Sabtu, 07 Des 2019
  • Home
  • Ekonomi
  • Bos BI Sebut Digitalisasi Bisa Dongrak Ekonomi Syariah

Bos BI Sebut Digitalisasi Bisa Dongrak Ekonomi Syariah

redaksi Jumat, 15 November 2019 14:26 WIB
Medium
Ilustrasi

Jakarta (SIB)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan digitalisasi mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Sebab, penggunaan teknologi digital membuat transaksi keuangan dan ekonomi syariah menjadi lebih efisien dan cepat.


"Transformasi digital dapat mempercepat pendanaan ekonomi Islam dari desa kecil saya di Solo sampai ke Abuja di Nigeria.

Cukup dengan klik di handphone (telepon seluler)," ucap Perry di sela Islamic Financial Service Board (IFSB) Summit di JCC, Jakarta, pada Rabu (12/11).


Kendati begitu, sambungnya, para pemangku kebijakan dan pelaku ekonomi syariah perlu melakukan beberapa langkah untuk memaksimalkan penggunaan digitalisasi di sektor syariah. Pertama, melakukan digitalisasi di sektor keuangan, khususnya bank.
Caranya, dengan mengubah sistem pelayanan bank dari yang sebelumnya manual dan terbatas di kantor cabang dengan berbasis aplikasi. Aplikasi itu harus mampu diakses dari perangkat seluler di manapun.


"Kami mendorong agar mereka (bank) memberikan pelayanan terbuka dengan teknologi digital agar dapat menyediakan banyak aplikasi," katanya.


Menurut Perry, digitalisasi harus lebih dulu dilakukan di bank karena lembaga keuangan ini menjadi pilar utama dalam sektor keuangan syariah. Transaksi di perbankan menjadi penyumbang utama ekonomi syariah.


Kedua, mengembangkan perusahaan jasa keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) berbasis syariah. Caranya, dengan mengolaborasikan fintech yang akan menjadi pemain penunjang dengan bank sebagai pemain utama di sektor keuangan.
Ketiga, mengembangkan perusahaan rintisan (startup) yang mampu menopang aktivitas ekonomi syariah. Misalnya, ekonomi yang digerakkan oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pondok pesantren, dan bank wakaf mikro.


Keempat, meningkatkan penetrasi pembayaran digital berbasis kode biometrik alias quick respons (QR).


"Saat ini kami sedang proses interlink standar kami dengan Malaysia, Singapura, Pakistan, dan Arab Saudi agar petani di desa dapat menggunakan interlink QR dengan Pakistan. Ini untuk menggantikan infrastruktur sistem pembayaran ritel," jelasnya.


Kelima, kolaborasi tanpa batas dengan pemangku kebijakan syariah di negara-negara lain, khususnya terkait keamanan pertukaran informasi, data, dan dana. "Transformasi digital inilah yang bisa membuat kita sustainable dan inklusif, sehingga membawa kesejahteraan," ujarnya.


Senada, mantan gubernur Bank Negara Malaysia Zeti Akhtar Azis yang turut hadir dalam forum tersebut menyatakan bahwa digitalisasi memang bisa mendongkrak ekonomi syariah di sejumlah negara-negara berpenduduk muslim. Sekalipun ada bayang-bayang disruptif, teknologi digital tetap memberi manfaat berupa efisiensi, kecepatan, dan keterjangkauan yang luas.


"Misalnya Alipay dari China, itu telah secara signifikan mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan efisiensi ekonomi, namun perkembangan ini perlu aturan dan standar keselamatan cyber yang perlu diatasi," tuturnya. (CNNI/d)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments