Jumat, 19 Jul 2019

Sudah Selesai!

* (Memaknai Perayaan Paskah Saat Pesta Demokrasi) * Catatan Pdt Dr Pahala J Simanjuntak, Dosen STT HKBP P Siantar
admin Minggu, 21 April 2019 14:55 WIB
Pdt Dr Pahala Simanjuntak
Peristiwa kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus dipandang dari pemikiran (logika) manusia tidaklah masuk akal. Terutama bagi orang-orang yang hidup di zaman Tuhan Yesus ketika itu. Banyak orang menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi bahkan dianggap sebagai rekayasa manusia atau mitos. Akan tetapi hal itu tidak perlu diperdebatkan karena itu merupakan rencana Allah. Yang jelas peristiwa kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus itu telah benar-benar terjadi dan tercatat dalam sejarah dunia. Umat Kristen di seluruh dunia meyakini peristiwa itu sebagai bukti pengasihan Allah kepada dunia. Allah mengutus putra-Nya yang tunggal ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa (Yoh. 3:16). Selanjutnya orang Kristen mempercayai peristiwa ini menjadi pusat pemberitaan dan kebenaran kitab suci (Alkitab) di sepanjang abad. Peristiwa itu terjadi hanya sekali untuk selamanya.

Proklamasi Solidaritas
Untuk meyakinkan kita akan peristiwa itu kitab suci Perjanjian Lama khususnya kitab nabi-nabi telah menubuatkannya terlebih dahulu. Kitab nabi Yesaya misalnya berkata: "Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh (Yes. 53:5)." Nubuatan ini menunjuk kepada pribadi Yesus Kristus anak Allah dan 'Mesias' yang menderita di kayu salib. Artinya peristiwa ini bukanlah rekayasa manusia tetapi merupakan rencana Allah kepada umat-Nya. Seluruh umat Kristen di seluruh dunia memperingatinya sebagai bukti kesetiaan, 'solidaritas' Allah kepada umat manusia. Allah memproklamasikan diri-Nya sebagai Allah yang baik dan setia kepada dunia.

Judul di atas merupakan salah satu dari tujuh perkataan Yesus yang terakhir (The seven last saying of Jesus) dari kayu salib di bukit Golgota. Ketujuh perkataan Yesus yang terakhir itu telah dicacat oleh Injil walaupun secara terpisah. Pertama, Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk. 23:34). Kedua, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus, (Luk, 23:43)." Ketiga, Ibu, inilah anakmu, dan inilah ibumu, (Yoh. 19:26-27)." Keempat, "Eli, Eli lama, Sabakhtani, Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat. 27:46; Mark. 15:34)." Kelima, "Aku haus, (Yoh. 19:28)." Keenam, "Sudah selesai (Yoh. 19:30)," dan ketujuh, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku, (Luk. 23:46)."

Dalam bahasa Yunani kata 'sudah selesai' disebut Tetelestai atau dalam bahasa Ibrani disebut "Kaw-Lah." Artinya sudah selesai, sudah sempurna, semuanya sudah sesuai yang direncanakan. Dalam arti luas kata Tetelestai atau Kaw-Lah ini dapat diartikan dengan sudah berakhir, it is finished, dan bisa juga diartikan dengan sudah lunas, 'paid in full.' Kata yang singkat tetapi memiliki pengertian yang sangat luas. Sekarang pertanyaannya adalah, apa yang sudah selesai dan sudah lunas, atau apa yang sudah sempurna? Paling tidak tiga hal dapat kita maknai dari kata tersebut. Pertama, penderitaan Yesus sudah selesai setelah melampaui berbagai jalan penderitaan atau 'via dolorosa' dan Dia mengakhirinya di kayu salib. Walaupun Dia disiksa, dicambuk, diejek, diludahi bahkan difitnah sebagai seorang yang melakukan kejahatan. Seluruh dunia menyaksikan bahwa Yesus mati dan disalibkan serta dikuburkan tetapi bukan karena kesalahan-Nya. Kedua, dosa-dosa manusia telah dibayar lunas oleh kematian Yesus. Darah-Nya tercurah di bukit Golgota untuk menyucikan dosa-dosa manusia. Seharusnya manusialah yang menanggung dosa dan kejahatan itu tetapi Yesus telah menggantikannya di kayu salib. Ketiga, melalui kematian Yesus maka manusia telah bebas dari hukuman Allah dan memperoleh kasih karunia dan hidup yang kekal.

KEMENANGAN DARI MAUT
Kata "sudah selesai" ini tidak hanya dipahami dalam hal kematian Yesus saja. Tetapi mempunyai kaitan yang erat dengan kebangkitan-Nya. Artinya peristiwa kematian Yesus tidak terpisahkan dari kebangkitan-Nya. Masa passion atau minggu sengsara Yesus sudah berakhir dan kini kita sudah berada pada perayaan Paskah. Paskah adalah perayaan akan kebangkitan Yesus dari kematian-Nya. Perayaan Paskah ini diperingati semua orang Kristen di seluruh dunia sebagai tanda kemenangan Yesus Kristus dari maut. Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi pokok pengakuan iman percaya setiap orang Kristen di tengah-tengah dunia ini. Sejak gereja mula-mula melaksanakan perayaan Paskah maka seluruh umat Kristen mengikutinya sebagai salah satu perayaan penting dalam tahun gerejawi. Kematian Yesus Kristus tidak berakhir di dalam kubur tetapi justru menjadi awal kehidupan melalui kebangkitan-Nya. Kubur kosong membuktikan bahwa Dia hidup dan bangkit kembali. Kematian bukan kata terakhir tetapi menjadi kata kunci kepada kebangkitan dan kehidupan kekal. Bukan hanya kepada Yesus tetapi bagi seluruh umat percaya. Rasul Paulus berkata: "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu (1 Kor. 15:14)." Untuk membuktikan kebangkitan ini beberapa kali Yesus menunjukkan diri-Nya terutama kepada para murid (bnd. Luk. 24:36-39, 47-49; Yoh. 20:19-23).

Frank Morrison, pernah menulis sebuah buku yang berjudul "Who Moved The Stone." Buku ini sangat laris di tahun 1970-an dan dibaca jutaan orang di seluruh dunia. Awalnya dia tidak percaya dan membantah tentang fakta-fakta kebangkitan Yesus. Tetapi setelah dia menelusuri berbagai penelitian akhirnya dia sungguh percaya dan meyakinkan banyak orang akan kebangkitan Yesus Kristus. Sama halnya dengan Ben Witherington III, seorang Profesor Perjanjian Baru di Asbury Theological Seminary. Telah menulis lebih dari 30 buku dan majalah Kristen untuk membela Kekristenan dan mengungkap fakta kebenaran tentang kebangkitan Yesus dari kematian-Nya. Sehingga sedikitpun tidak dapat diragukan tentang penyaliban dan kebangkitan Yesus Kristus itu.

Paskah di Indonesia
Perayaan paskah khususnya di Indonesia kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perayaan Paskah saat ini dilaksanakan di tengah-tengah kesibukan pesta demokrasi atau pemilihan umum (Pemilu). Dimana pelaksanaannya secara serentak pada tanggal 17 April 2019 lalu. Melalui pemungutan suara untuk memilih Presiden, wakil Presiden, anggota legislatif di tingkat pusat, provinsi, Kota/Kabupaten serta dewan perwakilan daerah (DPD). Tentu pesta demokrasi ini tidak mengurangi semangat dan sukacita kita dalam merayakan Paskah tahun ini. Perayaan Paskah ini harus kita sambut dan maknai dengan baik. Dengan bersyukur kepada Allah yang mengasihi kita dan memberikan kita keselamatan melalui Yesus Kristus. Memiliki keyakinan dan pengharapan yang teguh kepada Allah maha pengasih dan penyayang. Allah hadir di segala waktu dan tempat dimana kita berada. Walaupun kita berbeda dalam pilihan tetapi semangat Paskah harus tetap menggelora dalam hidup kita. Kita tidak boleh pesimis tetapi selalu optimis bahwa negara kita akan lebih baik dan maju.

Melalui perayaan Paskah ini marilah kita saling mengasihi dan mengampuni satu dengan yang lain seperti Allah sudah mengampuni kita. Tidak saling mendendam atau membenci satu dengan yang lain. Kita harus menjauhkan permusuhan dan perselisihan. Selain itu marilah kita tetap menjalin kesatuan dan persatuan sebagai warga negara di republik ini. Menjauhkan pertikaian yang mengakibatkan perpecahan di antara penduduk. Orang Kristen harus menjadi orang yang terdepan dalam melakukan perdamaian, cinta kasih, aksi sosial dalam bentuk yang benar. Selain itu kita tetap mendoakan pemerintah serta aparatur negara untuk tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. Sehingga membawa damai dan sukacita kepada umat manusia. Kita mengharapkan pesta demokrasi yang sudah berlangsung akan membawa negara kita menuju damai. Menjadi bangsa yang bermartabat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Walaupun pesta demokrasi sudah selesai namun kita harus tetap berdoa, agar proses selanjutnya dapat berjalan baik tanpa ada masalah. Setiap warga negara baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri agar tetap mendoakan agar bangsa Indonesia tetap bersatu sebagai bangsa yang merdeka. Selamat Paskah! (c)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments