Senin, 23 Sep 2019

R E N U N G A N

Sikap Menghadapi Badai Kehidupan

*Oleh Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu (Kepala Departemen Pelatihan dan Beasiswa United Evangelical Mission (UEM), Wuppertal, Jerman)
admin Minggu, 18 Agustus 2019 12:08 WIB
Pdt. Dr. Andar Gomos Pasaribu
Pengalaman menghadapi badai yang ganas justru sering menjadikan manusia lebih setia dalam mengikut Tuhan. Lihatlah, Dr. Ingwer Ludwig Nommensen pernah lolos dari maut ketika kapalnya diamuk gelombang di Tanjung Harapan saat hendak berlayar ke Pulau Sumatera. Musisi John Newton, pengarang lagu „Amazing Grace" berkebangsaan Inggris, pernah hampir tenggelam bersama kapal yang ditumpanginya saat menuju London. Ketika menuliskan renungan ini, saya merasakan fenomena kecemasan dan lantunan doa rekan-rekan di wilayah Jakarta dan Banten karena guncangan gempa yang keras beberapa minggu yang lalu. Ada dua hal sikap yang perlu kita miliki saat kita menghadapi badai kehidupan.

1. Menjadi Murid Kristus adalah Panggilan Memikul salib
Dalam Konferensi Misi dan Penginjilan Global di Arusha, Tanzania, Maret 2018, tema utama yang diperbincangkan adalah "Discipleship" (kemuridan) bukan "Leadership" (Kepemimpinan). Kepemimpinan ideal adalah kepemimpinan yang bersedia menjadi murid. Dietrich Bonhoeffer, teolog Jerman yang mati digantung oleh rejim Nazi pada tahun 1945, menghubungkan makna kemuridan dengan anugerah Allah. Dia menuliskan: "Billige Gnade ist Gnade ohne Nachfolge, Gnade ohne Kreuz, Gnade ohne den menschgewordenen Jesus Christus" (Artinya, Anugerah murahan adalah anugerah tanpa kemuridan, anugerah tanpa salib, anugerah tanpa Yesus Kristus yang menjadi manusia). Orang yang telah beroleh anugerah Tuhan, ia akan bersedia mengikuti kemanapun sang Guru pergi termasuk mengikut untuk memikul salib dan mengikuti Yesus meskipun harus mengalami peristiwa angin ribut yang menakutkan (Matius 8 : 23). Panggilan murid Kristus adalah panggilan untuk tetap setia di tengah badai yang menghantam bahtera rumah tangga, penyakit kronis, karir yang terhambat, pendidikan dan hubungan sosial kita yang memburuk dengan sesama.

Sebagai anggota gereja yang rajin beribadah, aktif di berbagai kegiatan paduan suara, setia dalam berbagai pelayanan atau bahkan kita adalah pelayan yang berdedikasi, tidak jarang kita berpikir seperti Nabi Habakuk, yang kecewa kepada Tuhan saat kita melihat upah kesetiaan kita tidak lebih dari kepedihan dan air mata. "Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kau tolong? (Hab. 1:2)". Wajar jika seorang pasien penyakit kronis gentar akan kematian yang akan dihadapinya sementara biaya pengobatan semakin membengkak, manusiawi jika seorang ibu atau ayah yang ditinggal mati pasangannya sementara anak-anak masih kecil; tentu menyakitkan bagi orang tua yang harus menghantarkan anaknya menjalani rehabilitasi akibat narkoba. Renungan hari ini menyadarkan kita bahwa mengikut Tuhan tidak selalu menjadikan kita terbebas dari berbagai benturan kehidupan.

2. Tuhan Bersama Kita, Jangan Takut!
Pada Matius 8 : 25 dinarasikan ketakutan para murid: "Tuhan, tolonglah, kita binasa"!. Di dalam ketakutan yang tidak terkendali, kebencian dan kemarahan yang meluap-luap, kecurigaan yang berlebihan, maka pikiran kita cenderung menciptakan nalar negatif dan fantasi. Mengapa para murid tiba pada ketakutan yang berlebihan tersebut? Sebahagian besar penafsir mengatakan karena mereka belum sepenuhnya mengenal Yesus, walaupun mereka setiap hari berinteraksi dengan-Nya. Kedagingan, kemanusiaan dan keegoisan kita sebagai manusia lebih mendominasi daripada kepasrahan dan penyerahan diri kita terhadap Tuhan yang berkuasa bahkan atas angin dan badai (Matius 8:27). Apakah Yesus marah semata karena mereka takut? Tidak! Tapi Yesus marah karena ketakutan mereka menjadi kontra-produktif bahkan tiba kepada keputus-asaan (Mateus 8:25). Yesus membayangkan para murid yang dididiknya selama ini adalah pribadi yang tetap mampu berjuang, tidak menjadi murid yang gampang putus asa, tetap berusaha mencari solusi di dalam keyakinan bahwa Tuhan bersama dengan mereka. Insan yang beriman adalah mereka yang mampu terus melangkah bersama ketakutan itu mencari solusi atas multi krisis yang terjadi. Menjadi murid Kristus adalah proses pergumulan dan perjuangan yang berkelanjutan hingga Tuhan sendiri yang menghentikannya. Saat ini jemaat dan masyarakat kita terus mengalami berbagai fenomena badai yang mengguncang: pelarangan beribadah, konflik internal di tengah jemaat-jemaat Kristen, perasaan kesepian, hoax, korban berjatuhan akibat narkoba khususnya generasi muda, berbagai penyakit kronis yang tidak diimbangi oleh jaminan kesehatan yang memadai, hingga kepada berbagai bencana alam baik karena alam yang murka maupun karena kesalahan manusia. Saudaraku, Tuhan kita tidak hanya berkuasa atas manusia, namun Ia mampu meneduhkan alam semesta. Alam pun taat kepada Tuhan, lantas mengapa kita masih ragu bahwa tidak sulit bagi Tuhan meneduhkan gelombang kehidupan kita.

Oleh karenanya teruslah berdoa, teruslah melayani dan berbuat baik, jangan pernah kehilangan sukacita dan pengharapan, teruslah mendalami Firman Tuhan di tengah godaan teknologi digital dan media sosial yang beragam, teruslah berdiakonia bahkan ketika beban hidup kita mungkin lebih berat dari kesulitan orang lain, teruslah memotivasi bahkan ketika tubuh dan usia kita semakin ringkih dan butuh topangan. Pertolongan Tuhan selalu tiba tepat pada waktunya. Seperti inilah iman yang sejati! Amin. (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments