Rabu, 08 Jul 2020
PalasBappeda

Pakar: Ahok Tidak Akan Ditinggalkan Partai Pengusungnya

Sabtu, 13 Agustus 2016 17:33 WIB
Jakarta (SIB)- Pakar politik dari lembaga kajian Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok tidak akan ditinggalkan oleh tiga partai yang mengusungnya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Saya kira sulit tiga partai tersebut menarik diri. Ketiga partai tersebut sudah dikunci Presiden Jokowi. Ketua Umum Nasdem, Hanura dan Golkar tidak akan berani macam-macam, karena jika satu partai saja menarik diri, Ahok akan selesai," kata Pangi di Jakarta, Jumat.

Pangi menekankan Ahok memiliki kedekatan khusus dengan Presiden Jokowi karena keduanya pernah menjadi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Atas dasar itu, kata Pangi, tiga partai akan sulit menarik diri dari komitmennya mengusung Ahok.

"Presiden Jokowi adalah juru kunci. Beliau merupakan elite penentu jadi atau tidaknya Ahok sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, sehingga tiga partai tersebut sulit menarik diri, berbeda halnya kalau Presiden Jokowi tidak lagi berpihak ke Ahok, saya kira Ahok selesai," ujar dia.

Pangi menekankan Presiden Jokowi adalah orang yang mampu menggaransi dukungan tiga partai politik untuk Ahok. Presiden dinilai bisa melobi tiga partai tersebut karena ketua umum tiga parpol tersebut mitra koalisi pemerintah, dan sangat dekat dengan Presiden Jokowi.

Sedangkan terkait kemungkinan partai presiden yakni PDI Perjuangan mengusung calon lain ditengah keberpihakan Jokowi terhadap Ahok, menurut Pangi, hal itu mungkin saja terjadi.

"Kalau Ketua Umum PDIP ibu Megawati ingin mengurangi pengaruh Presiden Jokowi pada kontestasi pilkada tersebut, maka kemungkinan PDIP akan mengusung calon sendiri dan menyiapkan sang penantang dan lawan tanding yang sebanding dengan Ahok," jelas dia.

BISA TINGGALKAN AHOK
Terpisah, Pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai tiga partai politik yang kini mendukung bakal calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bisa sewaktu-waktu meninggalkan pria yang karib disapa Ahok itu.

Di antara tiga partai pendukung Ahok yakni Golkar, Hanura, dan Nasdem, Ubedilah menyebut Golkar lah yang paling berpotensi meninggalkan Ahok karena kader internal partai yang tidak satu suara.

"Golkar itu cara berpolitiknya cenderung pragmatis dan akomodatif. Jadi begitu trennya PDI Perjuangan berhasil mencalonkan Risma (Tri Rismaharini), misalnya, Golkar akan menimbang-nimbang untuk meninggalkan Ahok," tutur Ubed, sapaan karib Ubedilah, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (12/8).

Menurut dia, kemungkinan partai politik meninggalkan Ahok sangat besar karena mantan bupati Belitung Timur itu memiliki kelemahan yakni arogansi personal dan dinamika politik yang terlalu "liar".

Ahok yang sebelumnya merupakan kader Partai Gerindra, memutuskan keluar dari partai tersebut pada 2014 karena perbedaan pendapat tentang RUU Pilkada.

Ia pun kembali "meninggalkan" relawan Teman Ahok, saat memutuskan maju dalam Pilkada DKI 2017 melalui jalur partai. Padahal, gerakan relawan tersebut telah berhasil memperoleh satu juta KTP dukungan agar Ahok bisa maju secara independen.

Dengan dua preseden buruk tersebut, PDI-P yang semula membuka peluang untuk mendukung Ahok, kini terkesan menjauh dari mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu.

Terlebih, setelah Ahok menolak undangan pendaftaran calon gubernur DKI oleh PDI-P, sesuai mekanisme internal partai berlambang banteng.

Menurut Ubed, sepak terjang Ahok yang terkesan melecehkan partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi, akan berakibat buruk pada pencalonannya sebagai gubernur DKI Jakarta.

"Ahok akan (berakhir) tragis dan 'gigit jari'. Itu buah dari komunikasi politik yang dia bangun," tutur Direktur Pusat Studi Sosial Politik (Puspol) Indonesia itu.

Sementara itu, partai Golkar, Hanura, dan Nasdem menegaskan akan tetap kompak/solid karena dukungan yang diberikan untuk Ahok telah diputuskan melalui kajian yang matang. (Ant/l)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments