Jumat, 13 Des 2019

Oikumene: Keberagaman yang Dijiwai Kesamaan

Oleh Pdt Dr Luhut P Hutajulu
Minggu, 01 Juni 2014 20:00 WIB
Membingungkan. Gereja mana yang betul? Apa sebabnya ada begitu banyak macam gereja? Sejak kapan  gereja terpecah-pecah begini? Bukankah semua gereja itu  percaya kepada Kristus yang sama? Memang Kristusnya satu dan sama, namun cara orang menghayati iman kepada Kristus  bisa berbeda. Perbedaan pandangan inilah yang menyebabkan gereja terpisah-pisah. Pada awalnya, yaitu abad pertama, hanya ada satu macam gereja. Tidak lama kemudian terjadi sejumlah perpecahan kecil.

Perpecahan besar terjadi pada abad ke-11 sehingga gereja yang selama itu disebut Katolik (artinya:umum) terbagi atas dua bagian, yaitu Gereja Ortodoks Timur (atau Katolik Gerika) dan Gereja Katolik Roma. Pada abad  ke-16 perpecahan yang lebih luas dampaknya Gereja Katolik Roma terpecah dua menjadi Gereja Katolik Roma dan Gereja Protestan (atau Gereja Reformasi). Gereja Protestan ini terdiri dari tiga aliran, yaitu Lutheran, Calvinis (atau Reformed atau Presbiterian), dan Anglikan (atau Episkopal).

Dalam abad-abad selanjutnya muncullah puluhan macam pecahan dari ketiga aliran itu. Oleh sebab itu, Gereja Lutheran, Calvinis, dan Anglikan disebut gereja-gereja aliran utama atau arus utama (main line atau main stream). Pecahan-pecahan yang muncul dari aliran utama itu adalah Mennonit, Babtis. Metodist, Mormon, Adventis, Saksi Yehova, Bala Keselamatan, Pentakosta, Kharismatik, Injili, New Age Movement, dan lain-lainnya. Apa ciri ajaran-ajaran gereja-gereja itu? Segala ciri itu, dijelaskan dalam buku Berbagai Aliran di Dalam dan Sekitar Gereja  oleh Jan Aritonang pakar sejarah gereja terkemuka. Dengan memakai metode fenomenologis-historis, Aritonang  secara rapi dan jelas menerangkan latar belakang timbulnya tiap gereja, siapa pendirinya, apa ciri ajarannya, apa kiprahnya, dan gereja Indonesia mana yang menganut aliran itu.

KEESEAAN ADALAH KARUNIA
Semua gereja itu sebenarnya satu dan sama, yaitu organ-organ tubuh Kristus. Keesaan bukan sesuatu yang harus diusahakan, melainkan sudah dikaruniakan. Namun dalam keesaan juga terdapat kemajemukan. Yang perlu diusahakan adalah agar di dalam kemajemukan itu, gereja mewujudkan keesaan dengan saling mengakui bahwa semua gereja merupakan bagian dari satu tubuh yang sama. Mengaku diri gereja yang esa bukan berarti meleburkan diri, melainkan mengakui keabsahan gereja lain mulai dari hal-hal yang dasariah, yaitu baptisan dan perjamuan kudus. Babtisan oleh gereja manapun diakui, sehingga tidak ada gereja yang melakukan baptisan ulang dan meja perjamuan kudus terbuka untuk umat dari  gereja manapun juga.
Kini kita hidup dalam dunia yang pluralistik. Karena  itu, kita perlu  memiliki wawasan teologis yang jelas dalam suasana dunia yang semakin majemuk ini. Pluralitas agama, budaya, ras, kelompok dan etnis semakin merupakan bagian dari hidup  kita. Kepelbagaian ini tentu mengandung potensi konflik yang besar dan jika tidak diwaspadai dapat berbahaya. Dalam gereja pun terdapat pluralitas yang semakin menonjol, yang jika tidak diwaspadai bisa menjadi sumber konflik.

Berdasarkan sejarah gereja, kita dapat melihat bagaimana munculnya berbagai aliran dalam gereja Kristus yang esa itu. Ada Lutheran, Katolik, Ortodoks, Methodis, Presbiteran, Anglikan, Pentakosta dan sebagainya. Kita juga melihat di sekitar kita munculnya berbagai aliran, warna, serta gerakan dalam tubuh gereja yang terkadang mengacaukan pikiran anggota jemaat. Yang jelas Yesus mendoakan kesatuan gerejanya: ”supaya mereka semua menjadi satu, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. (Yoh.17:21).

Bersatu atau tidak bersatunya orang Kristen sangat berpengaruh pada percaya atau tidaknya dunia kepada Kristus sebagai utusan Bapa. Dengan kata lain, berhasilnya misi dan pekabaran Injil dalam dunia ini tergantung pada kesatuan orang percaya. Jika dunia melihat orang percaya dan gereja bersatu, maka masyarakat dunia akan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Tetapi sebaliknya jika dunia menyaksikan perpecahan yang terjadi dalam tubuh gereja, maka misi gereja akan gagal. Itulah sebabnya Yesus sangat peduli akan kesatuan dan persatuan orang percaya orang-orang beriman. Dia mendoakan kesatuan gereja sepanjang zaman. John Wesly memberikan satu moto (nasihat) sebagai basis untuk kesatuan orang percaya, yang berbunyi: In essentials, unity; in nonessentials liberty; in all things charity (Dalam hal-hal yang esensial kita bersatu, dalam hal-hal yang tidak esensial bebas, tetapi dalam segala hal kita saling mengasihi).  Mari kita lihat arti moto ini satu persatu

A.In essentials, unity (Dalam hal-hal esensial, bersatu)
Apakah perkara yang esensial dalam umat Kristen? Paulus, dalam Efesus 4:4-7,menguraikan perkara-perkara esensial dalam gereja. Hanya ada satu tubuh, yakni tubuh Kristus yaitu gereja-Nya. Kita mengikrarkan dalam Pengakuan iman Rasuli bahwa kita percaya akan adanya satu gereja yang kudus dan am, persekutuan orang-orang kudus. Hanya ada satu Roh, yaitu Roh Kudus yang mengikat persekutuan orang-orang percaya. Orang percaya mempunyai satu pengharapan, yaitu sorga yang mulia, tujuan setiap orang percaya . Yesus Krsitus akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Kita juga mempunyai iman  yang satu, yaitu iman dan penyerahan diri kepada Kristus.

B.In nonessentials, liberty (Dalam hal yang tidak esensial, bebas)
Apakah hal-hal yang tidak esensial dalam iman Kristen? Ada tiga contoh perkara tidak esensial, yang di dalam cara pelaksanaannya kita bebas. Pertama, bentuk kebaktian. Kita bebas mengekspresikan iman kita melalui ibadah sesuai dengan tradisi gereja kita masing-masing. Anda boleh memuji Tuhan sambil bertepuk tangan atau tanpa bertepuk tangan. Anda bisa berdoa sambil bersuara kuat atau tanpa suara. Perkara-perkara tersebut adalah hal-hal yang tidak esensial. Kedua, model babtisan. Kita bebas memakai bentuk dan cara membabtis sesuai dengan kepelbagaian tradisi gerea kita. Kalau gereja kita mempergunakan baptisan percik, jangan salahkan cara babtisan selam.  Ketiga, sistem organisasi gereja. Ada banyak bentuk dan sistem organisasi gereja di dunia ini, yang tercipta dalam proses sejarah. Ada papal, episkopal, presbiteral, sinodal, dan kongregasional.

C.In all thins, charity (Di dalam semua hal, kasih)
Yang paling penting dilakukan orang Kristen adalah kasih. Kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri.(Mat.22:38-39).

Apa yang menjadi dasar OIKUMENE itu? Akhir-akhir ini, kata ‘oikumene’ dan ‘oikumenis’ semakin sering dipakai. Apa yang menjadi dasar oikumene? Yang pertama, semangat oikumene adalah semangat kesatuan, semangat persatuan. Apa yang ditekankan Paulus dalam Efesus 4:3,”Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Artinya, kekristenan itu memang berbeda-beda. Ada  Calvinis (seperti GKI) ada Lutheran(seperti HKBP), ada Pentakosta (seperti Betani), ada Advent, ada Baptis , ada  Kharismatik, dan lain-lain. Macam-macam, berbeda-beda, tetapi dalam hati kita merasa satu, semua adalah saudara-saudara kita. Kita tidak dicampur-aduk seperti gado-gado, tetapi di antara kita ada ‘ikatan damai sejahtera’. Artinya, tidak menganggap yang lain sebagai musuh, ancaman atau saingan, tetapi sebagai anggota satu tubuh.

Berbeda, tetapi saling menghormati, saling mengasihi dan saling membutuhkan. Sebagai bagian dari gereja yang universal, gereja-gereja  yang  tergabung PGI telah sejak permulaan gerakan oikumene sedunia ikut di dalamnya. Terbukti dalam sidang raya Dewan Gereja-gereja Sedunia(WCC) di Amsterdam tahun 1948, Indonesia telah mengirim peninjau-peninjaunya. Setahun kemudian, gereja-gereja di  Indonesia  menyelenggerakan konfrensi persiapan pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia(DGI), yang dihadiri oleh 29 gereja. Pada tanggal 25 Mei 1950, secara resmi didirikanlah Dewan Gereja–gereja di Indonesia(DGI) di Jakarta.

Di dalam ‘oikumene’ bukan berarti kesatuan itu ‘persamaan’, melainkan kesatuan itu berarti keberagaman yang dijiwai oleh kesamaan. Kesamaan dalam visi dan misi. Oleh karena itu gereja seharusnya mengakui pluralitas-unitas dalam eklesiologi, baik pluralitas ke dalam(penghargaan terhadap kepelbagian charisma dari individu warga gereja), maupun pluralitas keluar (keanekaragaman agama). Di dalam Alkitab ‘kepelbagaian’ dicerminkan dalam gambaran tubuh  yang satu, dengan banyak anggota(1 Korintus 12:12-31). Kepelbagaian ini tidak ditindas, atau dianggap sebagai penghambat kesatuan, tetapi dipandang  sebagai sesuatu yang memperkaya  dan saling melengkapi (Efesus 4:16) Kepelbagaian anggota tubuh itu mempunyai tujuan  (saling melayani) yang ditentukan oleh sang Kepala yakni Kristus sendiri yang mengikat  anggota-anggota tubuh itu menjadi satu kesatuan. Dari 1 Korintus 12 dan Roma 12, nyata bahwa tiap orang percaya mempunyi karunia yang berbeda-beda. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa sekalipun di dalam tubuh Kristus  ada pluralitas  dari karunia-karunia, tetapi Roh Kudus menjadi faktor pemersatu dan memperkuat unsur-unsur  kepelbagaian itu sebagai satu kesatuan. (Penulis, pendeta HKBP Taman Mini/ r)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments