Sabtu, 07 Des 2019

Wakil Ketua MPR Ajak Pemuka Agama Jadi Perekat Persatuan

admin Selasa, 19 Maret 2019 22:30 WIB
Mahyudin
Jakarta (SIB) -Wakil Ketua MPR Mahyudin mengibaratkan Provinsi Kalimantan Timur sebagai Indonesia mini dengan berbagai agama, suku dan bahasa. Ia pun mengajak para pemuka agama di Kalimantan Timur, yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) untuk menjadi pelopor persatuan.

"Saya berharap pemuka agama menjadi perekat kerukunan," kata Mahyudin dalam keterangan tertulis, Senin (18/3).

Hal tersebut diungkapkannya di hadapan para pemuka agama yang datang dari MUI, PGI, KWI, PHDI, Walubi, dan Matakin saat Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, di Samarinda, Kalimantan Timur.

Meski menilai kerukunan ada di Provinsi Kalimantan Timur, ia tetap mengingatkan akan adanya tantangan dan ancaman. Menurutnya perbedaan merupakan sebuah potensi sekaligus sebagai tantangan.

"Dengan sosialisasi kita harapkan persatuan di Kalimantan Timur akan semakin baik," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan Empat Pilar MPR merupakan alat pemersatu bangsa. Untuk itu kegiatan yang digelar di Aula Kantor Gubernur Kalimantan Timur itu dikatakan sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa persatuan.

Menurut Mahyudin, peran persatuan sangat penting bagi Indonesia yang dijajah selama ratusan tahun oleh Belanda. Bukan karena si penjajah merupakan bangsa yang hebat, namun mereka bisa mengadu domba suku dan golongan di Tanah Air.

Ia pun menyebut kejadian serupa saat ini disebut juga terjadi di Timur Tengah, di mana di antara bangsa Timur Tengah terjadi peperangan. Padahal menurut dia, kawasan itu memiliki bahasa dan agama yang sama. Adu domba terjadi karena kawasan Timur Tengah kaya dengan sumber alam.

"Timur Tengah diadu domba karena kaya minyak," ucapnya.

"Dulu kita dijajah dan diincar bangsa-bangsa Eropa juga karena kaya dengan beragam sumber daya alam," ungkapnya.

Terkait hal itu Mahyudin menjelaskan kekayaan alam di Indonesia melimpah dan memiliki potensi yang tinggi. Apalgi Indonesia juga memiliki dua musim dengan sumber cahaya matahari sangat melimpah.

"Sehingga setiap tahun kita bisa bercocok tanam. Ini berbeda dengan Eropa yang memiliki 4 musim dan ketika musim dingin tiba mereka butuh batu bara untuk energi ekstra," jelasnya.

Bagi Mahyudin, Indonesia tak hanya kaya dengan sumber daya alam namun juga beragam suku, bahasa, agama, dan perbedaan lainnya. Untuk itulah ketika Indonesia merdeka, kemerdekaan itu merupakan jembatan emas untuk mengelola dan mempersatukan semua yang ada.

Tujuan Indonesia merdeka menurut dia di antaranya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyejahterakan kesejahteraan umum. Namun ia menyesalkan saat ini semua sibuk dan fokus pada masalah politik, Pemilu, dan demokrasi.

"Seolah-olah demokrasi menjadi tujuan padahal hanya sebagai sarana," paparnya.

Sementara itu Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Hadi Mulyadi yang hadir dalam kesempatan itu menegaskan Empat Pilar MPR harus tertanam di jiwa masyarakat. Bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa yang luar biasa. Dengan keragaman yang ada tetap bisa bersatu.

"Banyak negara lain bubar tapi kita tetap bersatu," kata Hadi.

Keragaman di Indonesia inilah yang menurutnya perlu dipelihara.

"Keragaman tak boleh membuat kita pecah," ujarnya. (detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments