Senin, 16 Sep 2019
  • Home
  • Dalam Negeri
  • Menkeu, Kapolri, Panglima TNI Pamer Pengungkapan Kasus Penyelundupan

Menkeu, Kapolri, Panglima TNI Pamer Pengungkapan Kasus Penyelundupan

admin Rabu, 16 Januari 2019 20:48 WIB
SIB/ANT/M N Kanwa
EKSPOS HASIL PENINDAKAN BEA CUKAI: Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kedua kiri), Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan (ketiga kiri), Menteri Keuangan Sri Mulyani (keempat kiri), Jaksa Agung M Prasetyo (kelima kiri), Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tja

Batam (SIB)- Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan program Penertiban Impor, Cukai, dan Ekspor Berisiko Tinggi (PICE-BT) yang digagas pemerintah berhasil menekan peredaran barang selundupan.

Sri Mulyani mengatakan keberhasilan ini berkat sinergi beberapa kementerian dan aparat penegak hukum. "Saya berterima kasih khususnya kepada Bapak Panglima TNI (Marsekal Hadi Tjahjanto), terutama pada operasi di laut, di berbagai wilayah di Indonesia timur juga. Saya juga berterima kasih kepada Pak Kapolri (Jenderal Tito Karnavian) atas dukungannya yang luar biasa.

Kepada Bea-Cukai juga atas kerja kerasnya," kata Sri Mulyani di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (15/1).

Dalam kegiatan ini, hadir Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Ketua KPK Agus Rahardjo, serta Jaksa Agung M Prasetyo. Sri menerangkan sejak program PICE-BT dijalankan, terdapat penurunan entitas importir berisiko tinggi sebesar 46 persen.

Kemudian kenaikan tax base mencapai 62 persen. "Kita di sini bersama-sama untuk melihat salah satu hasil pelaksanaan dari kolaborasi, kerja sama yang luar biasa antara Bea-Cukai, TNI, dan Polri dalam rangka pengamanan pantai timur Sumatera dan Pulau Batam," terang Sri.

Sri menjelaskan barang bukti penegakan hukum terhadap tindak penyelundupan di pantai timur Sumatera antara lain minyak, rokok, narkoba, minuman keras, hingga mobil mewah. "Pada hari ini juga, ada di kapal ini merupakan hasil dari tangkapan Bea-Cukai terhadap kapal penyelundup solar, bahan bakar diesel sebesar 1.500 ton atau 1.500 kiloliter," tutur Sri.

Sementara itu, Tito menuturkan target awal program PICEBT adalah penyelundupan melalui pelabuhan resmi. Namun, setelah dilakukan berbagai penangkapan di pelabuhan resmi, para penyelundup beralih ke pelabuhan tidak resmi atau pelabuhan tikus.

"Dampaknya para pelaku penyelundupan lari dari pelabuhan- pelabuhan resmi ke pelabuhan tidak resmi, yaitu yang paling rawan adalah pantai timur Sumatera karena dekat dengan negara tetangga.

Terutama Kepri, Batam dan sekitarnya, Aceh, Sumatera Utara, Jambi, sampai Sumatera Selatan," jelas Tito. Tito menerangkan tindak penyelundupan terbagi menjadi dua jenis yaitu penyelundupan administrasi dan penyelundupan fisik.

"Penyelundupan administrasi, jadi barang yang masuk, administrasinya tidak benar. Contohnya mobilnya Ferrari tapi dokumennya mobil A. Kedua, penyelundupan fisik, jadi jelasjelas nggak ada surat, masuk melalui jalur-jalur pelabuhan tikus," papar Tito. (detikcom/c)

T#gs Kapolri Panglima TNI Pamer Pengungkapan Kasus PenyelundupanMenkeu
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments