Jumat, 19 Jul 2019

R E N U N G A N

Menjadi Saksi Kebangkitan Yesus

* (Matius 28:1-10) Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
admin Minggu, 21 April 2019 14:53 WIB
Pdt Sunggul Pasaribu
Sebelum kebangkitan Yesus, murid-murid-Nya dalam keadaan takut. Mereka takut kepada orang banyak yang selama ini menghujat Yesus dan pengikut-Nya, mereka takut terhadap orang Yahudi dan orang Romawi yang mengadili dan menghukum-Nya. Mereka takut bahwa mereka akan mengalami seperti yang Yesus alami, takut diadili, disiksa, disalibkan hingga mati.

Namun dengan peristiwa kebangkitan Yesus keadaan yang dirasakan para murid-Nya segera berubah. Peristiwa kebangkitan menjadi sejarah baru menjadi sebuah pengharapan baru, suatu kehidupan baru.

Apakah Anda memerhatikan bagaimana cara penulis injil Matius mengakhiri tulisannya sebagaimana terlihat dalam Matius 27:57-61. Kitab Matius menutup bagian peristiwa kematian dengan menyinggung tentang Maria Magdalena dan Maria lainnya yang turut ada menyaksikan peristiwa penyaliban di Golgota hingga melihat bagaimana jenazah Yesus dimakamkan oleh Yusuf, karena mereka masih tinggal beberapa saat di situ (Matius 28:61). Tampaknya Matius mempunyai alasan kuat mengapa peristiwa tersebut perlu dicantumkan. Sebab ada kaitan bagian ini dengan peristiwa kebangkitan Yesus. Dari fakta ini dapat kita ketahui bahwa yang menjadi saksi pertama dari peristiwa kebangkitan tersebut adalah kaum perempuan, seperti Maria Magdalena dan Maria yang lain (Matius 28:1).

Sebagai saksi mata pertama dalam peristiwa kebangkitan Yesus, kemudian kesaksian kedua perempuan itu sangat penting. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, dan yang mereka alami sendiri menjadi bukti nyata bahwa kebangkitan Yesus benar-benar terjadi (Matius 28:1-3). Kehadiran Malaikat di sekitar liang kubur yang menghampiri dan menyapa para perempuan tersebut sangat menggentarkan hati, sehingga berita yang disampaikan oleh Malaikat semakin menguatkan hati mereka (Matius 28:5-7). Pesan malaikat itu sangat jelas karena ia meminta kedua perempuan itu bukan hanya mewartakan kebangkitan Kristus, tetapi juga menceritakan segala sesuatu yang mereka lihat di kubur Yesus kepada para murid lainnya.

Tanpa keraguan, mereka segera pergi dan melakukan perintah malaikat Tuhan. Perhatikan bagaimana Matius menekankan ketergesaan mereka dengan memakai kata "segera pergi, dengan takut, sukacita besar, berlari cepat-cepat." Tetapi langkah mereka terhenti saat Yesus hadir secara tiba-tiba di hadapan mereka. Secara spontan kedua wanita itu sujud menyembah-Nya.Pada momen itu, Yesus meneguhkan iman dan ketaatan mereka untuk memberitakan akan kebangkitan-Nya. Di sinilah mereka berjumpa dengan Yesus yang bangkit secara pribadi.

Perjumpaan pribadi dengan Yesus telah mengubah pola pikir, semangat, iman, dan kehidupan kedua wanita itu. Mereka menjadi pewarta Injil Kristus yang gigih dan setia. Bagaimana dengan Anda? Perubahan apa yang Anda alami sejak berjumpa dengan Yesus? Bagikanlah kisah itu kepada orang di sekitar Anda.

Setelah perjumpaan mereka terhadap Yesus yang bangkit, lalu tugas berikutnya menjadi kewajiban untuk memberitahukan kebangkitan tersebut kepada para murid-murid. Semangat menjadi saksi Kebangkitan Kristus inilah yang menjiwai mereka untuk memberitakan kabar baik, kabar sukacita bahwa Yesus sudah bangkit, sudah tidak lagi hidup di alam maut dan kematian. Mengapa mereka begitu semangat untuk memberitakan kebangkitan-Nya? Sebab mereka tahu bahwa Yesus akan menyediakan yang terbaik baginya dan bagi siapa saja yang memberitakan kebangkitannya. Bukan hanya pada zaman Yesus tapi sampai saat ini. Beritakanlah kebangkitan Yesus. Amin! (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments