Sabtu, 04 Apr 2020

Teologi Virus Corona

Oleh: Pdt. Estomihi Hutagalung
Redaksisib Minggu, 01 Maret 2020 20:32 WIB

Pdt. Estomihi Hutagalung

Justru di dalam keterbatasan manusia memahami realitas hidupnya, maka pemaknaan terhadap Tuhan sebagai kandungan dari dimensi teologi, menjadi sesuatu yang selalu baru dan sangat mendesak untuk disadari pada konteks berpijaknya. Itu berarti, gereja diperhadapkan pada titik krusial pemaknaan akan panggilannya untuk mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah di dalam dunia. Gereja diperhadapkan pada panggilan mewujudkan kehendak Allah dalam realitas pergumulan umat beriman itu sendiri.

Oleh karenanya, bagaimanakah gereja, orang Kristen yang mengakui Tuhan sebagai penguasa semesta alam, yang mengakui kuasa memelekkan orang buta, menyembuhkan orang kusta bahkan membangkitkan Lazarus dari kematian, dapat dimaknai dalam realitas banyaknya korban nyawa akibat penyebaran virus corona saat ini? Secara praktis, gagasan demikian dapat dimaknai pada pernyataan Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto yang meyakini adanya kaitan doa dengan kuasa penyebaran penyakit corona.

Itulah sebabnya, pergulatan terhadap keyakinan akan kuasa Tuhan dalam realitas adanya korban nyawa lebih dari delapan ribuan orang, yang berdampak pada hubungan sosial dan ekonomi, menjadi sesuatu yang urgent untuk dimaknai oleh umat beriman sebagai bagian dari gereja. Jika masyarakat Indonesia dianggap "imun terhadap virus corona", apakah itu berarti gereja di Indonesia tidak perlu berefleksi atas kekuasaan Tuhan?

Justru dalam realitas adanya keyakinan tidak terjangkitnya virus corona di Indonesia, maka gereja akan dapat lebih khusuk untuk berdoa, lebih leluasa bertindak menyatakan kepeduliannya guna memaknai realitas pergumulan itu sendiri. Gereja di Indonesia, misalnya, kiranya dapat bersatu untuk melakukan doa berantai dari Aceh sampai ke Papua. Prinsipnya adalah, "dimana dua atau tiga orang berdoa Tuhan hadir. Dan doa orang benar dengan keyakinan penuh akan mempunyai kuasa dalam penyembuhan".

Tentu saja, tuduhan terhadap adanya kesimpulan yang premature dan dianggap merusak tatanan disiplin ilmu teologi, dapat saja dialamatkan ketika gagasan teologi virus corona ini dikemukakan. Dan titik tengkar terhadap pergumulan demikian akan semakin menguras energy gereja sehingga tidak lagi termotivasi dan tidak mempunyai kekuatan untuk bertindak menyatakan kepeduliannya dalam mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam realitas ancaman virus corona saat ini. Jika titik tengkar demikian terus mendorong upaya abortif oleh para teolog dan lembaga gereja terhadap pergulatan teologis ini, maka perulangan terhadap preposisi Nietzsche bahwa "Tuhan telah mati" menjadi alamat frustasi umat beriman itu sendiri.

Basis Refleksi
Bagaimanakah umat beriman sebagai bagain dari gereja dapat memaknai realitas berpijaknya sehingga semakin dekat dan semakin merasakan kuasa kasih penyertaan Tuhan, menjadi sesuatu yang penting dan mendesak untuk dikemukakan. Bagaimanakah realitas penderitaan dunia dapat dilihat sebagai sarana memahami kehendak Tuhan? Itulah titik temu pergumulan bersama oleh gereja-gereja bahkan oleh semua umat beragama. Dengan demikian, realitas penderitaan dunia saat ini, akan dapat membantu umat beriman untuk melihat adanya kuasa Tuhan yang bekerja melewati batas kemampuan (beyond) manusia dalam memaknai hidupnya.

Dengan pendekatan Durkheimian demikian, umat beriman akan dibantu untuk memahami janji penyertaan Tuhan sebagai Allah yang Immanuel. Umat beriman akan dapat dibantu untuk meyakini bahwa Allah yang berkuasa untuk mematahkan kutuk kematian di Mesir, kutuk penderitaan di padang gurun, kutuk kematian iblis di kayu salib melalui penderitaan dan kematian Yesus. Sehingga refleksi teologis atas realitas penderitaan kematian, tekanan batin, kerugian materi yang dilamai dunia saat ini, akan berdampak pada kemauan gereja untuk mereposisi, mereformasi secara terus menerus metode pelayanannya.

Sehingga umat beriman masa kini akan dapat memaknai catatan teks Alkitab mengenai kuasa Allah sang pencipta langit dan bumi, yang membebaskan umat Tuhan dari perbudakan di Babel. Dalam realitas demikianlah umat beriman akan mampu memahi pernyataan Tuhan Yesus, "Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya? (Matius 9:28 sebagaimana teks khotbah minggu pada gereja-gereja Lutheran di Indonesia hari ini).

Involve Pada Penderitaan
Sebagai gereja yang mewarisi "DNA" reformasi, maka gereja akan hidup dan berkembang dalam kemauan untuk berubah menuju kesempurnaan Tuhan. Jika praktek bergereja selama ini sibuk dengan diakoni karitatifnya, maka wujud refleksi teologis atas realitas penderitaan dunia saat ini, harus mendorong, memotivasi umat beriman untuk terus bekerja keras sesuai panggilan profesinya dibidang ilmu kedokteran. Maka gereja harus menyerukan agar semua umat Tuhan, berdoa, berpuasa, memohon penyertaan kuasa-Nya dalam realitas itu sendiri.

Justru pada masa pra-paskah saat ini, agar gereja menyerukan doa berantai dari kota sampai ke pelosok, dari Sabang sampai ke Merauke, dari pemimpin tertinggi gereja sampai pada anak-anak sekolah minggu. Gereja juga harus membantu dan mendorong pemerintah dalam bertindak cepat dalam penanganan penyakit yang mematikan ini.

Sehingga keyakinan umat beriman, sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dapat dimaknai sebagai buah keyakinan orang beriman dalam realitas berpijaknya. Pernyataan "sang Jenderal Anak Tuhan", ini tidak dimaknai sebagai upaya manipulative tetapi sebuah pengakuan pada adanya keterbatasan manusia dan adanya kuasa Tuhan melewati kemampuan manusia.

Dan belajar dari tradisi reformasi dimaksud, maka John Wesley sang pendiri gerakan Methodist dapat menjadi sebuah acuan. Sebab pada faktanya, komunitas orang beriman dalam persekutuan Methodist yang dipimpin oleh John Wesley selalu berada bersama (involve) dengan orang-orang sakit, miskin, rakyat jelata. Bahkan John Wesley selalu berkorban, mencari dan menyediakan dana kesehatan serta memberi tempat untuk merawat orang sakit (cikal bakal rumah sakit masa kini).

Bagi John Wesley, kekudusan umat beriman harus berdampak pada realitas hidup berpijak umat beriman. Wesley hendak mendorong keyakinan serta kesadaran orang-orang Methodist dan masyarakat Inggris untuk mengalami, merasakan janji penyertaan Tuhan sebagai Immanuel. Dan buah dari pendampingan dan kesediaan untuk berkorban (involve) tersebutlah yang membangkitkan iman dan semangat masyarakat Inggris untuk memperoleh kesehatan secara jasmani dan rohani.

Pada realitas praktek bergereja demikian maka gerakan Methodist telah mentransformasi rohani dan sosialnya sehingga, sebagaimana dicatat dalam sejarah dunia, gerakan Methodist telah yang menyelamatkan Inggris raya dari revolusi berdarah sebagaimana terjadi dalam revolusi Prancis.

Dengan demikian, pemaknaan terhadap Tuhan dalam realitas merebaknya virus corona bukan sesuatu yang harus dihindari Gereja tetapi menjadi sarana untuk memahami adanya kuasa Tuhan di dalam penderitaan itu sendiri. Pada pengakuan demikianlah teologi virus corona menjadi sesuatu yang penting dikemukakan sebagai buah keberimanan dalam realitas berpijak umat Tuhan. Amin. (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments