Jumat, 18 Okt 2019

Perilaku Upaya Ganti Pancasila Cukup Tinggi

admin Kamis, 05 September 2019 20:08 WIB
Hariyono
Surakarta (SIB) -Perilaku intoleransi dan upaya mengganti Pancasila dari masyarakat Indonesia sudah cukup tinggi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri pada 2017 menyebutkan, ada sebanyak 19,4 persen aparat sipil negara (ASN) yang menyatakan tidak setuju pada Pancasila.

"Untuk mengatasi masalah itu, BPIP akan terus melakukan sosialisasi Pancasila dan menjadikan Pancasila sebagai pegangan bagi laku manusia," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Hariyono, di Auditorium Kampus Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Senin (19/8).

Hasil survei lain, tambah Hariyono, menyebut ada sekitar tiga persen personel TNI yang menolak Pancasila. Menurut Hariyono, Pancasila adalah ideologi bangsa yang berupa pemikiran, berisi nilai-nilai luhur bangsa. "Karena itu, ideologi harus terus dirawat dan dipelihara agar tidak tergerus dan luntur," katanya.

Hariyono menceritakan karena Pancasila itu pemikiran, sehingga pemikiran orang tuanya belum tentu sama dengan pemikiran anaknya. "Ada anak seorang Pancasilais menjadi menolak Pancasila, dan ada juga anak seorang kiai menjadi teroris," katanya.

Hariyono menambahkan, kondisi masyarakat saat ini terjadi distorsi pemahaman terhadap Pancasila. "Ada elite yang mengaku Pancasila, tapi kenyataannya dia korupsi. Koruptor itu anti-Pancasila," katanya.

KURANG KETELADANAN
Pada tahapan berikutnya, menurut Hariyono, distorsi pemahaman terhadap Pancasila bisa terjadi karena kurangnya keteladanan, adanya sikap inklusivisme, dan intoleran. Untuk itu, BPIP akan melakukan sosialisasi Pancasila lebih intensif agar dapat terinternalisasi dengan baik sehingga menjadi pegangan dan laku hidup," katanya.

BPIP menggelar Konser Kebangsaan dengan tema Apresiasi Prestasi Pancasila Tahun 2019, di De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (19/8) malam. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dipercaya membuka acara dengan membacakan puisi milik Bung Karno yang berjudul Aku Melihat Indonesia dengan semangat berapi-api dan memainkan emosi di tiap baitnya.

Saat menutup bait terakhir puisi tersebut, terselip pesan khusus. "Papua, i love you," ucap Ganjar singkat sambil melihat ke arah salah satu ikon apresiasi prestasi Pancasila dari perwakilan Indonesia timur.

Tepuk tangan kencang mengiringi turunnya Ganjar dari atas panggung. Jelas tergambar dalam pesan tersebut sebagai penyejuk gelombang demonstrasi di Jayapura, Papua, dan kerusuhan di Manokwari, Papua Barat.

Penyanyi campursari, Didi Kempot, tampil menyanyikan dua tembang andalannya yakni Sewu Kutho dan Layang Kangen, menjelang penghujung acara. Konser dan Pemberian Apresiasi 74 Ikon Prestasi Pancasila juga menampilkan beberapa penyanyi lainnya, seperti Gabriel Novianto yang menyanyikan lagu Sepasang Mata Bola, Wizzy menyanyikan lagu Nyiur Hijau, serta Sruti Respati menyanyikan lagu Bengawan Solo.

Kelompok paduan suara Voca Erudita Choir menyanyikan beberapa lagu secara medley, yakni Kopral Jono, Sersan Mayorku, Halo-Halo Bandung, dan Maju Tak Gentar. (KJ/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments