Jumat, 15 Nov 2019

RENUNGAN

Setialah Beribadah Hanya kepada Tuhan (Ev.Yosua 24:13-25)

Oleh Pdt Luhut Hutajulu
admin Minggu, 22 September 2019 11:45 WIB
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Pernahkah Anda mendapat amanat terakhir atau wasiat berharga secara langsung dari seseorang yang berpengaruh sebelum dia menghembuskan nafas terakhir? Bagaimana anda menanggapinya? Amanat atau wasiat terakhir dari seseorang tokoh atau pemimpin yang berpengaruh tentulah sangat mengesankan dan sering terngiang-ngiang di telinga. Biasanya pesan-pesan terakhir dari seorang pembesar, sering menjadi acuan awal atau keprihatinan utama bagi misi seseorang yang menerima pesan akhir tersebut. Narasi Yosua 24 dilatarbelakangi oleh saat-saat terakhir Yosua. Ia sudah lanjut usia (Yos. 23:1-2). Karena Yosua menyadari bahwa tak lama lagi ia akan meninggal, maka ia memanggil seluruh umat Israel, para tua-tuanya, para kepalanya, para hakim dan para pengatur pasukannya (Yos. 23:2)

Dalam kaitannya dengan nas acuan khotbah ini, Alkitab mencatat bahwa pada akhir hidupnya, Yosua sebagai pemimpin spiritual dan militer mengumpulkan semua umat Israel dan kemudian memimpin mereka dalam suatu upacara pembaruan perjanjian dikota Sikhem. Isi dan inti pembaruan perjanjian itu adalah: ikrar setia umat supaya hanya menyembah Tuhan serta mengabdi pada-Nya.

Yosua menekankan bahwa ikrar setia tersebut didasarkan pada pemeliharaan dan kebaikan serta belas-kasih Tuhan saja pada masa lalu hingga kini yang membuat umat-Nya bertahan. Kemudian juga didasarkan pada janji setia-Nya kepada bapa-bapa leluhur sampai penaklukan Tanah Kanaan sebagai Tanah Terjanji (Yos. 24:1-13). Yosua menegaskan bahwa Tuhan-lah yang berdaulat dan bertanggung-jawab untuk semua yang terjadi demi kebaikan umat pilihan-Nya. Tuhan (Yahwe) telah melakukan suatu tindakan penebusan bagi umat-Nya.

Setelah Yosua memberitahukan kebaikan Tuhan dalam perjalanan sejarah umat-Nya, maka Yosua menawarkan suatu pilihan dengan mengatakan: "Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!" (Yos. 24:15b). Kemudian umat menanggapinya dengan mengucapkan ikrar setia yang isinya: "... kepada Tuhan, Allah kita, kami akan beribadah, dan Firman-Nya akan kami dengarkan" (ayat 24b) dan tidak kepada dewa-dewi atau benda-benda (patung) buatan jari manusia (Yos. 24:14-28). Untuk memastikan perjanjian pembaruan itu, maka didirikanlah sebuah batu besar di Sikhem untuk memperingati rangkaian peristiwa tersebut (ayat 25-28).

Ibadah kepada Tuhan ini mengungkapkan satu penghormatan, kasih, dan ketundukan kepada Tuhan.

Karena apa, saudara? Karena ibadah yang sejati sebenarnya timbul dari hati dan dinyatakan dalam sebuah perbuatan. Artinya, apa yang kita nyatakan dalam hal lahiriah dari suatu ibadah, sejatinya tidak akan menjadi berarti jika bukan merupakan ekspresi batiniah kita.

Dalam hal inilah yang juga dipahami oleh Rasul Paulus sehingga ia menuliskannya dalam Roma 12:1, "Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."

Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini bagi kita dalam kehidupan beribadah (bergereja) dan bermasyarakat masa kini? Kalau dulu umat cenderung tergoda untuk menyembah 'batu' atau 'patung' buatan jari manusia atau 'pohon besar' yang diyakini sebagai bentuk kehadiran kuasa "ilahi" atau "tuhan" atau "dewa" dan kemudian dipuja dan disembah. Tetapi sekarang, godaan itu telah cenderung bergeser menjadi pemujaan terhadap apa yang dinamakan sebagai "keserakahan" (greedy) yang mengambil bentuk dalam mempertuhankan (memperilah) uang atau jabatan duniawi atau iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang secara diam-diam telah menggantikan posisi Tuhan. Mari kita nyatakan 'perang' terhadap 'keserakahan' tersebut. Alkitab menegaskan bahwa kunci kemenangan dalam 'peperangan rohani' ini adalah Firman Allah sebagai senjata atau pedang roh (Kol. Ef 6:10-20). Mari kita barui-ulang perjanjian dan pilihan kita agar tetap setia kepada Tuhan di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bersama Tuhan dan penyertaan-Nya, kita akan dimampukan berkata cukup dan bersyukur atas apa yang kita peroleh karena belas-kasih dan anugerah-Nya. Marilah setia beribadah hanya kepada Tuhan dan jangan pernah ada ilah lain di hadapan-Nya. Cintailah Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan ragamu. (Kel. 20:2-5; Mat. 22:37-39).

`Jika kita hendak meneliti dengan dalam, tentang perjalanan kehidupan kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri segala perbuatan Tuhan yang besar bagi hidup kita. Maka adalah layak bagi kita menyembah dan memuliakan Tuhan dalam hidup kita. Itulah sebabnya Yosua berpesan kepada umat Israel "Oleh sebab itu, takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia" (ay. 14).
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments