Selasa, 07 Apr 2020

Program Gereja Dinilai Tidak Menarik

Survei : 52% Milenial Tidak Lagi Berinteraksi Dengan Gereja

Minggu, 23 Februari 2020 20:35 WIB
alinea.id

Ilustrasi Gereja

Jakarta (SIB)
Tak seperti asumsi kebanyakan orang, kaum milenial ternyata memercayai hal-hal yang berkaitan dengan kerohanian. Mereka masih percaya hal rohani.

Itulah salah satu pokok pikiran yang mengemuka dalam forum Church Leader Gathering bertema “Bringing Shalom Across Generations”, yang diadakan Wahana Visi Indonesia (WV Indonesia), Senin (10/2) di Jakarta.

Berdasarkan riset Barna dan World Vision Internasionalâ€"yang bertajuk “Connected Generation” pada September 2019â€"ditemukan bahwa 47% dari total responden anak muda berusia 18-35 tahun (kaum milenial) memercayai hal-hal yang berkaitan dengan kerohanian. Survei mencakupi 15.000 responden, di 25 negara, dengan menggunakan sembilan bahasa berbeda. Di Indonesia 75% responden masih percaya akan hal-hal rohani.

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Bambang Budianto dari Bilangan Research Center (BRC). Hasil survei BRC mengungkapkan bahwa 80,7% responden generasi milenial (usia 15-25 tahun, 4.000 responden, 42 kota), menyatakan bahwa efek pemuridan orang lain banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan rohani pribadi. Dan yang dianggap sangat berperan dalam pertumbuhan rohani kaum muda adalah para hamba Tuhan dan teman-teman sebaya mereka.

Bambang mengemukakan juga fakta tren generasi milenial meninggalkan gereja, 52 % responden mengutarakan alasan tidak lagi berinteraksi dengan gereja karena program gereja tidak menarik, tidak berguna, tidak relevan, 20% milenial merasa tidak dilibatkan (engagement) dalam pelayanan gereja, 14,3% leadership disconnect, 5,6% tidak autentik.

Temuan-temuan lainnya juga mengungkapkan fakta bahwa generasi muda memiliki perhatian yang besar pada isu global seperti korupsi. perubahan iklim, polusi, rasisme dan kemiskinan. Namun, hanya sedikit dari mereka yang merasa gereja membantu mereka mengerti lebih baik tentang keadilan sosial. kemiskinan dan orang-orang yang termarjinalkan.

Gereja memiliki peluang besar untuk mendukung kesiapan generasi muda menghadapi tantangan zaman. Akan tetapi, berdasarkan survei Barna terungkap hanya 20-33% generasi muda di Indonesia yang merasa gereja menolong mereka memahami kemiskinan dan keadilan sosial.

Ditemukan juga bahwa hanya 15% generasi muda Indonesia yang merasa terinspirasi untuk menjadi pemimpin karena keteladanan seseorang di gereja. dan hanya 9% yang merasa mendapatkan pelatihan kepemimpinan dari gerejanya. Padahal gereja membutuhkan mereka sebagai pemimpin-pemimpin masa depan.

Salah satu fakta yang terungkap dari riset global Barna adalah masyarakat kita sedang menghadapi krisis dalam kepemimpinan karena tidak ada cukup pemimpin yang baik saat ini. “82% orang responden young adults, menyatakan masyarakat menghadapi krisis kepemimpinan” ungkap Daniel Copeland Direktur Riset Barna.

Merespons hasil riset Barna dan Bilangan Center, yang mengungkapkan tren relasi generasi milenial gereja terhadap dinamika kegerejaan dan kekristenan, serta realitas kondisi global, Rama Carolus Putranto (Keuskupan Agung Jakarta) mengajak gereja terus belajar dari kaum muda. Kemudaan bukan masalah usia, namun masalah komitmen hidup yang mengajak gereja untuk terus membangun panggilan kemudaannya untuk tidak pernah berhenti belajar tentang hal-hal yang baru sehingga makin berdampak dan dapat melibatkan kaum milenials dalam melayani Tuhan dan sesama.

Sedangkan Pendeta Jacky Manuputy (Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) menyatakan bahwa kaum muda adalah kaum yang potensial dan harus terus diberdayakan sebagai bagian dari human capital gereja untuk merespons isu-isu sosial.

Dalam forum tersebut, Doseba T. Sinay, National Director WV Indonesia, menyatakan bahwa gereja adalah mitra tak tergantikan yang sudah bekerjasama dengan WVI dalam program-program Saluran Harapan Perlindungan Anak untuk para Pendeta, Pengasuhan Dengan Cinta, Revitalisasi Budaya dan program melibatkan anak muda dalam volunterisme di area pelayanan WVI.

“Generasi muda dan permasalahannya selalu menarik dan menjadi perhatian kita semua,” papar Doseba, “kami terus berjalan bersama gereja untuk memakai peluang ini guna memfasilitasi dan memberi ruang bagi generasi muda agar terlibat lebih nyata dalam gereja dan masyarakat.”

Anil Dawan, selaku ketua panitia menegaskan bahwa tujuan forum ini adalah memberi informasi sebagai wake up call, namun empatik membangun kesadaran bersama tentang pentingnya memperhatikan kaum milenials sebagai sahabat dan mitra serta aset gereja dan bangsa.
Dan tujuan itu sedikit banyak agaknya telah terpenuhi. (sh/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments