Selasa, 19 Nov 2019

Nasib di Ujung Tanduk, Merpati Ingin Terbang Lagi

* Pakai Pesawat Buatan Rusia
Selasa, 13 November 2018 16:17 WIB
Jakarta (SIB)- Nasib maskapai penerbangan PT Merpati Nusantara Airlines (persero) amat bergantung pada putusan hakim Pengadilan Niaga Surabaya yang akan mengumumkan keputusannya, Rabu (14/11).

Pasalnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai salah satu kreditur terbesarnya telah menolak perdamaian yang diajukan BUMN penerbangan itu. Penolakan itu mementahkan persetujuan yang diberikan oleh kreditur lainnya yang menyetujui upaya restrukturisasi Merpati dalam rapat kreditur yang berlangsung Rabu, 31 Oktober 2018, dua pekan lalu.

PT Bank Mandiri Tbk dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) selaku kreditur separatis (memiliki jaminan) menyatakan persetujuannya. Demikian juga dengan kreditur konkuren (tidak memiliki jaminan). Dari 85 yang hadir, sebanyak 81 kreditur yang memberikan persetujuan.

Presiden Direktur Merpati Capt Asep Ekanugraha mengatakan bahwa pihaknya telah berusaha sekuat tenaga meyakinkan kreditur agar menyetujui usulan resktrukturisasi yang diajukan perusahaan.

"Harapan kami, majelis hakim bisa memutuskan yang terbaik sebab proposal restrukturisasi yang akan kami jalankan tergantung pada diterimanya perdamaian oleh para kreditur," ujar Asep di Jakarta, Minggu (11/11).

Saat ini Merpati telah memiliki mitra strategis, yakni PT Intra Asia Corpora yang bersedia melakukan penyetoran modal hingga Rp6,4 triliun untuk membuat perusahaan itu kembali mampu mengudara. Dengan masuknya mitra strategis itu, diharapkan kewajiban yang dimiliki Merpati kepada berbagai pihak sebesar Rp10,3 triliun dapat dibayarkan sesuai dengan skema restrukturisasi.

Namun, jadi tidaknya rencana itu amat bergantung pada hasil putusan Pengadilan Niaga Surabaya. Bila putusannya memailitkan, berarti Merpati akan segera dilikuidasi untuk membayar seluruh utang-utangnya.

Namun, bila putusan itu ditempuh, para kreditur akan mendapatkan nilai yang sangat kecil karena aset yang dimiliki perusahaan itu tidak mencapai Rp10,3 triliun.

"Semua pihak akan rugi karena tidak mendapat hasil yang maksimal. Oleh karena itu, lebih baik tawaran perdamaian kami disetujui sehingga rencana restrukturisasi yang sudah disusun dapat terlaksana," tandasnya.

Manajemen Merpati memperkirakan dapat mampu kembali mengudara tahun depan bila proposal perdamaian dapat diterima.

Buatan Rusia
Presiden Direktur Merpati Nusantara Airlines Asep Ekanugraha mengatakan, jika beroperasi nanti Merpati  Airlines tak akan menggunakan pesawat buatan Boeing dan Airbus.

"Perusahaan nantinya dalam mengoperasikan penerbangan tidak menggunakan pesawat Boeing atau Airbus tapi akan menggunakan pesawat produksi Rusia. Tapi pesawat yang kita gunakan adalah buatan Rusia dan bukan yang pernah kecelakaan di Gunung Salak," kata Asep di Jakarta, Senin (12/11).

Ia menuturkan, pihaknya dalam mengoperasikan MNA pada 2019  tidak akan bermain di segmen maskapai penerbangan bertarif rendah (LCC). Selain akan lebih menyasar penerbangan di wilayah Indonesia timur, pihaknya juga akan melakukan penerbangan ke wilayah Indonesia barat yang dinilai sangat potensial juga memungkinkan ke luar negeri. (Media Indonesia/Liputan6/h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments