Selasa, 22 Sep 2020

Renungan

Menyembah dalam Roh dan Kebenaran (Yohannes 4:21-26)

Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
bantors Minggu, 20 Oktober 2019 09:46 WIB
Pdt. Sunggul Pasaribu
Kita bisa belajar dari Yesus bagaimana menjawab sekaligus menyelesaikan masalah yang sedang dibicarakan. Yesus menjawab: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (ayat 21-24). Dia menjawab persoalan yang ditanyakan "apakah di gunung ini atau di Yerusalem" menyembah Tuhan?. Sebab orang Samaria menyembah di Gerizim, maka orang Samaria merasa 'kita yang otentik, sebab Tuhan pertama kali memerintahkan di Gerizim bukan yang seperti anggapan orang-orang selatan (Yerusalem)'. Memang ada perbedaan teologi antara orang Samaria dan Yahudi.

Kemudian Yesus mengeritik mereka sebagaimana dalam Ayat 22, "Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi". Waktu Yesus mengatakan "keselamatan datang dari bangsa Yahudi", Dia sebetulnya mau mengatakan bahwa mesias itu dari bangsa Yahudi. Yesus sedang menunjuk kepada kepentingan mesias, bukan soal bangsa Yahudi-nya. Mesias memang dinubuatkan datang dari bangsa Yahudi bukan dari kerajaan utara tapi dari selatan (Yuda), "keselamatan datang dari bangsa Yahudi". Begitu Yesus meluruskan kesalahan paham mereka.

Yesus menegaskan kembali dalam ayat 23 bahwa orang tidak lagi menyembah dengan tergantung pada tempat-tempat tertentu, melainkan "menyembah Bapa di dalam roh dan kebenaran, dan Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian". Menyembah di dalam roh dan kebenaran maksudnya bukan dibatasi oleh gunung ini atau gunung itu. Belakangan hari di jaman perjanjian lama, bukti seperti ini sebenarnya sudah terjadi, di mana pada masa raja Salomo membangun Bait Allah di Yerusalem agar jangan lagi mereka dipengaruhi alam berfikir polytheisme, yang terpecah dan terbelah hanya soal tempat di manakah menyembah Allah yang sebenarnya. Untuk mempersatukan pandangan keyakinan menyembah Allah maka Salomo menjadikan Yerusalem sebagai pusat agama dan pusat pemerintahan. Tapi mereka lupa sejarah ini.

Yang diajarkan Yesus adalah menyembah Allah Bapa di dalam roh dan kebenaran. Menyembah Tuhan bukan ditentukan tempat, bukan hanya Gerizim, atau Yerusalem tempat Allah berdiam. Allah ada dimana-mana, ada di hati orang percaya, di hati orang yang benar, yang jujur, yang tulus, dan ikhlas. Kehadiran Allah ditentukan oleh situasi, sikap dan sikap orang yang menyembah Dia.

Orang-orang perjanjian lama tidak terlalu mengenal Kristus dan mereka lebih mengenal orang (tokoh) yang memperkenalkan Allah itu sendiri. Itulah sebabnya, mereka mengaku dan memujanya dengan melekatkan nama nenek moyangnya terhadap Allah dengan sebutan Allah-nya Abraham, Allah-nya Ishak, dan Allah-nya Yakub. Nama dan tempat itu sangat penting bagi orang Yahudi. Jadi, ketika Yesus bertemu dengan perempuan Samaria tentang hubungan yang mis-understanding antara Yahudi dengan Samaria, hal ini lebih disebabkan warisan Allah yang berbeda. Kembali pada poin yang dikatakan Yesus, supaya mereka "menyembah dalam roh dan kebenaran", penekanannya ada pada Kristus, Sang Mesias.

Perempuan ini waktu mendengar sampai pada ayat 24, yaitu, alasan pembenaran (getaran iman), mereka yang dibenarkan oleh Allah adalah mereka yang percaya, yang menyembahnya di dalam roh dan kebenaran bukan karena tempat yang ditentukan manusia. Perhatikan, di ayat 25 yang pertama kali bicara tentang mesias adalah si perempuan. Yang menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Namun karena perempuan ini sudah betul-betul dipersiapkan hatinya, dia sendiri mengakui, katanya: "Aku tahu, bahwa mesias akan datang" (ayat 25). Yesus tidak pernah mengatakan kalimat itu lebih dulu tapi perempuan ini mengatakannya. Mengapa? Karena ada getaran dalam jiwanya waktu Yesus memberitakan tentang diri-Nya. Dan ini memang menunjuk kepada mesias, yaitu, diri-Nya sendirilah mesias itu.

Maka akhirnya Yesus menyatakan langsung tentang siapa mesias itu. Lihat ayat 26, Yesus mengatakan; "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau". Kita tinggal mengatakan "Yesus-lah Dia yang kamu cari sebenarnya". Di dalam bahasa Yunani kalimat ini sangat dekat sekali dengan bahasa yang dipakai waktu Yahweh memperkenalkan diri-Nya sendiri kepada Musa "Ego eimi" (I am - that I am, Aku adalah Aku). Perempuan ini orang Samaria, mereka sangat akrab dengan lima kitab Musa. Maka waktu dikatakan "Ego eimi" akan langsung menunjuk kepada tradisi kitab Musa itu (di sini ada keindahan tersendiri yang kita tidak bisa rasakan dalam terjemahan bahasa Indonesia karena terjemahannya "Akulah Dia"). Ada saatnya kita perlu memperkenalkan Yesus dengan jelas; bukan hanya sampai pada memperkenalkan rasa tetapi justru bagaimana supaya orang itu sedang merasakan kasih Tuhan hingga ia mengakui sang mesias. Maka setiap orang yang mengaku, menyembah Dia di dalam Roh dan Kebenaran sesungguhnya dia akan melihat dan merasakan karunia dan hidup yang kekal. Percayalah. Amin! (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments