Selasa, 22 Sep 2020
  • Home
  • Ekonomi
  • Bayang-bayang Krisis Hantui Singapura Pasca Serangan Corona

Bayang-bayang Krisis Hantui Singapura Pasca Serangan Corona

Redaksisib Senin, 10 Februari 2020 11:57 WIB
kompas.com

Warga Singapura terlihat mengantri panjang untuk membayar barang-barang belian mereka di FairPrice Xtra, Vivo City, Singapura, Sabtu Siang (08/02/2020)

Singapura (SIB)
Merebaknya wabah virus corona di China berimbas cukup telak pada perekonomian Singapura. Negara tetangga Indonesia ini jadi salah satu negara yang paling bergantung pada China.

Dilansir dari CNBC, Minggu (9/2), Singapura begitu bergantung pada China. Banyak berhentinya bisnis di China, serta anjloknya wisatawan asal Negeri Panda itu, membuat Singapura sangat terpukul.

Sebelum virus corona menyerang, Singapura sudah mengalami tekanan ekonomi imbas perang dagang China-Amerika Serikat serta perlambatan ekonomi global. "Hari ini, China tak hanya memproduksi barang-barang murah, barang dengan nilai murah, tetapi mereka juga menguasai pasokan dari barang-barang bernilai tinggi. Ini artinya, pengaruh rantai pasok (China) sangat signifikan ke seluruh dunia," kata Chan Chun Sing, Menteri Perdagangan dan Industri Singapura.

"Saya pikir ini yang jadi pelajaran bagi semua orang untuk benar-benar melihat ketahanan rantai pasok," lanjutnya.
Pemerintah Singapura menetapkan dan menaikkan level kewaspadaan terhadap virus corona hingga ke level oranye. Level oranye merupakan satu level di bawah level merah atau level yang paling berbahaya.

Hingga Minggu (9/2), warga Singapura yang diduga terpapar virus corona adalah 24 kasus. Salah satu negara dengan kasus tertinggi di luar China. Level oranye berarti pertanda bahwa virus dapat menular dengan mudah antar manusia, namun virus tersebut belum menyebar luas di negara ini. Pengumuman pemerintah Singapura terkait perubahan tingkat kewaspadaan terhadap virus corona ini, membuat warga panik untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

"Sejujurnya semua orang akan terkena dampak ini, ini soal masalah tingkat kesulitannya saja. Kuncinya adalah siapa yang bisa pulih lebih cepat dan bagaimana orang merespon krisis, itu yang lebih penting daripada krisis itu sendiri," ujarnya.

Chan berujar, wabah virus corona ini jadi pengalaman berharga bagi Singapura untuk tidak terlalu bergantung pada China secara ekonomi. Dunia pariwisata Singapura jelas terkena dampak merebaknya virus korona ini. Singapura juga bersiap menghadapi dampak ekonomi dari virus ini.

”Kami harus siap menghadapi dampak ekonomi, bisnis, dan kepercayaan konsumen pada tahun ini, terutama karena situasinya diperkirakan bertahan untuk beberapa waktu,” kata Chan.

Chan mengatakan, Pemerintah Singapura sedang mempertimbangkan langkah-langkah dukungan untuk sektor-sektor yang terpukul keras seperti pariwisata. Warga China merupakan pengunjung terbanyak ke Singapura, yakni seperlima dari total kunjungan turis atau bisnis yang masuk ke Singapura. Dampak virus korona ini akan dirasakan sektor pariwisata Singapura dalam beberapa bulan mendatang dan mungkin ”membayangi” pertumbuhan ekonomi negara itu untuk kuartal pertama.

Namun, dengan ketidakpastian yang masih berputar-putar mengenai keparahan dan penyebaran virus, menurut beberapa ekonom, seperti dikutip CNA, masih terlalu dini mengatakan seberapa besar dampak virus itu terhadap ekonomi Singapura secara keseluruhan.

Selena Ling, Kepala Riset dan Strategi Keuangan OCBC, mengatakan bahwa pembatalan tur, bersamaan dengan kepercayaan pada bisnis dan ekonomi, setelah wabah virus korona kemungkinan akan ”membayangi” momentum pertumbuhan ekonomi Singapura di kuartal I-2020.

Tidak hanya Singapura yang terkena dampak pembatalan tur kelompok dari China. Thailand yang menjadi negara tujuan favorit turis China pun juga terkena dampak pembatalan kunjungan turis dari China itu. Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) mengatakan, jumlah wisatawan China ke Thailand diperkirakan turun hingga 2 juta kunjungan, dari 11 juta kunjungan menjadi 9 juta kunjungan.
Larangan tur kelompok tersebut jelas menghantam turisme di Thailand karena tur kelompok itu merupakan sumber pengunjung terbesar wisatawan asing ke Thailand.

Thailand memperkirakan, berkurangnya perjalanan kunjungan wisatawan China ke Thailand akan mengakibatkan hilangnya pendapatan pariwisata Thailand sebesar 50 miliar baht setara dengan 1,52 miliar dollar AS atau sekitar Rp 20,7 triliun. Kepanikan warga Semakin meluasnya wabah virus corona, membuat warga Singapura resah. Mereka semakin panik setelah Pemerintah Singapura menaikkan status penyebaran corona, dari level waspada ke oranye sejak Jumat (7/2) lalu.

Dilansir dari SCMP, warga Singapura ramai-ramai menggeruduk supermarket dan memborong keperluan untuk persediaan logistik harian seperti tisu dan mie instan. Pemerintah Singapura sudah menyatakan bahwa stok barang-barang kebutuhan pokok tersebut masih terkendali, sehingga meminta warganya tak perlu panik berlebihan. Di sejumlah supermarket, tampak warga Singapura rela antre panjang untuk mendapatkan bahan pokok yang dibutuhkan. Rak-rak di beberapa supermarket bahkan sudah terlihat kosong.

Seperti yang di NTUC FairPrice, salah satu supermarket di kawasan Bukit Timah Plaza, tampak antrean mengular warga yang berbelanja. Sementara di deretan lainnya terlihat warga dengan troli belanjaan penuh. Warga Singapura kini dihadapkan pada situasi sulit untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan harian karena lonjakan permintaan yang tinggi sejak Jumat lalu.

Selain menyerbu supermarket, toko-toko online penyedia bahan pokok juga tak luput dari imbas kepanikan warga, sehingga barang-barang yang tersedia langsung ludes diborong dalam waktu singkat. (Kompas.com/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments