Selasa, 10 Des 2019

Intoleransi di Sudan

Ribuan Umat Kristen Dievakuasi dari Sudan

Minggu, 08 Juni 2014 21:04 WIB
Sudan (SIB)- Umat Kristen di Sudan diselimuti ketakutan setelah seorang wanita bernama Meriam Ibrahim dijatuhi hukuman mati karena mempertahankan imannya. Mereka memilih untuk tidak menjalankan ibadah lantaran takut dijatuhi hukuman serupa.

"Gereja ini sekarang terancam teror. Anda tidak merasa aman ketika berdoa," kata salah seorang aktivis Kristen kepada CNN.

Hukum mati yang dijatuhkan oleh pemerintah terhadap Meriam tampaknya membuat umat Kristen Sudan tidak ingin mengalami nasib yang sama. Meriam dihukum atas dakwaan perzinahan dan murtad dari keyakinannya.

Untuk diketahui, intoleransi telah terjadi di Sudan sejak kepemimpinan Presiden Omar al-Bashir pada tahun 2011 silam. Ia mengubah Sudan menjadi negara Islam. "Dalam perang propaganda antar dua agama (di Sudan), Kristen tidak akan pernah punya kesempatan," kata pengacara Hak Asasi Manusia Sudan Nabeel Adeeb.

Sudan merupakan negara yang menganut hukum Syariah Islam, meski pada kenyataannya penduduknya lebih banyak menganut keyakinan animisme. Namun, perang saudara pun pecah sejak Al Bashir berkuasa dan menjadikan Sudan sebagai negara Islam Fundamentalis.

Lebih Dari 3.400 Umat Kristen Akan Dievakuasi
Lebih dari 3.400 umat Kristen di Sudan direncanakan akan dievakuasi oleh Barnabas Fund yang kini tengah menjalankan misi penyelamatan untuk mencegah diskriminasi kelompok mayoritas terhadap umat Kristen di Sudan. Mereka akan dievakuasi menuju Sudan Selatan yang telah merdeka sejak 2011 lalu dan didominasi oleh umat Kristen.

Misi penyelamatan dari Barnabas Fund ini memang masih membutuhkan beberapa dana lagi agar misi tersebut dapat membawa seluruh umat Kristen yang kini bermukim di Sudan ke Sudan Selatan. Organisasi yang melakukan dukungan terhadap para umat Kristen yang teraniaya ini telah menerbangkan hampir 5.000 umat Kristen ke Sudan Selatan.

Saat ini umat Kristen yang masih bermukim di Sudan, tinggal di tenda pengungsian di tepi Kota Khartoum. Dua pertiga umat Kristen yang telah dievakuasi adalah para janda dan anak-anak. Mereka akan menjadi prioritas dalam evakuasi selanjutnya. "Setelah bertahun-tahun mengalami penderitaan dan juga doa, Tuhan membuka jalan bagi kami," ungkap Suzy seorang ibu muda yang telah dievakuasi.

Diskriminasi masih terjadi menerpa banyak sesama yang terjajah atas nama keyakinan. Hanya melalui Firman Tuhan saja kita dapat dimerdekakan dan keluar dari penjajahan dunia yang terus mengikat.

Hancurkan Gereja
Menurut laporan Shoebat, kepolisian Sudan Selatan dilaporkan telah mengusir 300 jemaat gereja yang sedang melaksanakan ibadah atas perintah dari pemerintahan Omar al-Bashir.

"Kami mendapat perintah dari atasan untuk menghancurkan semua bangunan gereja. Kami tidak ingin ada gereja di daerah ini," kata salah satu polisi, pelaku penghancuran gereja.

Pemerintahan Omar al-Bashir diketahui memang sedang gencar mensterilkan daerah Sudan Selatan dari bangunan gereja.

Menurut salah satu jemaat, mereka belum mendapat surat peringatan dari kepolisian sebelum gereja dihancurkan. "Pemerintah telah menyita lahan gereja - tolong doakan agar gereja mendapatkan tempat disini. Kami tidak mendapat pemberitahuan resmi bahwa gereja akan dihancurkan, mereka bahkan tidak memperingatkan kami," ungkapnya.

Kekerasan yang dilakukan oleh kelompok anti Kristen dan pemerintahan tirani di sejumlah negara telah membuat makin berkurangnya populasi umat Kristen di dunia. Kita berdoa agar tindakan intoleran seperti ini tidak lagi terjadi. (jawaban.com/berbagai sumber/h)





T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments