Jumat, 03 Jul 2020
PalasBappeda

Segera Tiba Penghiburan dan Keselamatan (Yesaya 40:1-8)

redaksi Minggu, 01 Desember 2019 18:40 WIB
Foto: SIB/Dok
Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
Begini pengalaman seorang ayah. Ketika masih balita, putra saya Xavier suka memberi saya bunga. Saya menghargai setiap rumput segar yang dipetiknya atau bunga mekar yang dibelinya dari toko bunga bersama ayahnya. Saya menikmati setiap pemberiannya sampai bunga-bunga itu menjadi layu dan harus dibuang, kata sang ayah.

Suatu hari, Xavier memberi saya rangkaian bunga palsu yang indah. Ia menyeringai saat menata bunga bakung yang terbuat dari sutera putih, bunga matahari yang berwarna kuning, dan bunga hydrangea yang berwarna ungu di dalam vas kaca. Ia berkata, "Mami, bunga-bunga ini tak akan pernah layu. Seperti sayangku padamu". Firman Tuhan berkata, "Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya" (Yesaya 40:8).

Bocah mungil itu kini telah menjadi seorang pemuda. Bunga-bunga sutera itu juga sudah usang, warnanya telah memudar. Meski demikian, bunga yang tak layu itu senantiasa mengingatkan saya akan kasih sayangnya. Itu juga mengingatkan saya tentang satu hal lain yang benar-benar abadi, yaitu kasih Allah yang tak terbatas dan tak pernah berakhir, seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya yang sempurna dan kekal.

Ketika bangsa Israel terus-menerus menghadapi pencobaan, Yesaya menghibur mereka dengan keyakinan pada firman Allah yang tetap selama-lamanya (40:1). Ia menegaskan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa orang Israel (ay.2), menjamin pengharapan mereka akan mesias yang akan datang (ay.3-5). Umat Israel mempercayai sang nabi karena pandangannya tetap kepada Allah dan bukan pada situasi mereka.

Di dunia yang penuh dengan penderitaan dan ketidakpastian ini, opini dari orang lain dan perasaan kita sendiri akan selalu berubah-ubah dan terbatas karena kita adalah makhluk fana (ay.6-7). Meski demikian, kita dapat mempercayai kasih dan sifat Allah yang tak pernah berubah, sebagaimana dinyatakan oleh firman-Nya yang teguh dan benar untuk selama-lamanya.
Bangsa Yehuda dalam penderitaannya seharusnya bisa mengambil hikmah atas semua yang sudah terjadi. Melalui nabi Yesaya, Tuhan memperingatkan bangsa Yehuda bahwa kehidupan manusia seperti rumput yang bisa mengering dan bunga yang dapat menjadi layu karena tiupan angin. Manusia bisa menggalang kekuatannya sedemikian rupa bak rumput dan bunga yang tumbuh subur, tetapi semua itu tidak ada bandingnya dengan kekuasaan Allah.

Hembusan nafas Allah dapat menghancurkan semuanya. Dengan kata lain, melalui penderitaan hukuman yang harus ditanggung bangsa Yehuda, Tuhan Allah bermaksud memperingatkan mereka akan keterbatasan dan kemuliaan manusia yang hanya semu belaka. Dalam kesadaran yang demikian, maka seharusnya bangsa Yehuda tidak terus memberontak di hadapan Allah, melainkan tunduk kepada kekuasaan Allah.

Namun meski demikian kenyataannya, Allah tidak membiarkan manusia terpuruk dalam keterbatasannya, melainkan mengajak umat-Nya untuk percaya kepada kesetiaan Allah dalam firmanNya, sebab firman Allah itu tetap untuk selama-lamanya. Apabila kita menolak untuk percaya, maka kehidupan kita akan diwarnai dengan keputusasaan, pesimisme dan kesia-siaan belaka sebab kita tahu semuanya akan berlalu begitu saja dalam kefanaan manusia.

Bila tidak mampu berdamai dengan keadaan, maka tentunya akan sulit pula untuk berdamai dengan Tuhan dan firmanNya saat kerapuhan manusia itu mulai dirasakan dan dialami dengan sendirinya. Padahal tanpa Allah, manusia itu sendiri akan semakin rapuh dan nampak kefanaannya.

Pembebasan Israel adalah gambaran dari eksistensi Allah yang selalu mendatangkan kebaikan bagi manusia. Bangsa Israel sudah dibebaskan dari pembuangan, namun hal ini adalah nubuatan terhadap rancangan Allah untuk mendatangkan pembebasan secara universal bagi dunia/bagi manusia berdosa melalui Yesus Kristus yang sudah datang dua ribu tahun yang lalu, serta akan segera datang kembali pada masa parousia.

Nabi Yesaya menubuatkan agar mempersiapkan "jalan", untuk kedatangan mesias sang pembebas. Hal ini juga merujuk kepada gereja dan umat percaya agar menjadi sarana untuk mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus yang kedua dengan mengabarkan pertobatan dan pengampunan dosa sebelum hari maranatha tiba. Ini adalah berita sukacita yang harus direspons oleh setiap pengikut Kristus di dunia ini. Kita harus senantiasa bersyukur dan bersukacita untuk dipakai menjadi alat keselamatan bagi dunia ini, yang menjadi tugas mulia dan sangat berharga karena kita sudah terlebih dahulu menerima anugerah pengampunan dosa.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan! Hari ini mamasuki minggu Advent, hal ini mengingatkan kita sebagaimana yang digambarkan oleh nats di atas bahwa status manusia di dunia ini diibaratkan bagai rumput kering dan bunga yang seketika berbunga namun seketika juga segera menjadi layu. Tetapi oleh karena kedatangan sang juru selamat, Yesus Kristus maka kekekalan dan keselamatan akan menghibur kita. Amin! (q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments