Senin, 30 Mar 2020
Banner Menu
Detail Utama 1

RENUNGAN

Usahakan Kesejahteraan Kota (Yeremia 29:7)

Oleh Pdt Dr Robinson Butarbutar (Ketua Rapat Pendeta HKBP)
redaksisib Minggu, 08 Maret 2020 09:55 WIB

Pdt Dr Robinson Butarbutar

“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Jeremia 29: 7)

Saudara yang terkasih di dalam nama Yesus Kristus! Alkitab mencatat banyak tindakan, nasehat, nilai-nilai, malah prinsip-prinsip dan inspirasi-inspirasi dari Allah yang paradox. Menurut Oxford Dictionary, paradox berarti, suatu pernyataan atau usulan yang kelihatannya aneh yang jika diinvestigasi, bisa sangat berdasar dan benar.” Sebagai contoh, saat dikritisi pemberitaan injil olehnya tidak memakai hikmat kaum/lsuf Sophist yang sifatnya mempertontonkan kepiawaian orasi, rasul Paulus ketika bertugas di Korintus menyebut tidak ada yang lain yang ia beritakan kecuali Yesus yang tersalib. Untuk itu ia mengargumentasikan bahwa salib Yesus yang bagi orang Jahudi merupakan kelemahan adalah kekuatan Allah, bagi orang Yunani merupakan kebodohan baginya merupakan hikmat Allah (1 Kor 1:18-31).

Satu tahun kemudian, saat menghadapi para rasul superlatif yang merendahkan kemampuan orasinya, bukannya menunjukkan kehebatan-kehebatannya sebagai professor Farisaisme, lulusan Gymnasium Tarsus kota filsafat kedua termasyur setelah Atena, ia malah menyebut-nyebut kelemahannya sebagai kekuatan, seperti tidak dijawabnya tiga kali doanya untuk kesembuhan penyakitnya: “Di dalam kelemahan kekuatan Allah nyata” (2 Kor 12: 10).

Pada kesempatan lain, pada saat menceritakan kinerjanya sebagai rasul yang bekerja tanpa membebani pendengar injilnya di tengah-tengah mereka, kepada para penatua jemaat-jemaat Kristen di kota Epesus yang telah datang ke Miletus mengutip sebuah logion (perkataan) Yesus yang telah beredar yang berbunyi demikian: “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis 20: 35). Yesus sang Rabbi par-excellence juga mengajarkan kepada para muridNya, begini: “Barang siapa memertahankan nyawanya akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nayawanya karena Aku, ia akan memerolehnya” (Mat 10: 39).

Tetapi, kita tidak lupa dengan salah satu ucapan bahagia yang Yesus ajarkan di bukit yang mengatakan,: “Berbahagialah orang yang lapar karena mereka akan dikenyangkan (Mat 5:6). Demikianlah halnya juga apa yang Allah firmankan lewat Yeremia kepada kaum terbuang mantan orang-orang penting, terdidik, pemimpin dan bangsawan Juda di Babilonia di mana tenaga dan keahlian mereka yang pernah hidup di ibu kota termasyur Jerusalem yang pernah dipenuhi gedung-gedung termasuk Bait Allah buatan ahli arsitek dan bangunan kelas wahid dengan bahan kayu kelas tertinggi dari Libanon akan dipakai untuk membangun kota di negeri asing.

Bukannya mereka dinasehati untuk membangun kota di Babilonia apa adanya saja, karena toh suatu saat mereka akan pulang ke negeri asal entah kapan, sebagaimana biasanya bangsa-bangsa yang terbuang. Bukannya mereka disabdain untuk mengusahakan shalom mereka dahulu. Sebaliknya, firman Allah justru meminta mereka untuk mengusahakan dengan cermat dan kehatihatian (Ibrani: Daras) agar pertama-tama kota di mana mereka tinggal berada dalam suasana di mana terdapat hidup yang aman, damai, adil dan sejahtera, mengusahakan Shalom, karena di dalam shalom kota itulah men-jadi (Ibrani: haya) hidup yang ber-shalom bagi mereka.

Nabi Yeremia mengungkapkan hal itu bukan semata-mata karena ia tahu bahwa bangsa terbuang itu akan berada di pembuangan selama 70 tahun, dan firman itu disampaikan tak lama sesudah mereka terbuang. Akan tetapi Allah menyampaikan itu karena Ia mau mengajarkan kepada mereka bahwa membangun kota itu dilakukan orang-orang percaya bukan hanya di kampung halamannya, bukan hanya untuk bangsa sendiri, melainkan untuk kota di mana pun mereka tinggal dan bekerja. Hal seperti itulah yang selalu dilakukan oleh orang-orang Jahudi di seluruh tempat di diaspora sejak itu di masa kuno hingga di masa modern dan postmodern.

Itulah juga yang diteruskan dan dikembangkan oleh para pengikut Yesus di kampung, desa, kota kecil, kota besar, dan ibu kota di mana mereka tinggal. Itulah yang menjadi dasar mengapa orang-orang Kristen, termasuk orang Kristen Batak di dalam sejarahnya, selalu membangun di daerah di luar kampung halaman aslinya. Malah selama Indonesia merdeka, orang-orang Kristen Batak lebih suka membangun di tempat di mana mereka tinggal. Sering, sedemikian rupa sehingga kampung halaman mereka sendiri tidak mereka bangun. Cukup lama ditelantarkan. Menjadi urutan pertama bukan shalom kita, melainkan shalom kota itu. Di dalamnyalah manjadi (Ibrani: yihye, dari kata dasar haya) shalom kita.

Saudara saudara yang terkasih! Dalam kurun waktu lima tahun periode pemerintahan Kabinet Indonesia Maju (2019-2024) Ibu Kota Negara yang baru akan hadir. Presiden akan tinggal di sini, Semoi Dua, Kabupaten Penajam Paser, Kalimantan Timur. Sekitar dua juta orang akan hadir di Ibu Kota Baru dari seluruh nusantara. Ke kota-kota satelit di sekitarnya juga akan datang sejumlah besar anak-anak bangsa dan anak-anak bangsa lain. Perkiraan maksimal umat Kristen adalah 20 persen daripadanya, sekitar 200 ribu orang. Dari antaranya mungkin warga HKBP yang suka mengexpresikan kehidupannya di daerah-daerah selain kampung halamannya itu akan hadir 40 ribu jiwa ke Ibu Kota. Di samping itu, ke kota-kota lain di sekitar Ibu Kota mungkin bisa mencapai 20.000 orang dalam masa satu ke dua dekade. Bukankah itu merupakan potensi yang besar untuk mengusahakan shalom pada era Ibu Kota Negara baru di Kalimantan Timur ini?

Jika kita memandang dari kaca mata yang biasa, yaitu kita akan datang ke sini untuk berkompetisi memikirkan untuk diri kita sendiri, maka mungkin kita tidak akan merasa khawatir bahwa kita akan menjadi penonton saja di sini, karena dari sisi SDM warga jemaat memiliki kemampuan yang tinggi. Kita di sini akan mencari kehidupan. Tetapi jika kita memikirkan diri sendiri semata, dapatkah kita mengkategorikan diri kita sebagai orang-orang yang mengusahakan shalom di Ibu Kota Negara baru?

Tetapi jika kita mengikuti paradoks Alkitabiah, paradox Kekristenan, yang sering dilupakan oleh orang-orang Kristen ketika mengadakan urbanisasi pada masa-masa lalu, dengan mengikuti paradox Jeremia 29:7, maka kehadiran kita di Ibu Kota Negara dan di kota-kota sekitar Ibu Kota Negara ini adalah untuk mengusahakan shalom di Ibu Kota Negara dan di kota-kota sekitarnya, karena dengan hadirnya shalom di sini, maka di dalamnya jugalah menjadi shalom kita. Di sana jelas, urutan utamanya bukan mengusahakan shalom kita, sehingga kita bertindak egoistis, memikirkan diri sendiri, melainkan kita pertama-tama mengusahakan shalom di Ibu Kota Negara dan kota-kota lainnya itu.

Karena itu, di dalam konsultasi remapping ini, kita berdoa kiranya Tuhan melalui Roh Hikmat-Nya menuntun kita untuk menjawab bagaimana HKBP memersiapkan warganya disini dan yang akan datang untuk mengusahakan shalom di Ibu Kota Negara yang baru itu sebagai prioritas kita? Mengingat tujuan tersebut, apakah paradox Allah yang diungkapkan oleh nabi Yeremia kepada orang Juda buangan di Babilonia itu dan saat ini berbicara kepada kita dapat menjadi pendorong bagi kita, yaitu agar kita yang tinggal dan akan bermukim di Kalimantan di masa akan datang sudah siap dengan sungguh-sungguh dari hati, jiwa, pikiran dan kemampuan kita untuk ikut membangun kota hijau ini dan ikut memersiapkan bangunan pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia? Sebab visi gereja sudah berada pada arah yang jelas, yaitu agar menjadi berkat bagi dunia.

Oleh karena itu, Gereja harus tampil menjadi pihak yang mengusahakan shalom dalam berbagai bidang. Kita berharap kepada para pemimpin sekarang dan masa akan datang dapat mengefektifkan perannya dalam semangat sebagaimana pesan nabiah bahwa gereja memiliki tanggungjawab di bidang kerohanian dan kehidupan jasmani juga. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.
(Cuplikan Khotbah pada Ibadah Pembukaan Konas Remapping HKBP, Menyongsong Pemindahan Ibu Kota Negara. Balikpapan, 28 Februari 2020). (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments