Rabu, 12 Agu 2020

(Filipi 4:10-20)

Tuhan Kekuatan Kita!

Oleh Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu (Kepala Departemen Pelatihan dan Beasiswa United Evangelical Mission (UEM), Wuppertal, Jerman)
redaksi Minggu, 17 November 2019 15:18 WIB
Sib/Doc
Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu

Biasanya menulis surat dari dalam penjara tentang kata-kata penguatan, hiburan dan terimakasih tentu teramat sulit. Penulis mengingat beberapa tokoh besar seperti Nelson Mandela (tokoh pergerakan anti Apartheid dari Afrika Selatan yang dijebloskan ke penjara selama 28 tahun) dan Dietrich Bonhöffer, seorang pendeta Lutheran Jerman yang sempat ditahan oleh rejim Nazi di Jerman yang kemudian dihukum gantung beberapa hari sebelum Nazi menyerah kepada sekutu namun mereka masih sempat menulis surat-surat inspiratif dan jauh dari nada kebencian.


Demikian halnya dengan rasul Paulus justru dari dalam penjara ia menuliskan surat penggembalaan kepada jemaat Filipi. Situasi mencekam di penjara tidak membuat Paulus berhenti untuk menyampaikan berita kesukaan kepada orang yang pernah menerima Injil keselamatan. Ia masih menyempatkan diri mengucapkan terimakasih kepada jemaat di Filipi, walaupun ia sendiri berada di penjara tergelap di kota Roma. Ada dua hal berharga yang dapat kita camkan dari nats renungan minggu ini.


Pertama, bersyukur adalah sifat sejati pengikut Kristus. Paulus sangat berterimakasih kepada jemaat karena di dalam keterbatasan (ay. 19), mereka tetap bersehati mengumpulkan persembahan dalam pekabaran Injil. Paulus melihat ketulusan hati jemaat Filipi yang memberi bukan karena kelebihan, melainkan karena empati yang ingin turut mengambil bagian dalam kesusahan Rasul Paulus (ay. 14). Motivasi terbaik dalam memberi adalah empati, yakni turut merasakan penderitaan dan beban sesama yang menderita. (Rom 12:15). Persoalan terbesar kita saat ini adalah semakin maraknya roh individualisme, kapitalisme dan konsumerisme yang menjadikan kehidupan pribadi sebagai pusat dari kemanusiaan kita. Sangatlah ironis ketika kemiskinan semakin merajalela di sebahagian besar penduduk dunia sementara kekayaan tak terkendali yang hanya dinikmati segelintir manusia pun makin meluas.

Surat Filipi ini mengajarkan kita saat ini, mari kita pertajam kepekaan diri kita terhadap sesama, mari bersolidaritas terhadap mereka yang terpinggirkan, tersingkirkan dan terbuang. Missions from the margins (Misi dari kaum pinggiran) yang menjadi tema teologis terpenting di gerakan oikumene pada dasawarsa ini mengajarkan kita, bahwa sebelum kita memberi kolekte, donasi, persembahan dan perpuluhan, pastikan bahwa motiv pemberian itu adalah hidup kita yang menyatu dengan hidup sesama kita yang sedang bergumul dengan kekurangan dan kelaparan.


Kedua, Allah adalah sumber kekuatan dan kekayaan kita (Filipi 4:13, 19). Paulus, seorang teolog kawakan Yahudi dan seorang farisi yang sangat taat kepada hukum taurat, ternyata kemudian tidak mendasarkan pekerjaannya terhadap kecerdasan maupun moralitas pribadinya. Dasar segala pengajaran Paulus sangatlah sederhana: "En Xristo" (Di Dalam Kristus). Menurut Paulus, ukuran

keberhasilan dan sukacita dalam pelayanan bukanlah kenyamanan. Rahasia sukacita bagi Paulus adalah pengenalannya akan kasih Kristus yang sempurna bukan hanya di dalam kekuatan namun juga di dalam kelemahannya. Pada perjalanan waktu belakangan ini, kita sering diperhadapkan dengan budaya kekristenan, bahwa ukuran keberhasilan pelayanan adalah kas gereja yang melimpah, para pelayan yang hidup di dalam kemewahanserta gereja-gereja yang gemar berpesta euforia di tengah kemiskinan dan ketidaknyamanan umat lain. Tentu hal-hal yang disebut di atas tidak sepenuhnya salah. Hendaknya kita perlu mempertajam lagi bahwa makna kelimpahan dan sukacita di dalam Tuhan dengan belajar dari pergumulan Ayub, Paulus dan Kristus sendiri.


Bagi Paulus, pelayanan dan pemberian adalah bentuk ketaatan kita kepada Kristus. Pengikut Kristus akan tetap melayani dengan keteguhan hati baik ketika situasi itu baik atau bahkan mengancam kehidupan. Kita dipanggil Tuhan untuk terus menopang gerejaNya baik ketika kondisi perekonomian kita sedang membaik atau justru tengah mengalami kebangkrutan. Mari kita hentikan segala bentuk pengejaran akan kenyamanan dan kebahagiaan semu yang sangat mempengaruhi budaya gereja kita pada saat ini.

Kita terpanggil untuk mengabaikan segala ambisi yang hendak menjadikan kita semakin besar, sementara kemuliaan Tuhan justru makin meredup oleh keriuhan pesta-pesta rohani kita. Paulus hendak mengingatkan kita agar semua pelayanan dan persembahan kita adalah tentang Dia dan bukan tentang kita (ay. 19-20). Penderitaan dan kekurangan merupakan karunia Tuhan yang dicukupkan bagi kita agar kita memahami lebih dalam lagi arti kekayaan dan kemuliaan Allah bagi hidup kita.


Penulis hendak menutup renungan ini dengan mengutip sebuah puisi bernas yang diperoleh dari buku berjudul "Paulus" yang ditulis oleh Charles R. Swindoll (2004: Nafiri Gabriel, Jakarta, Hl. 147): "Aku meminta kepada Allah agar aku diberi suatu kekuatan namun aku dibuat lemah sehingga dapat belajar merendahkan diri untuk taat; Aku meminta kekayaan agar aku bahagia namun kepadaku diberikan kemiskinan agar aku menjadi bijaksana; Aku meminta kuasa agar aku mendapatkan pujian manusia namun kepadaku diberikan kelemahan agar aku merasa membutuhkan manusia; Aku meminta segala sesuatu agar aku menikmati kehidupan tapi aku tidak mendapatkan apa pun yang aku minta; Tetapi segalanya yang pernah aku harapkan…Doa-doaku yang terucapkan dijawab. Aku adalah salah seorang yang paling diberkati secara berkelimpahan."Amin.! (f)




T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments