Sabtu, 11 Jul 2020

RENUNGAN

Pungli

Oleh: Pdt. Arapen Peranginangin * (Yohanes 3:1-14)
Minggu, 23 Oktober 2016 14:21 WIB
Pungutan liar atau biasa disebut Pungli adalah tindakan oknum tertentu untuk meminta bayaran yang tidak sesuai dengan aturan (berlaku), dengan tujuan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Apakah yang salah dalam hal ini? Pertama, oknum yang melakukan pungli telah melanggar aturan atau sumpah/janji jabatannya. Bila aturan main atau role of game tidak diindahkan, cepat atau lambat pasti akan menjadi preseden buruk dalam lingkungan kerja atau lembaga  tersebut. Kedua, orang yang dipungut bayaran yang tidak sesuai dengan aturan akan merasa rugi, tidak nyaman dan bahkan cenderung melakukan kejahatan lain untuk menebus kerugiannya. Ketiga, ada banyak orang yang tertunda atau terbengkalai berkas atau urusannya karena oknum yang melakukan pungli mendahulukan orang yang bayar melampaui aturan itu. Dengan demikian pungli menyeret orang pada tindakan ketidaktaatan, ketidakjujuran dan ketidakadilan yang  bertentangan dengan kebenaran Tuhan.

Dalam nats renungan kita, lewat Yohanes Pembatis, Tuhan menyerukan pertobatan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis, dan Allah akan mengampuni dosamu" (ay.3). Seruan ini dialamatkan Yohanes kepada semua pihak yang menyimpang dari kebenaran Tuhan, termasuk pungli yang telah merajalela pada saat itu. 'Penyakit' pungli ini telah ada sejak jaman dahulu hingga kini. Dan rupanya Tuhan tetap konsisten kepada ketetapanNya, sejak  dahulu hingga kini pungli tetap merupakan dosa yang akan melemparkan pelakunya kepada api neraka (ay.9).  Dikatakan, "Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api." (ay.9). Karena itu pula Yohanes Pembatis dengan gamblang menyerukan pertobatan kepada pemungut cukai, "Janganlah mengambil lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu!" (ay.13). Dan sejalan dengan itu pula ia menegur prajurit-prajurit, "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu" (ay.14).

Menjadi pertanyaan, apakah yang melatarbelakangi orang melakukan pungli? Sesungguhnya yang paling mendasar adalah ketidakpercayaan pada Tuhan. Ketidakpercayaan inilah yang menyebabkan orang mencari jaminan hidup yang lain, yakni harta. Dengan dasar inilah  mereka cenderung jatuh kepada ketamakan. Itulah sebabnya Yesus mengingatkan pendengarNya, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk.12:15). Dan senada dengan ini Paulus mengatakan pada Timotius, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Tim. 6:10).

Karena itu untuk memberantas pungli, kita harus mulai dengan memiliki iman yang benar. Kita mengimani dan mengamini bahwa hidup kita bergantung kepada Tuhan, bukan pada materi. Bekerja dan melayani dalam kantor atau di mana saja adalah anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Kebanggaan kita bukan soal hasil semata, tetapi yang utama adalah bila kita mampu bekerja bagi kemuliaan Tuhan dan berkat bagi banyak orang. Kita akan bangga melihat orang yang tersenyum lewat kerja kita. Kita pun tidak akan tergiur melihat uang yang kebetulan disalurkan lewat tangan kita. Sebab kita tahu, berkat Tuhan lebih menjamin dari pada uang yang bukan hak kita itu. Bukankah itu yang terjadi kepada Sakeus dalam Lukas 19:1-9? Setelah ia mengenal Tuhan dan percaya kepadaNya, ia yang selama ini begitu tamak dengan uang, telah berubah mempergunakan hartanya bagi kebaikan orang lain. Dan dengan manis Tuhan mengatakan kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham" (Luk.19:9). Apakah yang kita inginkan lebih dari pada keselamatan jiwa kita? Kalau kita setuju bahwa keselamatanlah yang paling penting, bertobatlah! Bukti kita bertobat: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."(Luk.19:11). Kita dipilih dan diselamatkan untuk menjadi berkat bagi orang, bukan mencuri berkat orang lain.  Berhentilah melakukan pungli! Atau kapak Tuhan akan  bicara. Amin! (c)
     
T#gs pungli
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments