Kamis, 20 Feb 2020

Membangun Komunitas GKPI Tahun 2019

* Oleh Pdt. Ro Sininta Hutabarat, Sekjen GKPI
admin Minggu, 03 Februari 2019 10:41 WIB
Pdt. Ro Sininta Hutabarat, Sekjen GKPI
Kita sedang menjalani kehidupan dalam zaman teknologi komunikasi yang sangat canggih sebagai bagian dari era Revolusi Industri 4.0. Hampir setiap saat, di setiap tempat kita dapat dengan mudahnya mengakses informasi, yang ada dan terjadi di seluruh penjuru dunia. Dengan kehebatan teknologi komunikasi, kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja dan di mana saja.

Tetapi pada saat yang sama, kita juga menyaksikan semakin rusaknya hubungan, relasi di dalam kehidupan keluarga, semakin minimnya relasi konstruktif antara anak dengan orangtua. Sehingga semakin hari semakin banyak peristiwa yang bertentangan dengan Firman Allah; perceraian, peristiwa kekerasan, pembunuhan antara anak dengan orangtua.

Adalah menjadi pemandangan yang biasa dan jamak terjadi apabila satu keluarga; ayah, ibu dan anak sedang duduk di meja makan di sebuah restoran, atau di teras rumah mereka asyik dengan alat komunikasinya masing-masing tetapi mereka tidak dalam komunitas komunikasi antara orangtua dan anak. Mereka ada bersama dalam sebuah kumpulan tetapi bukan dalam sebuah komunitas yang sama-sama hadir bagi sesama keluarga, yang dekat menjadi jauh yang jauh menjadi dekat.

Fakta sosial demikian adalah realitas hidup sebagai akibat dari rapuhnya fondasi bangunan komunitas keluarga. Bukan hanya pada aspek kerohanian atau spiritualitas, bukan hanya pada kurangnya komunikasi yang baik, tetapi juga pada lemahnya pemaknaan diri akan panggilan identitas sebagai suami, sebagai isteri, sebagai anak dalam sebuah keluarga.

Itulah zaman sebagaimana pernah diungkapkan oleh oleh Harvey Cox sebagai zaman anonim, relasi yang tidak saling kenal nama dan tidak bersifat personal. Dan masyarakat yang ditandai dengan menguatnya jiwa pragmatis, yang menyelesaikan masalah secara instan yang juga berdapak pada pola relasi keluarga. Apabila ada masalah dalam keluarga, maka dicarilah jalan penyelesaian dengan cara yang melanggar nilai pernikahan itu sendiri.

Renstra GKPI
Sadar akan realitas sosial yang berkembang demikian, serta memaknai tugas panggilannya sebagai gereja milik Tuhan yang ditempatkan di dalam dunia, maka Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) pada tahun 2019 menempatkan aspek komunitas melalui kehidupan keluarga sebagai salah satu program kerja pokoknya. Maka, kita (GKPI) selayaknyalah mengucap syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, Raja Gereja, karena atas kasih dan bimbingan-Nya maka GKPI dapat melaksanakan Tri Tugas yang diembannya (Apostolat, Pastorat dan Diakonat).

Sesuai dengan Road Map Renstra, untuk tahap I, Konsolidasi, GKPI telah melaksanakan pembenahan Organisasi dan staf (2016), Formasi Spiritual (2017) dan membentuk citra positif (tahun 2018). Dengan menindaklanjuti program tertinggal, kita (GKPI) menyambut program tahun 2019, yaitu "Membangun Komunitas". Dan dalam kaitan itu, secara bersama-sama sebagai sesama saudara akan merayakan ulang tahun GKPI ke-55.Semua itu kita lakukan adalah dalam rangka membangun komunitas GKPI sebagai keluarga Allah dimana semua warga GKPI terpanggil menjadi keluarga yang melakukan penyembahan dan persembahan kepada Allah.

Program Tahun 2019
a.Membangun Komunitas
Kata komunitas (community) berasal dari kata Latin communire (communio) yang berarti memperkuat. Dari kata itulah dibentuk istilah communitas yang artinya persatuan, persaudaraan, umat/jemaat, kumpulan, bahkan masyarakat. Dalam kata itu juga terkandung arti milik bersama dan untuk digunakan bersama.

Untuk tujuan memperkuat persaudaraan orang-orang percaya yang terhimpun di dalam Gereja maka kita berkewajiban untuk membangun komunitas di setiap Jemaat dengan melakukan beberapa hal penting sebagaimana digariskan dalam Penjelasan Road Map GKPI 2015-2020, sebagai berikut:

1.Mengubah paradigma berpikir
Mengubah paradigma berpikir warga Jemaat, dari konsep "Gereja sebagai Keluarga" menjadi "Keluarga sebagai Gereja". Konsep "Gereja sebagai Keluarga" sudah mengaburkan panggilan setiap anggota dalam skope sebagai Imamat Am Orang Percaya" (1 Ptr. 2:9). Tanggungjawab anggota menjadi tertutupi dimana anggota selalu menunggu dan bertanya, "apa yang diperbuat Gereja terhadap anggota", padahal dan yang seharusnya adalah "apa yang harus diperbuat setiap orang terhadap Gereja" dalam tugas pemberitaan, persekutuan dan pengajaran dan diakonia Gereja. Dengan paradigma baru "Keluarga Sebagai Gereja" maka setiap orang akan menyadari tanggungjawabnya mencapai visi GKPI, "Menjadi Persekutuan Penyembahan dan Persembahan kepada Yesus Kristus".

Sehubungan dengan itu maka Pimpinan Sinode GKPI menetapkan salah satu program GKPI tahun 2019 adalah melaksanakan bulan Keluarga di setiap Jemaat dan di semua aras GKPI. Kita harus sadar bahwa segala sesuatu dimulai dari keluarga. Pertumbuhan iman setiap keluarga adalah pertumbuhan Gereja itu sendiri. Oleh karena itu, pelaksanaan bulan Keluarga dimaksudkan untuk memperlengkapi orang-orang kudus untuk pembangunan tubuh Kristus (Ef.4:12), melalui kegiatan itulah kita membangun paradigma baru anggota supaya setiap orang memahami bahwa Gereja bukan gedungnya melainkan setiap orang percaya yang terhimpun di dalamnya, yaitu mereka yang menerima keselamatan dari Yesus Kristus. Keselamatan itu adalah anugerah yang harus disyukuri, disertai dengan tanggungjawab memuliakan Allah dengan melakukan penyembahan dan persembahan kepada Yesus Kristus. Melalui bulan Ibadah keluarga ini diharapkan setiap anggota turut ambil bagian dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Kristus, sebagai bagian dari persekutuan yang harmonis dan kasih dan berdiakonia.

2.Mengetahui dan memahami visi GKPI
Dalam Renstra (2015-2030) tertera visi GKPI "Menjadi Persekutuan Penyembahan dan Persembahan kepada Tuhan Yesus Kristus". Visi ini dapat terwujud bila semua warga (pelayan dan anggota) mengerjakannya, yaitu memberitakan Injil kepada semua orang secara terbuka sebagaimana itu pertama sekali dilakukan oleh Jemaat mula-mula. Persekutuan penyembahan dan persembahan kepada Tuhan Yesus Kristus merupakan anugerah Allah yang memberikan keselamatan, dan keselamatan itu terbuka kepada semua orang tanpa membedakan satu dengan yang lain. Sehingga, seiring dengan berjalannya waktu, terbuka peluang (kesempatan) bagi semua orang untuk bertobat dan ambil bagian membangun dirinya dengan sikap yang benar sebagai orang percaya, yaitu keberanian untuk mengemban tanggung jawab menjadi saksi Kristus, kerelaan berbagi dari apa yang dimiliki dan kesediaan untuk terus menerus memelihara integritas menjadi saksi Kristus (memberitakan berita pengampunan dan keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus).
3.Membentuk mind set komunitas

Membentuk mind set komunitas warga Jemaat sangat perlu. Mind set komunitas dapat terbangun jika komunikasi berjalan lancar untuk berbagi informasi sesuai dengan visi Gereja. Komunikasi dapat diusahakan dengan membentuk suatu wadah untuk bisa tetap berbagi informasi, baik dengan membuat tempat khusus, di partangiangan maupun melalui on line. Salah satu contoh. Selama ini mind set anggota Jemaat terbangun bahwa jabatan Pimpinan Sinode, Kepala Departemen, Korwil, Pendeta dan PHJ, Penatua adalah hierarki. Padahal semua warga Jemaat GKPI memiliki status yang sama di hadapan Tuhan dalam pemahaman "imamat Am Orang Percaya". Jabatan gerejani tidak terlepas dari 'fungsi' yaitu untuk memperlengkapi anggota Jemaat dalam membangun tubuh Kristus (Ef.4:11-12). Masih banyak contoh mind set anggota Jemaat yang kurang tepat yang perlu diluruskan sesuai dengan visi GKPI "Menjadi Persekutuan Penyembahan dan Persembahan kepada Tuhan Yesus Kristus".

4.Komunitas dibangun dengan cara:
- Mengenal, berkomunikasi dan memberi perhatian satu sama lain.

- Berbagi waktu, bakat dan kepemilikan.

- Bekerja bersama, arah tujuan bersama dan satu visi bersama.

- Menerima tanggungjawab untuk pertumbuhan komunitas

5.Membangun komunitas dengan pemberdayaan Jemaat dan dalam kasih
Gereja bukan hanya tempat menyarakan kasih tetapi juga untuk melakukan kasih itu. Setiap anggota yang terhimpun di dalamnya sama-sama bertanggungjawab membangun komunitas yang bertumbuh dalam kasih. Maka komunitas gerakan kasih mestinya menjadi jati diri dan kesadaran kita bersama sebagai umat Allah. Setiap anggota dipanggil untuk masuk dalam komunitas gerakan kasih yang melihat, menyapa, memperhatikan, mengenal, mengajak, pastoral dan mengarah kepada pembangunan "Komunitas yang Membangun Gereja dan memberdayakan Jemaat dengan kasih". Untuk pemberdayaan warga Jemaat perlu kajian dengan melakukan, sbb:

1.Studi. Mencari tahu ketidak berdayaan yang dialami warga Jemaat dan berkaitan dengan keterampilan.
2.Refleksi. Langkah ini menyoroti konteks dalam kesadaran berkomunikasi di dalam kasih.

3.Inspirasi. Langkah ini adalah membuat implikasi mengenai aspek-aspek yang perlu dalam proses pemberdayaan.

4.Eksperimentasi. Langkah ini adalah menuangkan pendekatan, model, bentuk atau gagasan solutif pemberdayaan.

5.Aksi. Langkah ini adalah membuat seluruh aksi praksis di lapangan.

Kelima poin di atas menjadi program yang harus dilakukan di semua aras GKPI tahun 2019. Pimpinan Sinode telah menjabarkannya dalam program Departemen Apostolat, Pastorat, diakonat dan Biro untuk dilaksanakan.

Penutup
Membangun komunitas adalah salah satu cara yang harus dilakukan untuk penguatan GKPI dalam melaksanakan tugas panggilannya. Komunitas Gereja adalah bila orang-orang percaya yang terhimpun di dalamnya hidup dalam firman Tuhan, persaudaraan yang rukun, saling berkomunikasi dalam kasih, terbuka, saling menolong dan bekerja sama mengemban tugas Gereja sesuai dengan fungsi masing-masing. Bila tugas itu dilakukan dengan kompak, kasih dan damai maka GKPI akan dapat menggapai visinya menjadi Persekutuan Penyembahan dan Persembahan kepada Tuhan Yesus Kristus.(d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments