Selasa, 15 Okt 2019
  • Home
  • Dalam Negeri
  • Bahas Penanganan 14 Ribu Pengungsi di RI, Kemlu-UNHCR Punya 2 Opsi

Bahas Penanganan 14 Ribu Pengungsi di RI, Kemlu-UNHCR Punya 2 Opsi

admin Rabu, 10 Juli 2019 20:07 WIB
Teuku Faizasyah
Jakarta (SIB) -Sebanyak 14.000 pencari suaka ada di Indonesia, termasuk mereka yang bermukim di trotoar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) terus berkoordinasi menangani kondisi ini.

"Kita terus berkomunikasi dengan UNHCR mencoba melihat dari perspektif mereka, tantangan yang mereka hadapi dengan tetap memperhatikan nilai-nilai HAM," kata Plt juru bicara Kemlu, Faizasyah.

Pertemuan antara Kemlu dengan UNHCR digelar di Kompleks Kemlu, Jl Pejambon, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (9/7). Dalam pertemuan ini, pihak UNHCR diwakili, Thomas Vargas.

Melihat kondisi para pengungsi, Kemlu dan UNHCR setidaknya memiliki dua opsi sebagai solusi penanganan. Pertama adalah repatriasi atau mengembalikan ke negara asal. Kedua, yaitu penempatan kembali (resettlement).

"Ada dua hal paling utama untuk solusi mengenai pengungsi, apakah merepatriasinya, kembali ke asal atau kedua, resettlement," kata Direktur Hak Asasi Manusia Kemlu, Achsanul Habib, di lokasi yang sama.

Namun untuk dapat merealisasikan keduanya dibutuhkan beberapa prasyarat. Misalnya repatriasi hanya bisa dilakukan dengan suka rela, aman dan diperlakukan secara manusiawi saat kembali ke tanah air.

Kedua, penempatan kembali ke negara tujuan pencari suaka. Dalam proses ini harus ada penerimaan dari negara tujuan. Namun, ini menjadi masalah karena saat ini komitmen untuk menerima pengungsi di negara-negara maju semakin menurun.

"Yang menjadi kendala sekarang menurunnya komitmen dan pendanaan, baik dari negara-negara maupun dari badan-badan internasional seperti UNHRC, IOM (Organisasi Internasional untuk Migrasi)," sambungnya.

Kondisi ini, membuat para pencari suaka mendesak kepastian UNHCR menangani mereka. Salah satu yang dilakukan ialah demonstrasi di depan kantor UNHCR di Jl Kebon Sirih, Jakpus.

"Ini yang membuat mereka yang sedang transit menjadi frustrasi. Kemudian mereka melakukan katakanlah 'demonstrasi' atau meminta perhatian UNHCR untuk diberi akses, untuk dipercepat penyelesaian mengenai isu pengungsian," papar Habib.

Habib mengatakan jumlah pengungsi di Kebon Sirih pun berganti-ganti tiap harinya. Dia mengatakan para pencari suaka punya tempat pengungsian.

"Tapi mereka berdasarkan informasi, mereka ada di community housing. Makanya, jumlahnya tiap hari bisa berubah. Pertama kali identifikasi kita dari informasi yang kita dapat jumlahnya 106 (orang), di weekend jumlahnya berkurang menjadi 45 (orang). Kemarin jadi 136 (orang). Mungkin hari ini berubah lagi," tuturnya. (detikcom/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments