Bandul teologi sedang berayun kencang bahkan mengalami titik balik pemaknaan. Jika selama ini teologi selalu berimplikasi pada aspek sosial dengan segala dinamika hidup yang melatarinya, tidak demikian halnya pada masa pandemi Covid-19. Gereja sedang mengalami guncangan pemahaman mengenai cara beradanya atas warisan pemaknaan teologi yang sudah dibangun sejak pemanggilan bangsa Israel sebagai umat Tuhan. Pada faktanya, pandemi Covid-19 telah berimplikasi sangat luas dalam memahami dimensi teologi, praktek menggereja dalam mewujudkan panggilannya.
Tanpa mengesampingkan adanya harapan dan usaha kongkrit agar badai Covid-19 ini dapat berlalu, gereja sedang diperhadapkan pada realitas baru dalam mewujudkan tugasnya menyatakan tanda-tanda kerajaan Allah di dalam dunia. Gereja berada dalam pergulatan teologi untuk mewujudkan makna persekutuan orang kudus yang dipanggil dari kegelapan dengan aspek koinonia guna membangun dan mewujudkan cinta kasih Allah dalam diakonia sehingga menjadi alat kesaksian, marturia bagi dunia.
Gereja sedang diperhadapkan pada makna ibadah atau liturgi sebagai saran perjumpaan umat beriman dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Sebab, gereja sepanjang abad selalu mewujudkan panggilannya atas warisan pemaknaan cara berada pada perjumpaan umat beriman dengan mengedepankan pentingnya bangunan, gedung gereja sebagai simbol kehadiran Allah.
Tetapi akibat pandemi Covid-19, gereja dihempas. Semua aspek sosial ditandai adanya sosial distance, larangan berkumpul dan larangan lainnya yang bersifat persentuhan fisik. Akhirnya ibadah berlangsung di rumah saja.
Pergulatan Teologi
Goncangan paradigma berteologi, bukan hanya ditandai maraknya perdebatan di kalangan orang bergereja mengenai asal usul virus yang telah menggoncang dunia ini. Realitas sosial juga ditandai maraknya pertanyaan apakah Tuhan yang menciptakan virus ini atau karena ulah manusia ?
Perlu menelisik warisan catatan kelam sejarah dunia, sesungguhnya kehidupan dunia ditandai penyebaran wabah, virus yang telah menelan jutaan nyawa manusia. Setidaknya catatan Yuval Noah Harari dalam buku best sellernya "Homo Deus" menjadi salah satu rujukan. Menurut penulis buku besar "Sapiens" ini, bahwa lebih dari puluhan juta bahkan ratusan juta mayat manusia pernah dimakamkan dengan cara tidak lajim sebagai akibat epidemi bakteri "yersinia pestis, bakteri maut hitam, virus cacar (small vox), flu spanyol, sars, flu burung, flu babi dan ebola".
Maka sesungguhnya, gereja masa kini tidak harus terjebak pada kubangan perdebatan mengenai asal usul virus yang ditemukan pada akhir Desember 2019 sehingga disebut Corona Virus Disease-19 (Covid-19). Justru pada realitas semakin beratnya penderitaan hidup umat beriman, maka gereja harus menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah. Justru pada kondisi semakin menguatnya krisis sosial ekonomi sebagai dampak pandemic Covid-19, gereja hadir menyatakan kuasa Allah yang membangkitkan Yesus dari kematian mengalahkan penderitaan maut.
Prevenient Grace
Keyakinan pada kuasa Paskah, justru menyadarkan gereja pada potensi kuasa Allah di dalam diri umat percaya sebagai gambar dan rupa Allah. Sebab, kesegambaran itu mengandung sebuah makna bahwa manusia sejak dari masa penciptaan telah dikarunia anugerah pendahuluan (prevenient grace). Prevenient grace akan membuat umat beriman mampu menyadari hadirnya Roh Kudus dalam menanggapi panggilan Allah dalam menyelamatkan manusia pada realitas hidup berdosa.
Keyakinan prevenient grace ini jugalah yang membuat manusia menyadari potensi dirinya. Tuhan mengarunia kemampuan berpikir, mengelola dunia sehingga manusia mampu menghadapi kesulitan hidup bahkan menghadapi maut sekalipun. Itu juga berarti, kesadaran terhadap prevenient grace membuat umat Tuhan di dalam komuntas gereja dan realitas hidupnya untuk berkreasi secara kreatif, inovatif sehingga mampu menghadapi pandemic Covid-19.
Dengan adanya keyakinan pada prevenient grace akan mendorong gereja untuk memaknai panggilannya dalam mendoakan, memotivasi umat Tuhan sehingga para dokter, peneliti mampu menyadari dirinya dikarunia potensi diri sebagai pemberian Tuhan. Kesadaran demikian akan menyemangati para dokter, para peneliti medis akan berusaha keras bahkan menazarkan dirinya untuk dapat menemukan vaksin dalam melawan virus yang dapat menghindarkan korban nyawa manusia yang besar.
Di sisi lain, kesadaran akan prevenient grace akan mendorong gereja dan seluruh umat Tuhan untuk menyadari realitas zaman sekarang sebagai masa Revolusi Industri 4.0. Gereja masa kini mampu memaknai fungsi positif kemajuan teknologi dan gereja menjadikan media elektronik sebagai sarana mewujudkan tri tugas panggilan gereja; koinonia, diakonia dan marturia. Maka, fungsi gereja tidak hanya sekedar menghimbau umat Tuhan agar sabar dan beribadah di rumah saja tetapi harus kreatif dalam realitas konteksnya.
Mewujudkan Panggilan
Jika sejak ribuan tahun gereja memahami ibadah pada gedungnya, maka kondisi sekarang, ibadah bukan ditentukan pada materi, gedung atau tempatnya tetapi pada roh penyembahan.
Adanya kesadaran teologi "gereja tanpa dinding" demikian, sesungguhnya telah diwariskan oleh Tuhan Yesus ketika kita memaknai percakapan-Nya dengan perempuan Samaria. "Saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 4: 21-23).
Sebuah warisan teologi penyembahan di dalam Roh dalam realitas menguatnya keinginan umat Yahudi untuk beribadah dengan mendasarkan diri pada kualitas keagungan sebuah gedung rumah ibadah dan keagungan gunung perjumpaan dengan Tuhan. Sehingga, dengan kemajuan teknologi, gereja juga dapat mewujudkan tugas kerygmatisnya, menyampaikan khotbah yang kreatif, meneguhkan dan memotivasi umat Tuhan untuk hidup dalam penyembahan dalam roh dan kebenaran guna memaknai realitas hidupnya.
Dengan kemajuan teknologi, gereja masa kini akan menyadarkan jemaat akan makna komunion sanctorum, persekutuan orang kudus yang dipersatukan di dalam Yesus Kristus. Sehingga umat Tuhan akan dapat terpelihara jiwanya dan dipersatukan sebagai murid Yesus. Melalui teknologi, gereja dapat melakukan kegiatan kelompok sel, ibadah rumah tangga, mengunjungi melalui teknologi.
Dengan teknologi, gereja pada fungsi diakonianya dapat menghubungkan sesama umat Tuhan untuk aling membangun, saling berbagi dalam menghadapi kenyataan hidup sosial ekonominya. Gereja dapat memotivasi umat Tuhan dalam membangun ekonomi digital, mendorong jemaat untuk bergiat dalam bekerja dan berusaha secara online. Dan pada saat bersamaan, konsep marturia gereja juga bertanggungjawab pada upaya penghapusan berita hoax. Melalui media elektronik, gereja dapat menyebarkan Injil dan bersaksi bagi dunia.
Dengan demikian, sesungguhnya gereja tidak membangun gagasan teologinya pada sesuatu yang bersifat utopia tetapi pada realitas pergumulan hidupnya. Justru adanya pergumulan, penderitaan, gereja melalui sarana harus menyatakan kuasa penyembuhan, kuasa membangkitkan/menghidupkan, kuasa memenangkan. Sehingga kompleksitas kerinduan untuk mwujudkan panggilan gereja di masa Covid-19 menjadi jawaban kerinduan jemaat untuk mengalami hadirnya Roh Kudus dalam perjumpaan penyembahan roh dengan Tuhan. Amin. (p)