Rabu, 18 Sep 2019

Pimpinan Gereja Tanggapi Penghentian Ibadah Gereja di Riau

* Moderamen GBKP Sayangkan Penghentian Ibadah Gereja dan Tidak Etis, Ephorus GKPS Berharap Penghentian Ibadah Gereja di Riau Kasus Terakhir
admin Kamis, 29 Agustus 2019 19:44 WIB
SIB/Dok
Medan (SIB) -Pimpinan gereja di Sumut menyayangkan penghentian ibadah gereja di Riau dan berharap kasus penghentian itu merupakan kasus yang terakhir.

Moderamen Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) melalui Sekretaris Umum Pdt Rehpelita Ginting MMin menyayangkan penghentian ibadah GPdI di Dusun Sari Agung, Petalongan, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau dan alangkah bijaksananya Satpol PP menyampaikan maksud ke lokasi setelah selesai umat beribadah.

"Kita sangat sedih, dua orang ibu-ibu berteriak minta tolong sambil menarik tangan petugas agar ibadah diselesaikan," kata Pdt Rehpelita Ginting, Rabu (28/8).

Sebagai umat beragama pasti akan terlukai hati ketika ada orang yang sedang beribadah dihentikan. "Saat orang sedang kebaktian kita hentikan adalah tindakan yang tidak etis dan tidak layak dilakukan oleh siapapun," ujarnya.

Ia mempertanyakan apakah jemaat GPdI ketika beribadah ada yang terganggu atau terancam sehingga harus buru-buru dihentikan. Satpol PP perlu banyak belajar dalam menjalankan tugas, salah satunya agar dialog pada saat yang tepat.

"Sangat disayangkan juga umat yang sedang beribadah diperlakukan sama dengan menertibkan pedagang liar ataupun penggusuran yang mengganggu orang lain atau melanggar hukum," ungkapnya.

Rehpelita Ginting kembali mempertanyakan bukankah di negeri ini untuk bebas beribadah. "Soal tempat yang belum mendapat izin, bukankah seharusnya dapat didialogkan," tuturnya.

Dalam hal ini, pemerintah memfasilitasi umat yang menjalankan ibadahnya dengan memberikan tempat bagi mereka. Sebab menjalankan ibadah adalah hak seseorang, jangan karena ada orang yang tidak suka dan menyetujui melarang orang lain beribadah.

Sebagai anggota PGI, pihaknya mendukung mengecam perlakuan Satpol PP yang menghentikan peribadatan umat GPdI. Sudah seharusnya ruang untuk menjalankan ibadah bagi seseorang/kelompok setiap agama diberikan dan difasilitasi bukan dilarang.
"Jangan karena ada larangan oleh kelompok tertentu yang merasa terganggu, padahal lebih menunjukkan kekuasaan sehingga kebebasan orang lain menjadi terganggu," ketusnya.

Sebelumnya, sebuah video viral memperlihatkan ibadat warga di sebuah tenda dibubarkan oleh petugas. Peristiwa itu terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau.

Di video tersebut, awalnya tampak sekelompok warga sedang beribadat dengan dipimpin pendeta, lalu tampak seorang petugas. Petugas itu sempat berbicara dengan pendeta kemudian tiba-tiba dua orang ibu-ibu berteriak minta tolong sambil menarik tangan petugas.

Kasus Terakhir
Sementara itu, Ephorus GKPS Pdt M Rumanja Purba STh MSi mengutarakan, segala tindakan yang dapat melukai perasaan sesama anak bangsa, bukanlah amanat dari agama. Karena itu penghentian ibadah GPdI di Dusun Sari Agung, Petalongan Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau oleh aparat merupakan kasus yang terakhir.

"Penghentian ibadah di Riau ini, biarlah menjadi kasus terakhir di bumi Indonesia yang agamis ini. Apapun alasannya, kita sulit mengerti tentang penghentikan ibadah yang sedang berlangsung," ujar Ephorus GKPS Pdt M Rumanja Purba melalui WhatsApp, Rabu (28/8).

Ia menuturkan, di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pemerintah memberikan kebebasan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing hal ini sesuai dengan Undang Undang. Karena itu penghentian beribadah itu dijadikan pelajaran berharga kepada semua pihak agar kasus yang sama jangan terulang lagi.

"Kan bisa saja dibiarkan ibadah itu hingga selesai, baru dilakukan penindakan. Kita prihatin melihat video yang viral di masyarakat memperlihatkan ibadah warga di sebuah tenda dibubarkan oleh petugas yang dapat melukai perasaan umat Kristiani yang menontonnya," ujarnya.

Ephorus mengatakan beribadah untuk bersujud dan memuji serta memuliakan nama Tuhan. Karena itu ia memohon kepada pemerintah dan masyarakat, agar dapat menggunakan hati untuk bertindak.

"Izinkanlah dengan dasar spiritualitas yang tinggi dan semangat kebersamaan, semua komunitas bebas beribadah di mana saja di bumi nusantara ini. Marilah kita bersama-sama membangun Indonesia agar terangkat derajatnya menyamai bangsa lain yang sudah maju," urainya.

Ephorus menambahkan, sudah saatnya masyarakat Indonesia yang kaya perbedaan suku, agama dan ras agar dapat menghangatkan cinta kasih, seperti yang diamanatkan oleh ajaran agama dan kepercayaan masing-masing. (M17/M12/f)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments