Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
RENUNGAN

Orang Biasa yang Luar Biasa (Matius 13:53-58)

* Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
- Minggu, 03 Februari 2019 20:44 WIB
6.324 view
Orang Biasa yang Luar Biasa (Matius 13:53-58)
Pdt Sunggul Pasaribu
Saudara saudara yang dikasihi Tuhan.! Tidak sedikit orang-orang sukses, orang besar dan hebat, pejabat di pemerintahan, orang yang berhasil dalam bisnis justru berasal dari kalangan manusia yang berlatar belakang orang kecil, miskin, dari pedesaan. Ketika penulis pernah bertugas melayani di wilayah Tapanuli, dari salah satu pojok desa yang masih jauh dari kota kecamatan, ternyata desa inilah asal kelahiran sang Jenderal yang pernah bertugas di Istana Negara. Menurut orang desa, penulis memeroleh informasi dari masyarakat bahwa sang Jenderal ini suka menolong teman sekampungnya dengan tidak pilih kasih apakah semarga atau tidak. Bila ada lowongan kerja sepanjang memenuhi persyaratan anak sekampungnya tidak luput untuk diperjuangkan. Bapak inipun, memiliki beberapa aset di bidang pelayanan pendidikan, kesehatan, dan lembaga swadaya masyarakat di kampung halamannya.Sungguh luar biasa keteladanan seperti ini.

Demikian juga halnya dengan renungan kita hari ini. Yesus yang berasal dari Nazareth, orangtuanya seorang tukang kayu, berasal dari pedesaan namun diutus Allah ke dunia ini dengan tujuan utamanya untuk menyampaikan kabar baik, kabar sukacita, berita keselamatan melalui pendidikan Firman Tuhan, mengajar di Synagoge, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan ragam tanda mujizat lainnya.

Namun bagi kalangan elit Yahudi seperti Ahli Taurat, Farisi, kaum Saduki, pejabat agama dan pemerintahan Yahudi tidak dapat memahami keIllahian Yesus. Mereka beranggapan bahwa Yesus hanya sebatas manusia biasa, anak kampungan, bukan orang terdidik, tidak berasal dari kaum bangsawan. Mereka ini tidak yakin bahwa Yesus adalah Anak Allah yang diurapi, yang diutus untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan (Lukas 4:16-21). Inilah latar belakang penolakan terhadap Yesus.

Lebih jauh, mereka merasa kecewa karena Yesus yang melakukan berbagai mujizat ternyata orang yang mereka kenal sejak kecil. Mereka tidak dapat menerima status sosial Yesus yang bukan dari golongan terhormat dapat menjadi seorang yang memiliki kuasa untuk melakukan mujizat. Karena itulah, Yesus mengatakan bahwa seorang nabi tidak diterima di tempat asalnya (Matius 13:53-58).
Di satu sisi, menjadi seorang yang dikenal orang banyak dapat menguntungkan karena kita memiliki jaringan pertemanan yang luas. Jejaring sosial itu dapat menolong kita saat membutuhkan sesuatu, misalnya donor darah. Mudah mencari donor karena dikenal oleh banyak orang. Di sisi lain, dikenal oleh banyak orang dapat menjadi hal yang tidak menguntungkan kita. Yesus dikenal oleh masyarakat Nazaret sejak kecil justru mengalami penolakan sehingga tidak memungkinkan Ia membuat banyak mujizat. Tampaknya, penduduk Nazaret tidak dapat menerima kenyataan bahwa pembuat mujizat itu adalah anak tukang kayu, tetangga mereka.Tindakan penolakan tersebut merupakan perilaku duniawi yang menilai secara lahiriah. Sebab pada umumnya orang menilai seseorang berdasarkan apa yang tampak, seperti: status sosial, ekonomi, keturunan, relasi dengan orang berpengaruh, dan lain sebagainya.
Jarang sekali kita menilai berdasarkan kualitas pribadi dan potensi seseorang. Akibatnya, terjadilah penerimaan atau penolakan secara tidak masuk akal. Misalnya dalam dunia pekerjaan di mana seseorang diterima atau ditolak berdasarkan status, agama, relasinya dengan orang dalam, atau hal lain yang tidak ada hubungan dengan kualitas yang dibutuhkan dalam pekerjaan tersebut.
Penolakan tidak dapat dijadikan alasan untuk menyerah. Kita harus bergiat untuk berkarya sekalipun ditolak. Seperti Yesus tidak berhenti berkarya, demikian pula kita jangan cepat menyerah. Jangan kita kalah dengan situasi sulit! Sebaliknya, kita harus menang dengan cara menunjukkan kualitas kita. Mengapa? Karena penolakan dunia yang dialami Yesus lebih disebabkan faktor lahiriah belaka. Mereka tidak melihat sisi kualitas rohani yang ada dalam diri Yesus.

Saudara-saudara yang dikasihi tuhan! Demikian juga bagi kita sebagai pembaca masa kini, kita sering dibelenggu oleh pikiran yang sempit bahwa seseorang dari desa/kampung terpencil akan sulit berhasil. Padahal jika diteliti kita menemukan lebih banyak orang desa/pelosok yang berhasil ketimbang orang yang lahir hingga mati di kota besar. Mereka yang sukses dari kampung biasanya ulet, tekun dan sebagian dari mereka berintegritas sehingga beroleh kepercayaan untuk menjadi orang sukses, menjadi hebat, menjadi pemimpin.

Oleh karena itu, jangan pernah kita merasa berkecil hati bila sesewaktu kita selalu dipinggirkan, jangan pernah kita menyerah berbuat baik meski kita acap kali difitnah, janganlah kita menyerah untuk berjuang meskipun kita dihambat dengan berbagai cara licik oleh lawan kita, jangan pernah kita patah arang meski ada upaya yang sistemik untuk menghempang karir kita. Ingatlah firman-Nya berkata; "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20). Amin! (d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru