Senin, 17 Feb 2020
  • Home
  • Ekonomi
  • 2020, Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Dibayangi Risiko Bias ke Bawah

2020, Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Dibayangi Risiko Bias ke Bawah

Jumat, 14 Februari 2020 14:42 WIB
sentralberita.com

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, meski terdapat peluang peningkatan permintaan domestik seiring dengan investasi swasta serta perluasan penerapan biodiesel, pertumbuhan ekonomi Sumatera 2020 dibayangi risiko bias ke bawah.

Medan (SIB)
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, meski terdapat peluang peningkatan permintaan domestik seiring dengan investasi swasta serta perluasan penerapan biodiesel, pertumbuhan ekonomi Sumatera 2020 dibayangi risiko bias ke bawah.

"Risiko yang akan membayangi yakni dalam tahun 2020 ini akan ada Pilkada serentak di beberapa kota di Sumatera maupun nasional. Kemudian ekspektasi masyarakat akan ekonomi ke depan yang masih positif berpotensi tetap mendorong aktivitas belanja masyarakat,” ungkap Wiwiek kepada wartawan, Kamis (13/2).

Untuk konsumsi, katanya, laju inflasi yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya mengurangi daya beli masyarakat. Kemudian keterlambatan penyaluran bansos akan menahan belanja rumah tangga.

Kemudian dari sisi pemerintah yakni adanya kendala dalam realisasi belanja modal, seperti lambatnya pengesahan RTRW, pembebasan lahan dan proses tender juga penurunan pagu anggaran.

Sedangkan dari sisi investasi, ujarnya, masih tingginya tantangan perekonomian global yang dapat membuat pelaku usaha bersikap wait and see. Hal ini bisa juga berpengaruh dengan beberapa masalah yang tengah terjadi, sehingga pelaku usaha masih harus hati-hati.

Sedangkan dari sisi ekspor impor yaitu adanya virus corona dapat menurunkan permintaan ekspor barang/jasa (pariwisata). Ini benar sangat berpengaruh sekali, bisa kita lihat bagaimana semua mencari solusi yang tepat dalam penanganannya. Belum lagi dampak negatif dari tidak tercapainya kesepakatan perundingan dagang AS - Tiongkok. Dan yang menjadi pemikiran yaitu dengan adanya kebijakan Uni Eropa yang membatasi penggunaan CPO.

“Terakhir dari sisi Permendag No. 84 Tahun 2019 terkait Ketentuan Impor Limbah Non B3 sebagai bahan baku industri yang dapat merugikan industri yang memiliki bahan baku limbah. Jadi ini semua ini sebagai bayangan risiko pada pertumbuhan ekonomi di pulau Sumatera," imbuhnya. (M2/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments