Jumat, 10 Apr 2020

Polisi Temukan 2 Bom Rakitan di Sekolah Hong Kong

redaksi Rabu, 11 Desember 2019 20:05 WIB
liputan6.com
Kepolisian Hong Kong menemukan dua bom rakitan berukuran besar di halaman salah satu sekolah setempat.
Hong Kong (SIB)
Kepolisian Hong Kong menemukan dua bom rakitan berukuran besar di halaman salah satu sekolah setempat. Dua bom rakitan yang berisi paku itu disebut oleh kepolisian, sengaja dirancang 'untuk membunuh dan melukai orang'. Seperti dilansir Associated Press dan AFP, Selasa (10/12), dua bom rakitan itu ditemukan di halaman Wah Yan College di distrik Wanchai pada Senin (9/12) malam waktu setempat. Seorang tukang sapu di sekolah itu menjadi orang pertama yang menemukannya.

"Bom-bom itu lengkap, berfungsi penuh dan siap untuk digunakan," sebut polisi penjinak bom senior dari Kepolisian Hong Kong, Alick McWhirter, dalam pernyataannya, merujuk pada temuan dua bom rakitan itu. Asal dan perakit bom tersebut tidak diketahui secara jelas. Kepolisian Hong Kong menegaskan dua bom rakitan itu telah dijinakkan.

Disebutkan McWhirter bahwa dua bom rakitan itu berisi total 10 kilogram peledak berbasis amonium nitrat rakitan sendiri yang memiliki daya ledak tinggi. Kedua bom itu diketahui dikendalikan dengan remote control, yang dirancang untuk diledakkan menggunakan telepon genggam.

Serpihan logam termasuk paku ditambahkan ke dalam bom rakitan itu untuk memicu cedera parah. "Kedua peledak ini hanya memiliki satu fungsi, untuk membunuh dan melukai orang-orang," ucap McWhirter.

Diperkirakan, ledakan dua bom itu bisa dirasakan hingga radius 100 meter atau lebih. McWhirter memperkirakan bahwa jika bom itu diledakkan, maka bisa 'menewaskan dan melukai sejumlah besar orang'. Pihak kepolisian meyakini dua bom rakitan itu akan diledakkan di sekolah tersebut, melainkan hanya disembunyikan di sekolah itu untuk digunakan kemudian.
Pada Juli lalu, kepolisian Hong Kong menyita bahan peladak tri-acetone tri-peroksida (TATP) seberat 2 kilogram. Bahan itu kerap digunakan dalam membuat bom oleh kelompok ekstremis, termasuk ISIS.

Kepolisian Hong Kong belum menyatakan apakah temuan bom rakitan itu terkait dengan kelompok radikal yang terlibat dalam demonstrasi selama sejak Juli lalu. Pada akhir pekan lalu, sekitar 10 ribu orang turun ke jalan memperingati enam bulan aksi unjuk rasa. Aksi itu mulanya berjalan damai, tetapi malah berujung kerusuhan karena kelompok radikal membakar sejumlah toko.

Gerakan pro demokrasi di Hong Kong saat ini tidak terpusat terhadap tokoh tertentu. Mereka pun terbelah antara kelompok yang moderat dan radikal, meski mempunyai tujuan yang sama. Gejolak itu dipicu pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang saat ini sudah dicabut oleh pemerintah Hong Kong. Namun, kelompok pro demokrasi masih khawatir dengan masa depan mereka jika rezim yang dipimpin Carrie Lam, yang dianggap dikendalikan oleh China, masih berkuasa. Mereka merasa pemerintah China semakin mengekang kebebasan berpendapat yang dijamin dalam perjanjian penyerahan kedaulatan Hong Kong dari Inggris kepada China pada 1997 silam.(Detikcom/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments