Rabu, 23 Okt 2019
  • Home
  • Ekonomi
  • Kenaikan Cukai Rokok Bisa Menimbulkan Rokok Ilegal

Kenaikan Cukai Rokok Bisa Menimbulkan Rokok Ilegal

admin Jumat, 20 September 2019 14:54 WIB
Ilustrasi
Jakarta (SIB) -Rencana Pemerintah menaikkan cukai rokok di 2020 dengan kenaikan rata-rata 23 persen, yang tertinggi di industri ini selama puluhan tahun, berpotensi menimbulkan masalah baru. Hal ini bisa mendorong tumbuhnya rokok ilegal yang sebelumnya sudah berhasil ditekan.

Peneliti Ilmu Ekonomi Universitas Padjadjaran Bayu Kharisma mengatakan kenaikan cukai rokok disertai kenaikan harga jual produk rokok yang tinggi, akan memberi dampak luas. Dia menjelaskan bahwa konsumen rokok Indonesia sangat sensitif terhadap harga
"Akibatnya konsumen akan beralih ke produk murah, seperti rokok ilegal yang tidak membayar cukai," ucapnya seperti yang dilansir Metrotv, Kamis (19/9).

"Berkebalikan dengan tujuan Pemerintah yang menjadikan kenaikan cukai ini untuk menyasar target penerimaan negara, yang malah terjadi nantinya adalah besarnya tax evasion atau penghindaran pajak, yang disebabkan maraknya peredaran rokok ilegal," tambahnya.

Dia mencontohkan pemerintah Malaysia yang menaikkan cukai rokok terlalu tinggi dengan harga eceran rokok dengan rata-rata USD4,11. Kebijakan pemerintah Malaysia justru membuat peredaran rokok ilegal semakin besar. Berdasarkan data Oxford Economics, peredaran rokok ilegal di Malaysia pada 2017 sebesar 55,5 persen.

"Rokok ilegal di Malaysia berasal dari Filipina, Indonesia, dan Vietnam. Potensi kehilangan penerimaan pemerintah Malaysia cukup tinggi sekitar USD3,3 miliar," terangnya.

Kenaikan cukai juga akan menyebabkan turunnya volume produksi rokok seiring dengan beralihnya konsumen. Dengan demikian, performa perusahaan rokok kian turun, dan kelangsungan dari jutaan pekerja yang bergantung pada industri ini akan terancam.

Sebelumnya, Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo), Muhaimin Moeftie mengatakan kenaikan cukai rokok rata-rata 23 persen akan kian menghimpit industri rokok nasional yang saat ini sudah dalam kondisi menurun.

Pada dampak yang lebih luas, ia juga menekankan potensi meningkatnya rokok ilegal di masyarakat, serta imbas yang akan terjadi pada mata pencaharian pekerja, serta petani tembakau dan cengkeh yang akan mengalami kerugian akibat bahan baku tak dapat diserap.

"Kenaikan cukai ini akan mendorong terjadinya inflasi lebih tinggi di masyarakat, mengingat andil rokok yang cukup besar," jelas dia.
Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan kenaikan cukai tersebut dirapel atau sekaligus untuk waktu dua tahun sebelumnya yang tidak mengalami kenaikan.

"Naiknya kan rapelan. 2019 kan diputuskan enggak naik. Kenaikan sekarang dari tarif 2018. Naik rapelan dua tahun berarti," jelas Suahasil. (M18/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments