Sabtu, 04 Apr 2020

Pandanglah Salib Tuhan agar Engkau Hidup (Bilangan 21 : 4 - 9)

*Oleh, Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu ( Pdt HKBP,bertugas di UEM Jerman)
redaksisib Minggu, 15 Maret 2020 19:02 WIB

 Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu

Peristiwa dipatuk ular menjadi bagian perjalanan bangsa Israel di padang gurun setelah Allah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Insiden ini terjadi di bukit Hor, yang terletak di ujung tanah Edom pada bagian Timur dari pantai Laut Mati (saat ini merupakan bagian dari negara Yordania). Karena kebebalan hati mereka, Allah memperpanjang perjalanan bangsa itu di padang gurun sebelum tiba di tanah Kanaan. Saat perjalanan semakin panjang, muncullah kembali salah satu sifat buruk bangsa Israel, yaitu bersungut-sungut atau dikatakan di ayat 5, "berkata-kata melawan Allah dan Musa". Ada beberapa hal pelajaran berharga dari kisah ini.

Pertama, hentikanlah sungut-sungut yang tidak sehat. Kita memahami bahwa kebiasaan berkata-kata melawan Allah merupakan karakter bangsa Israel yang sulit bersyukur. Pada saat ini pun, umat Kristen yang gemar bersungut-sungut merupakan mereka yang sulit menghitung berkat Tuhan dalam kehidupannya. Banyak umat Kristen yang merasa tidak puas karena rumah tangganya, pekerjaan, kondisi sosial termasuk bersungut-sungut di dalam persekutuan gereja.

Kata-kata melawan Allah dan Musa itu dimulai di ayat 5: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Bahkan mereka melecehkan makanan yang diberikan Tuhan di ay. 6: "Sebab disini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami terlalu muak." Padahal jelas bahwa bangsa Israel sendiri di Kel. 2:23 yang minta tolong: "Tetapi orang Israel itu masih mengeluh dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah." Dr. David Desteno,

seorang ahli psikologi dari Northeastern University, Amerika Serikat pernah menuliskan: "Rasa syukur membuat orang berbuat kebajikan, tidak mementingkan diri sendiri dan mendukung kehidupan sosial yang baik, yang berdampak positif terhadap kesehatan fisik dan kesehatan psikologis". Salah satu terapi untuk terbebas dan pulih dari berbagai macam penyakit adalah melatih diri kita untuk tetap berpikir positif dan bersyukur kepada sang Pencipta atas segala dinamika kehidupan yang kita hadapi.

Kedua, Allah mengirimkan ular tedung (ay. 6) untuk menggigit mereka yang melawan Allah dan hambaNya, Musa. Saat manusia mengalami kesulitan yang silih berganti, mari kita sejenak melihat dan mengkritisi diri kita, jangan-jangan kita pun sering melawan Allah sehingga kita sulit mengelola kehidupan kita dengan bijaksana. Persekutuan Gereja-gereja Protestan di Jerman (Evangelische Kirche in Deutschland) mencanangkan tujuh minggu penderitaan Yesus Kristus dengan slogan: Sieben Woche ohne Pessimismus (tujuh minggu tanpa kepesimisan). Bagi umat Kristen di Jerman yang saat ini tengah bergumul dengan merebaknya Corona Virus (Covid-19), pengungsi yang kembali membanjiri Eropa, bangkitnya sentimen anti orang asing dengan penembakan brutal terhadap orang asing di Hanau, gereja-gereja Protestan di Jerman mengajak umat Kristen untuk tetap optimis dan menanggalkan segala bentuk kepesimisan dalam mengingat minggu-minggu penderitaan Kristus ini. Ada masa-masa di mana kehidupan manusia ibarat digigit ular tedung itu karena kita melawan rancangan Allah.

Krisis kemanusiaan terjadi di mana-mana seperti, perang, aksi terorisme, pemanasan global, pengrusakan lingkungan mengakibatkan berbagai bencana alam, generasi muda kehilangan sosok teladan di dalam keluarga dan masyarakat sehingga mereka mencari pemuasan diri dengan narkoba, sementara lembaga-lembaga gereja terlihat sibuk mengurusi isu internal kekuasaan dan struktur yang menjadikan banyak umat kehilangan kepercayaan terhadap lembaga-lembaga keagamaan. Tangisan, ketakutan dan kematian yang dihadapi bangsa Israel yang tengah dikejar-kejar bahkan dimangsa ular tedung itu menjadi gambaran nyata kehidupan kita dan masyarakat dunia pada saat ini.

Lantas bagaimana kita mencari bala bantuan? Langkah pertama adalah mengakui keberdosaan kita lalu berdoa agar segala musibah dijauhkan dari kemanusiaan kita (ay. 7). Kedua, marilah kita mensyukuri bahwa Tuhan kita adalah Dia yang selalu penuh kasih dan tidak pendendam walaupun entah sudah berapa kali umat Israel mengecewakanNya. Kemurahan hati Tuhan ditunjukkanNya dengan menyediakan obat penawar atas gigitan beracun dari ular-ular tersebut. Musa diperintahkan oleh Tuhan mendirikan tiang ular tembaga agar barangsiapa yang menatap tiang itu akan tetap hidup (ay. 8-9).

Apakah makna tiang ular tembaga itu di dalam konteks minggu-minggu penderitaan Kristus ini? Allah mengutus Yesus Kristus, mengambil rupa ular, menjadi serupa dengan penjahat yang menggigit tanpa ampun, lantas Kristus dibiarkan tergantung dan mati di kayu salib supaya kita tetap hidup. Umat manusia sedang mengalami ketakutan luar yang biasa baik karena penyebaran virus mematikan, perang dan aksi terorisme, penganiayaan terhadap umat Kristen yang makin merajalela di seluruh dunia, bencana alam, keretakan hubungan baik di tengah keluarga, masyarakat dan antar bangsa. Karena keterbatasan kita sehingga bersungut-sungut dan mempertanyakan kuasa Allah dalam menyikapi tragedi dan beban kehidupan ini. Namun Allah berkata,: Jangan meragukan Allah! Lihatlah tiang ular tedung itu, tataplah Kristus yang terbujur kaku itu di salib itu agar kita hidup dan mampu serta dikuatkan menapaki kehidupan ini. Amin. (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments