Jumat, 18 Okt 2019

Agustus Puncak Kemarau, Kekeringan Akan Melanda 28 Provinsi

admin Rabu, 31 Juli 2019 20:26 WIB
Ant/Rony Muharman
KABUT ASAP : Kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah di Provinsi Riau terlihat di kawasan Sungai Siak, Pekanbaru, Riau, Selasa (30/7)
Jakarta (SIB) -Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak kemarau di Indonesia terjadi pada Agustus. Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapinya.

"Perlu saya sampaikan bahwa sesuai dengan yang sudah dirilis dan disampaikan dari BMKG, kekeringan dimulai dari bulan Juli sampai Oktober nanti, kemudian puncaknya akan terjadi di bulan Agustus, dan kekeringan tahun ini akan melebihi kekeringan pada tahun 2018. Memang Itu risiko daerah tropis seperti itu," ujar Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kemenko PMK Dody Usodo saat jumpa pers di gedung Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Selasa (30/7).

Dody menjelaskan kekeringan diprediksi akan melanda 28 provinsi di Indonesia. Total luas wilayah kekeringan diperkirakan akan mencapai 11 juta hektare.

"Ancaman kekeringan itu akan melanda di 28 provinsi, dengan luas wilayah 11.774.437 ha dan ini masyarakat yang akan terpapar dari luasan itu adalah 48.491.666 jiwa," ucapnya.

Dia menjelaskan 55 kepala daerah telah menetapkan keputusan tentang siaga darurat bencana kekeringan. Sebaran wilayah siaga bencana kekeringan itu terdapat di 7 provinsi.

"Sementara itu, sebanyak 55 kepala daerah telah menetapkan surat keputusan bupati dan wali kota tentang siaga darurat bencana kekeringan. Nah di antaranya Provinsi Banten, Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT," jelas Dody.

Pemerintah, jelas Dody, sudah melakukan beberapa upaya antisipasi kekeringan. Di antaranya pendistribusian air ke beberapa wilayah yang dilanda kekeringan hingga pembuatan sumur bor.

"Upaya yang sudah dilakukan oleh kementerian dan lembaga terkait di antaranya pendistribusian air bersih data kemarin itu sudah didistribusikan 7.045.400 liter air, kemudian penambahan jumlah tangki air, pembuatan sumur bor, dan kampanye hemat air," katanya.

Asap Kepung Pekanbaru
Sementara itu, kemarin Pekanbaru dikepung, imbas dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Dinas Kesehatan Provinsi Riau mulai membagikan masker ke warga.

Dinas Kesehatan Provinsi Riau, membagikan masker kepada pengguna jalan yang melintas di Jl Sudirman, Pekanbaru, Selasa (30/7). Pembagian masker ini setelah sejak pagi Pekanbaru dikepung asap Karhutla.

Pembagian masker ini terutama kepada warga yang melintas dengan sepeda motor. Petugas Diskes Riau memberikan masker secara gratis kepada masyarakat.

"Hari ini kita ada membagikan 10 ribu masker di Pekanbaru," kata Sekretaris Diskes Riau, Yohanes.

Yohanes menjelaskan 10 ribu masker itu dibagikan di tiga lokasi. Pertama di depan Mapolda Riau, Jl Sudirman, selanjutnya di perempatan Jl Soekarno Hatta-Tuanku Tambusai. Lokasi ketiga di Kecamatan, Rumbai, Pekanbaru.

"Kondisi udarakan dinamis, kalau udara buruk kita bagikan, kalau tindakan orang ketawa," katanya.

Kabut asap itu belum memengaruhi aktivitas di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II. Seluruh aktivitas penerbangan datang dan akan menuju kota tujuan masih normal.

"Dapat kami sampaikan saat ini penerbangan di Bandara SSK II masih berjalan normal. Penerbangan masih sesuai jadwal," kata GM Bandara SSK II Yogy Prasetyo Suwandi.

Namun demikian, pihak otoritas Bandara SSK II tidak bersedia menyebutkan jarak pandang siang ini di kawasan bandara. "Untuk update jarak pandang ada baiknya bisa konfirmasi ke teman-teman BMKG," kata Yogy.

Sementara itu, data BMKG yang dirilis kemarin menunjukkan intensitas asap di Pekanbaru memang meningkat. Bila jarak pandang sehari sebelumnya menembus di atas 6 km, pagi ini jarak pandang hanya 4 km.

"Dari pantauan kami, memang hotspotnya sudah cukup banyak. Jadi memang terpantau asap wilayah Pekanbaru. Tadi pagi jarak pandang hanya 4 Km, tapi pengamatan kami jam 8 sudah naik menjadi 5 Km," kata Analisis BMKG Pekanbaru Mia Vadilla kepada wartawan, Selasa (30/7). (detikcom/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments