Minggu, 20 Sep 2020

Renungan

Menjadi Terang di Tahun 2020 (Yesaya 49:1-7)

Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
redaksi Minggu, 05 Januari 2020 19:44 WIB
SIB/Dok
Pdt. Sunggul Pasaribu
Pada suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Ibu Teresa, katanya ; "Ibu telah melayani kaum miskin di Kolkata, India. Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal?" Ibu Teresa menjawab, "Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia terhadap komitmen pengutusan."

Lebih jauh Ibu Teresa menjelaskan, katanya, setiap pelayan Tuhan di mana pun dan dalam peran apa pun, tidak dipanggil untuk berhasil. Sebab jika panggilannya adalah keberhasilan, ia akan sangat riskan untuk jatuh dalam kesombongan. Hendaknya disadari bahwa pelayan Tuhan dipanggil untuk senantiasa tetap setia serta memiliki komitmen yang teruji, terpercaya, dan bermanfaat bagi dunia. Seorang hamba Tuhan dalam melakukan tugas pelayanannya haruslah dengan penuh komitmen dan tanggung jawab semampunya, bukan menurut kemauannya sendiri.

Kita hidup di dunia ini mungkin masih menemui banyak manusia belum mengenal Kristus tetapi sementara jangkauan pelayanan kita masih terbatas dalam daya dan dana. Atau mungkin saja kita ingin menyuarakan suara nafiri Tuhan namun kita tidak memiliki alat pengeras suara, atau kita masih menemukan bahwa di banyak tempat suku dan bangsa bangsa masih hidup dalam kegelapan, gelap mengenal huruf, gelap gulita terhadap kemajuan, masih gelap melihat keadilan dan kebenaran, masih diselimuti kegelapan oleh karena cuaca, polusi, dan kemarau panjang serta bencana alam seperti banjir.

Kenyataan dan keberadaan seperti itu pula yang sedang dialami oleh bangsa Israel. Mereka hidup di bawah kendali penguasa Babel, ditawan, tidak merdeka untuk beribadah kepada Tuhan Allahnya, Abraham, Yakub, dan Isak. Hidup kemasyarakatan mereka terbelenggu oleh pengaruh dan kuasa asing. Namun dalam situasi kegalauan jiwa bangsa Israel, Allah mengumandangkan sebuah pengharapan baru bahwa Allah segera akan mengirimkan cahaya terang melalui dan di dalam kehadiran sang Messias. Inilah suara nabiah Tuhan yang disampaikan oleh Yesaya agar mereka siap sedia dan mulai membangun komitment untuk menjadi terang tidak hanya kepada bangsanya tetapi juga bagi bangsa-bangsa.

Nats renungan kita ini (Yesaya 49:1-7) menceritakan tentang panggilan dan penugasan hidup bangsa Israel sebagai hamba-Nya yang saat itu sedang mengalami penderitaan karena penjajahan dan pembuangan ke Babel. Israel memikirkan dan menyadari tentang bagaimana mereka agar bisa menjadi bangsa yang utuh kembali ketika mereka di Palestina. Namun, melalui Yesaya, Tuhan mengingatkan bahwa mereka tidak boleh hanya memikirkan bangsa mereka sendiri. Kepada bangsa Israel, Tuhan mengatakan bahwa terlalu sedikit tugasnya dan impiannya jika hanya untuk menegakkan kembali suku-suku Yakub dan mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara (ay. 6).

Perlu mereka ketahui bahwa panggilan semula agar mereka menjadi saluran berkat. Allah menginginkan mereka yang sudah dipersiapkan untuk tugas yang lebih besar. Allah juga tidak menginginkan mereka menjadi bangsa yang esklusif, tetapi Allah berkeinginan supaya mereka menjadi terang bagi bangsa-bangsa, tujuannya supaya semakin banyak orang merasakan keselamatan yang dari Tuhan.

Saudara-saudara yang terkasih. Tuhan memanggil setiap hambaNya, secara khusus di Perjanjian Lama, dengan pola tertentu dimana panggilan tersebut mempunyai dua dimensi tujuan. Dimensi pertama terkait dengan karakter dan kehidupan pribadi yang dipanggil. Dimensi kedua, terkait dengan pergumulan konteks (sosial, politik, spiritual) di mana kemudian pribadi yang dipanggil diutus ke suatu tempat. Maka penting bagi setiap pribadi yang dipanggil mengetahui dan melaksanakan tugasnya sebagai hamba Tuhan.

Kini, Yesaya dipanggil dan diutus di tengah pergumulan bangsanya. Mengapa? Karena secara spiritual, Israel adalah umat yang tidak lagi setia pada Tuhan. Menjelang pembuangan mereka terbukti lebih mengandalkan bangsa lain dibanding Tuhan. Itu sebabnya, Tuhan mengijinkan Israel ditawan dan dibuang di Babel (pergumulan sosial, politik). Ada tiga tugas penting Yesaya sebagai hamba Tuhan. Pertama, "menyatakan keagungan" Tuhan (ay. 3). Tugas ini menuntut Yesaya untuk menceritakan kebesaran dan keagungan Tuhan yang layak diandalkan Israel Pasal 30, 31, 33). Kedua, "mengembalikan komunitas Yakub kepada-Nya" (ay. 5). Artinya, melalui Yesaya Israel dipanggil untuk mengutamakan Tuhan sehingga restorasi (pembaruan) rohani akan berdampak pada tegaknya kembali "suku-suku Yakub" (ay.6) yang terserak dan terpecah akibat pembuangan di Babel. Ketiga, panggilan supaya "menjadi terang bagi bangsa-bangsa" (ay. 6). Ketika Israel dipulihkan, bangsa-bangsa lain akan terheran-heran dan turut mengakui kedaulatan Tuhan yang disembah Israel. Dengan demikian Israel dapat berperan kembali menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Saudara-saudara! Di tengah pergumulan hidup, Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Oleh karena itu, janganlah kita mengabaikan peran, tugas dan tanggungjawab supaya memberi sinar terang yang bercahaya bagi dunia yang sedang dilanda kegelapan mata rohani manusia. Justru dalam kenyataan menghadapi ragam pergumulan, cobaan dan kesulitan manusia disanalah kita dipanggil supaya menjadi terang bagi dunia. Selamat menjadi terang di tahun 2020 ini. Amin.! (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments