Senin, 21 Okt 2019
  • Home
  • Ekonomi
  • Awal Tahun 2014, Pemerintah Tambah Utang Rp 40 Triliun

Awal Tahun 2014, Pemerintah Tambah Utang Rp 40 Triliun

*Indonesia Terbitkan "Global Bond" Terbesar dalam Sejarah
Kamis, 09 Januari 2014 19:50 WIB
Jakarta (SIB) - Di awal tahun ini pemerintah langsung tancap gas menarik utang untuk memenuhi defisit anggaran. Hari ini pemerintah mengumumkan menambah utang lewat penerbitan surat utang (obligasi) berdenominasi dolar AS dengan total US$ 4 miliar atau Rp 40 triliun.

Pada siaran pers Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rabu (8/1), obligasi dolar AS ini diterbitkan di New York, AS. Obligasi ini diterbitkan dalam 2 seri, yaitu RI0124 dan RI0144.

Untuk RI0124 bertenor atau jangka waktu 10 tahun dengan kupon atau bunga 5,875% dan yield 5,95%. Obligasi ini akan jatuh tempo pada 15 Januari 2024.

Sementara untuk seri RI0144, akan memiliki tenor 30 tahun dan kupon 6,75% serta yield 6,85%. Obligasi ini akan jatuh tempo pada 15 Januari 2044.

Pada saat ditawarkan ke investor, jumlah investor yang berminat nilainya mencapai US$ 17,5 miliar, namun pemerintah memutuskan menyerap US$ 4 miliar saja. Untuk seri RI0124, sebanyak 66% investor berasal dari Amerika Serikat (AS), 17% dari Eropa, 6% dari Asia, dan 11% dari Indonesia.Untuk seri RI0144, sebanyak 70% investor dari AS, 16% dari Eropa, 11% dari Asia, dan 3% dari Indonesia.

Bertindak sebagai joint lead managers adalah Bank og Amerika Merrill Lynch, Citigroup, dan Deutsche Bank. Sementara co-Managers adalah PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas.

Penjualan obligasi global atau Global Bond itu adalah yang terbesar dalam sejarah sekaligus menyamai dengan yang pernah diterbitkan Korea Selatan guna menarik modal asing dan mengembalikan nilai tukar mata uang yang belakangan ini terpuruk.

Dalam penjelasannya hari ini, Rabu (8/1), surat utang yang dirilis pemerintah terdiri dari 2 miliar dollar AS obligasi global bertenor 10 tahun dengan kupon 5,95 persen dan 2 miliar dollar AS dengan jangka waktu 30 dengan imbal hasil 6,85 persen.

Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah anjlok 21 persen pada tahun lalu menjadi 12.240 per dollar AS setelah cadangan devisa tinggal bawah 100 miliar dollar AS. Sementara itu, defisit transaksi neraca berjalan mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 1,75 persen sejak awal Juni guna memperlambat ekonomi dan mengurangi impor.

"Indonesia harus menawarkan imbal hasil yang layak dengan mempertimbangkan ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga, ujar " Mika Martumpal, kepala penelitian dan strategi treasury di PT Bank CIMB Niaga sebagaimana dikutip dari Bloomberg. (Dtf/Kps.com/x)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments