Jumat, 06 Des 2019

RENUNGAN

Persembahan Buah Sulung

* (Keluaran 13:11-16) Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
Minggu, 05 Agustus 2018 19:19 WIB
Suatu malam, seorang wanita bermimpi bercakap-cakap dengan Allah. Ia begitu marah atas semua penderitaan dan kejahatan yang ia lihat di sekelilingnya. Lalu ia mengeluhkan hal itu kepada Allah, "Mengapa Engkau tidak berbuat sesuatu terhadap semua ini?" Dengan lembut Allah menjawab; "Sudah. Aku telah menciptakan engkau." Allah bisa saja mengirimkan banjir, seperti yang dilakukan-Nya pada zaman Nuh, untuk membasmi semua kejahatan dari muka bumi. Dia mampu, tetapi Dia tidak mau melakukannya. Dia telah berjanji untuk tidak akan melakukan hal seperti itu lagi (Kejadian 9:11). Sebaliknya, Dia memilih untuk bekerja melalui manusia seperti kita, mengutus kita untuk menjadi hamba-Nya, seperti Musa, kemudian memampukan kita untuk melakukan tugas pembebasan dan perubahan.  

Dia mengubah Paulus dari seorang penganiaya jemaat menjadi "saksi-Nya terhadap semua orang" (Kisah Para Rasul 22:15). Hidup dan surat-surat Paulus memberi pengajaran, inspirasi, dan penghiburan kepada gereja dan pengikut Kristus  pada masa-masa awal sampai saat ini. Kekuatan Allah telah mengubah Paulus. Dan ia kemudian dipakai Allah untuk memberitakan berita kabar baik.

Bagaimana dengan saudara? Sudahkah saudara diubahkan oleh kekuatan Kristus Yesus? Apakah sekarang Anda melayani-Nya dengan taat untuk mengubah kehidupan orang-orang di sekeliling saudara? Marilah memohon agar Allah bekerja di dalam hati dan hidup kita sehingga melalui kita, Dia akan membuat perubahan terhadap umat-Nya dan kepada dunia ini.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Tuhan Yesus Kristus! Latar belakang dan konteks judul nats renungan di atas adalah detik-detik terakhir kisah pembebasan umat Tuhan oleh hamba-Nya, Musa. Adapun cara Allah dengan mendatangkan tulah kesepuluh, yaitu, peristiwa kematian setiap anak sulung di Mesir (Keluaran 11). Pada kesempatan itu, Allah memerintahkan umat Israel, sebelum mereka meninggalkan Mesir, mereka harus terlebih dahulu melakukan kurban persembahan dengan menyembelih domba jantan, kemudian memercikkan darah anak domba tersebut pada kedua tiang pintu di rumah mereka masing-masing (Inilah yang disebut peristiwa Paskah, Bhs.Ibrani, Pesakh). Strategi ini adalah untuk menandai komunitas umat Tuhan sebab ketika ada perintah segera meninggalkan negeri Mesir, berarti hanya rumah yang bertanda percikan darahlah penghuni bangsa Israel.  

Allah akan melakukan perkara besar dengan perbuatan tangan-Nya untuk membebaskan mereka dari tangan raja Firaun. Tujuannya supaya mereka mengenang kehidupan pahit yang mereka alami di mana kehidupan dan penderitaan mereka akan diubah oleh Tuhan menjadi kehidupan yang bebas dan merdeka. Tangan Allah yang bekerja melalui hamba-Nya, Musa, hanya dengan kuat kuasa Tuhan terjadi pembebasan. Kemudian Allah pun berseru kepada umat-Nya melalui Musa agar mereka menjadi bangsa yang setia, taat, serta beribadah kepada Allah pembebas mereka.

Inilah perintah Tuhan setelah nantinya mereka tiba di tanah Kanaan; "Apabila engkau telah dibawa Tuhan ke negeri orang Kanaan, seperti yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dan negeri itu telah diberikan-Nya kepadamu, maka haruslah kaupersembahkan bagi Tuhan segala yang lahir terdahulu dari kandungan; juga setiap kali ada hewan yang kau punyai beranak pertama kali, anak jantan yang sulung adalah bagi Tuhan" (Keluaran 13:11-12).

Untuk mengenang penderitaan yang pernah dialami mereka ketika di Mesir maka Allah memerintahkan supaya memberikan persembahan buah sulung, yaitu; anak sulung mereka kepada Tuhan, serta hewan ternak yang beranak pertama sekali, anak jantan yang sulung untuk Tuhan. Perintah untuk menyampaikan persembahan buah sulung merupakan persembahan ucapan syukur atas perbuatan Tuhan kepada nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir.

Dengan cara ini Tuhan menghendaki supaya umat Israel menyadari bahwa mereka bisa bebas, merdeka, dan menikmati hidup karena kekuatan Tuhan semata yang mengasihi mereka. Persembahan buah sulung adalah cara untuk memotivasi generasi umat Israel di masa depan agar jangan melupakan perbuatan Tuhan, supaya mereka jangan melupakan sejarah perbuatan Tuhan di Mesir yang menderita selama empat puluh tahun. Mereka perlu diingatkan agar menjadi bangsa yang taat beribadah kepada Tuhan

Makna Teologis dalam Perjanjian Baru tentang persembahan buah sulung itu telah dikerjakan oleh Yesus Kristus yang memberi diri-nya disalibkan untuk tebusan dosa umat manusia. Kini, manusia sudah menjadi manusia yang dimerdekakan dari dosa. Tetapi kita juga diingatkan agar jangan mengartikan kebebasan, kemerdekaan Kristus menjadi sesuka hati berbuat dosa, dan berlaku curang meskipun tersedia setiap saat kasih karunia Kristus.

Sebagai orang Kristen, pada bulan Agustus ini kita diingatkan tentang hari kemerdekaan bangsa Indonesia.Bila kita sekarang dapat menikmati kehidupan setelah kita memeroleh kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dan negara maka dituntut tanggung jawab kita untuk mempersembahkan pembangunan, partisipasi, pemikiran konstruktif sebagai buah sulung yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara demi menyenangkan hati Tuhan. Amin! (d)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments