Rabu, 18 Sep 2019

Rapat Pendeta HKBP Distrik Jabartengdiy

Pdt Dr Martongo Sitinjak Gumuli "Parhahamaranggion" Pendeta

admin Minggu, 25 Agustus 2019 11:30 WIB
hkbp.or.id
RAPAT PENDETA : Pdt Dr Martongo Sitinjak bersama Peserta Rapat Pendeta HKBP Distrik XVIII Jabartengdiy di Grand Hotel Subang, 5-7 Agustus 2019 lalu.
Subang (SIB) -Sebanyak 55 orang Pendeta HKBP dan 4 orang Calon Pendeta yang melayani di HKBP Distrik XVIII Jabartengdiy mengikuti rapat pendeta distrik di Grand Hotel Subang, 5-7 Agustus 2019 Tema : "Aku mendoakanmu agar imanmu tidak jatuh (lukas 22:32)".

Rapat yang dipimpin Praeses Pdt. Danner Siregar, memberi kepercayaan kepada Pdt. Dr. Martongo Sitinjak menyampaikan sesi tentang "Parhahamaranggion ni Pandita HKBP". Hal ini sangat dibutuhkan guna tetap menjalin hubungan parhahamaranggion yang baik dalam komunitas pelayanan di era revolusi industri, jelas Pdt Danner.

Dalam konteksnya, HKBP mengembangkan tugas panggilan kependetaan seperti tertuang dalam Confessi HKBP, Aturan Peraturan dan Agenda HKBP tentang Penahbisan Pendeta. Pewujudan panggilan tohonan Kependetaan dengan sistem rekruitmen melalui pendidikan teologi dan tahapan-tahapan penerimaan menjadi pendeta HKBP. Tohonan kependetaan bukan panggilan perorangan secara khusus berbeda dari yang lain, melainkan setiap orang yang berbeda, yang dipanggil harus masuk ke dalam tohonan yang sama.

Poda Tohonan Pendeta menjadi landasan dasar bagi Pdt. Dr. Martongo Sitinjak menyampaikan pemaparan pelayanan dan tanggungjawab seorang Pendeta serta parhahamaranggion di dalam tubuh Kependetaannya.

Ia menyampaikan bahwa pada tohonannya seorang pendeta telah menggumuli seluruh dokumen teologi HKBP yang harus dihidupi dan dilaksanakan sebagaimana Firman Allah yang harus bekerja dalam diri seorang pelayan dan tidak menjadikan kemampuan dan akal pikir menjadi pondasi pelayanan. Poda Tohonan Pendeta yang ke-7 merupakan kesatuan pelayanan pendeta dan bagian dari "parhahamaranggion" seorang pendeta, lugasnya.

Parhahamaranggion menjadi bahan yang menarik bagi para peserta ini, kesenjangan serta tatanan struktur dalam pelayanan membuat hubungan "abang-beradik" dalam kependetaan HKBP menjadi terkikis. Pertanyaan tentang parhahamaranggion itu juga dilontarkan para pendeta yang mengikuti rapat, di antaranya Pdt. Wilda Simanjuntak yang mempertanyakan tentang ke-senioritasan yang di bawa sejak dahulu dimasa perkuliahan, Pdt. Sukamto Pasaribu yang menggumulkan parhahamaranggion dengan konteks struktur pelayanan HKBP dan juga dari beberapa peserta yang lainnya.

Pdt. Dr. Martongo Sitinjak mengawali diskusi dengan mengarahkan seluruh peserta menyanyikan B.E no. 369 : 1, Na marhahaanggi Hita sasude, Ndang mardia imbar Manang ise pe, Asing be hatanta Nang luatta pe, Sada do Amanta I taingot be.

Tidak ada hubungan antara parhahamaranggion dengan struktur pelayanan di Huria, serta jangan pernah menghubungkan struktur pelayanan dengan parhahamaranggion. Sebab Parhahamaranggion itu tetap dan harus selalu ada di dalam kita mulai dahulu kala hingga kelak kita akan pensiun. Biarlah hubungan senioritas yang telah kita bangun di perkuliahan dimasa lampau membangun nilai hubungan yang ber-etika dan santun terhadap abang atau adik nya, jelas Martongo. (hkbp.or.id/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments