur ulang limbah. Ia memilih limbah elektronik yang jarang tersentuh kreator recycle untuk dijadikan produk bernilai ekonomis.

"Pemanfaatan limbah elektronik sejauh ini hanya sebatas dipisahkan antara, plastik, besi tembaga dan emas di dalamnya. Sedangkan cara ini malah menumbuhkan masalah baru, karena proses pemisahan menggunakan merkuri yang berdampak buruk bagi bumi," jelas Sindhu , Jumat (8/11).

Bermula dari rasa ingin tahu, Sindhu belajar desain secara otodidak. Ia mulai mencari produk yang tepat untuk dijadikan kreasi berbahan baku limbah elektronik.

"Saya mengolah limbah elektronik yang dipadukan dengan cairan resin. Biasanya limbah yang saya gunakan adalah motherboard komputer dan HP. Nantinya limbah ini saya olah menjadi anting, cincin dan coffee table," papar Sindhu sembari menunjukkan cincin karyanya.

Sindhu berjejaring dengan perajin silver dari Bali untuk memasok bahan ring cincin dan anting. Hal ini ia lakukan karena produk silver dari Bali sudah memiliki kualitas yang mumpuni.

"Saya membeli ring dari Bali karena bahan yang digunakan baik. Dan hanya silver 925 yang saya gunakan sebagai bahan ring perhiasan," jelas Sindhu.

Sejak awal membangun usaha Sindhu paham bahwa penyuka barang produksinya bukan dari kalangan lokal. Oleh sebab itu ia mulai melirik lokasi wisata yang banyak dikunjungi turis mancanegara.

"Saya titip jual ke beberapa toko di Jogja dan Bali. Dari situ saya mulai berani untuk promosi langsung hingga sekarang. Bahkan pasar bisnis saya saat ini 60 % didominasi dari Eropa," jelas Sindhu.

Sindhu membatasi minimal order tiap kali mengekspor barang ke luar negeri. Hal ini ia lakukan agar pembeli barang kreasinya bisa mendapatkan harga grosir.

"Minimal order Rp 15 juta, nah nanti bisa dikombinasikan berapa jumlah anting atau cincin yang dibeli. Kalau pesan langsung bagi pembeli lokal, harga per pasang anting itu 200 ribu, kalau cincin mulai 350 ribu," ungkap Sindhu.

Reseller yang tersebar di Eropa seringkali malah membantu Sindhu promosi. Sebab tak jarang para reseller menyertakan produk Sindhu dalam kegiatan pameran.

"Pameran pernah di Inggris, Amerika, Jerman dan beberapa negara di Australia. Di Asia Tenggara malah baru beberapa bulan lalu di Vietnam," jelas Sindhu.

Setiap hari Sindhu bekerja di workshop miliknya yang beralamat di Desa Tetep Gambir, Salatiga. Dalam proses bekerja, ia dibantu beberapa karyawan di workshopnya.

"Produksi sesuai pesanan saja sampai saat ini, rata-rata 30 - 50 produk dalam sehari. Mungkin jika ada beberapa ya tambahan untuk display," tandas Sindhu. (detikfinance/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments