Kamis, 12 Des 2019
  • Home
  • Ekonomi
  • Kuno dan Berbahaya, Merkuri akan Dihapus dari Industri

Kuno dan Berbahaya, Merkuri akan Dihapus dari Industri

Sabtu, 11 Januari 2014 10:45 WIB
Jakarta  (SIB)- Pemerintah Indonesia akan mendorong pengurangan penggunaan merkuri di sektor pertambangan, maupun indusri secara umum. Penggunaan merkuri dianggap sebagai teknologi kuno dan sangat berbahaya bagi kesehatan mahluk hidup.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Pusat Teknologi Sumber Daya Mineral BPPT Yudi Prabangkara, di acara diskusi soal energi di BPPT, Jakarta, Jumat (10/1)
"Kita bersama ESDM merancang aksi nasional dalam rangka menghapuskan pemakaian merkuri di sektor pertambangan," katanya.

Menurut Yudi, proses penghapusan merkuri akan dilakukan secara bertahap khususnya di sektor pertambangan. Kenyataannya, banyak aktivitas pertambangan rakyat yang menggunakan merkuri untuk memisahkan emas dari mineral lainnya. Ada juga industri lampu yang masih menggunakan 15% merkuri dalam produk lampu, yang harapannya bisa ditekan hingga 5%.

"Salah satunya dalam industri kesehatan, thermometer dan tensimeter semua pakai merkuri yang sedikit demi sedikit akan kami kurangi," katanya.

Solusi untuk menggantikan merkuri adalah dengan menggunakan boraks. Teknologi ini masih dianggap lebih baik daripada menggunakan merkuri, karena secara lingkungan lebih aman jika digunakan secara tepat."Boraks didistribusikan ke masyarakat tambang untuk dipakai ini perlu waktu. Kita punya tahapan itu, untuk menghapus merkuri dari Indonesia," katanya.Menurutnya penggunaan boraks dampaknya lebih minim, dibandingkan dengan merkuri. Efek merkuri apabila terkena kulit dalam waktu lama bisa menyebabkan kanker.

"Di Mongolia dan Ekuador mereka sudah pakai boraks, di Afrika juga sudah pakai boraks, cuma kita uji, para penambang bisa bilang bagus, jangan sampai uji coba tapi tak berhasil, teknologi merkuri teknologi kuno, dipakai umum tapi tak efektif," katanya.

Menurut Yudi, penggunaan boraks untuk memisahkan emas dalam pertambangan emas, dari sisi faktor perolehan (recovery factor) lebih besar daripada merkuri.

"Recovery factor dari merkuri 50%, artinya kalau kita ambil 1 kg emas, jadi hanya mendapat 0,5 kg, sisanya dibuang, sedangkan dengan boraks recovery factor-nya boraks hanya 25%, artinya jika kita ambil emas 1 Kg, kita mendapat 750 gr hanya membuang 250 gr," kata Yudi.(Dtc/w)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments